29 September 2006

Menyambut Ramadhan: 13 Langkah Meraih Ramadhan Terindah

Ada 13 langkah pahala yang harus kita peroleh secara maksimal di bulan ramadhan.keseluruhannya adalah harapan akan keselamatan kita dunia dan di akhirat. Semoga kita dikuatkan Allah SWT untuk meraih Ramadhan terindah di tahun ini.

 

  1. Perbanyak Shalat

Shalat di bulan Ramadhan menyimpan pahala sangat besar. Dibulan ini,sholat sunnah bernilai shalat wajib, dan sholat wajib bernilai sama dengan minimal 70 kali sholat wajib bulan yang lain. Rasulallah saw bersabda: "barangsiapa yang sabar melakukan shalat 12 rakaat dalam satu hari satu malam, maka ia akan masuk surga." (HR An.Nasai). Rasulallah bersabda; " Barangsaiapa yang shalat dalam satu hari satu malam dua belas rakaat, selain shalat wajib, dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga."(HR Muslim)

 

  1. Tingkatkan Kualitas Puasa

Imam Ghazali dalam Ihya membagi bobot puasa menjadi 3.

1.               Puasa awam => yakni menahan makan, minum, syahwat kepada lawan jenis di siang hari dibulan puasa.

2.               Puasa Khawash, yaitu puasa anggota badan dari yang haram, menahan mata, dari yang haram, menahan tangan dari yang haram,menahan tangan dari yang tidak hak, menahan langkah kaki dari jalan menuju yang haram, manahan telinga dari mendengarkan yang haram termasuk ghibah.

3.               Ketiga adalah puasa Khawashul Khawash yaitu mengikat hati dengan kecintaan
pada Allah SWT, tidak memperhitungkan selain Allah, membenci prilaku maksiat
kepada-Nya.

 

  1. Jangan Sia-siakan waktu malam, Lakukan Qiyamul Lail.

Sebaik-baik nikmat setelah islam adalah nikmat menyendiri bersama Allah SWT. Berdiri dan berzikir di hadapan Allah jelas lebih baik dari tidur terlentang diatas kasur. Qiyamul lail adalah madrasah yang agung dari madrasah pembinaan diri. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali orang-orang yang ikhlas.

 

  1. Basahi lidahmu dengan Dzikrullah.

Dzikrullah adalah indikator hidupnya mati. Dzikrullah adalah peristirahatan bagi jiwa. Seorang Tabi'in mengatakan, "Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Orang yang belum memasuki surga dunia, tidak masuk ke dalam surga akhirat. Surga dunia itu adalah dzikrullah."

 

  1. Jangan ragu keluarkan Shadaqah.

Berinfaqlah. Dan jangan pernah takut miskin karena infaq, karena Allah pemilik Arsy tidak pernah kehabisan memberi kepada orang yang berinfaq. Diantara cahaya Shadqah: Allah SWT berfirman:"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (Menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."( QS.Albaqarah:245) Rasulallah saw bersabda:"Saya dan orang yang memelihara anak yatim di surga seperti ini."Rasul menunjukan dua jari, jari
tengah dan telunjuk (HR Ahmad). Dalam sebuat atsar disebutkan perkataan: Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan bersedekah" Malaikat berdoa setiap hari kepada Allah: "Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfaq. Ya Allah sempitkan (rizki) orang yang kikir."
Keuntungan:
-   Simpanan yang dipenuhi dengan kebaikan disis Allah SWT

-   Bertambahnya rizki di dunia. Dalam sebuah hadist Qudtsi, Allah SWT berfirman:

"Barangsiapa yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, akan Aku tulis untuknya
700 kali lipatan pahala."(HR Turmudzi) Dalam sebuah atsar disebutkan: "Berinfaqlah, maka Allah akan memberi infaq kepadamu."

 

  1. Jangan sia-siakan waktu, Bacalah Al Qur'an

Membaca Al Qur'an adalah ibadah paling utama di bulan Ramadhan.Bersungguh-sungguhlah mengkhatamkan AlQur'an lebih dari satu kali di bulan Ramadhan. Rasulallah bersabda: "Kalian tidak akan sampai pada puncak keimanan sampai tidak ada sesuatu yang lebih kamu cintai daripada Allah SWT. Dan barangsiapa yang mencintai Alqur'an maka Allah akan mencintainya."

 

  1. Taubat, sekarang juga

Taubat adalah penyesalan atas perilaku kemaksiatan, dan jauh dari mengulangi
dosa serta tekad untuk tidak mengulangi dosa serta tekad untuk tidak mengulanginya lagi. Semua kita memerlukan taubat setiap hari dari banyaknya dosa-dosa yang kita lakukan. Dalam Haditsnya Rasul SAW juga mengatakan, "Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu jengkal maka aku akan mendekatinya Satu Hasta. dan barangsiapa yang mendekatiKu satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Dan barangsiapa yang mendekatiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari."(HR Muslim)

 

  1. Bertahanlah untuk i'tikaf di dalam Masjid

I'tikaf adalah sunnah yang selalu dilakukan Rasulallah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan pada tahun terakhir ketika beliau wafat, Rasulallah melakukan i'tikaf selama 20 hari. I'tikaf adalah tinggal di masjid untuk beribadah, meninggalkan urusan dunia dan kesibukannya. Seorang yang i'tikaf tidak keluar dari masjid kecuali karena darurat.

 

  1. Ridhalah atas segala Ketetapan-Nya

Orang yang yang paling gembira di dunia adalah orang yang paling ridha dengan ketetapan Allah SWT. Keridhaan adalah tingkatan paling tinggi dari sifat sabar.

 

  1. Lapang Dada dan mudahlah memaafkan orang lain.

Termasuk indikator paling jelas dari sikap lapang dada dan mudah memaafkan adalah kemampuan menahan marah, terutama saat kita mampu melampiaskan kemarahan itu, sikap menahan marah merupakan sikap Nabi. Rasulallah saw bersabda: "Barangsiapa yang mampu menahan marah padahal ia bisa melampiaskan kemarahannya. Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan kepala para mahluk dan memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia ingini.

 

  1. Sambunglah Hubungan Baik dengan Siapapun.

Seperti wasiat Rasul saw, " Keutamaan yang paling utama adalah engkau menyambung hubungan yang baik dengan orang yang memutuskan hubungannya denganmu. Dan
menyalami orang yang mencacimu." (HR Ahmad)

 

  1. Bahagiakan Orang Tua

Kita sangat memerlukan orang yang mau belajar kembali bagaimana caranya berbakti kepada orang tua. Bagaimana caranya menyalami dan mencium tangan mereka? Bagaimana caranya membantu mereka? kita telah banyak menyia-nyiakan hak kedua orangtua. Dalam hadits riwayat muslim,Rasulallah saw bersabda,"Rugi dan bangkrutlah orang bertemu dengan kedua-orangtuanya saat mereka sudah tua-salah satu atau keduanya- tapi keadaan itu tidak bisa menyebabkannya masuk Surga."(HR Muslim)

 

  1. Serius meraih Lailatul Qadar

Malam yang paling mulia dalam satu tahun. Tidak ada keutamaan yang menyerupainya, ibadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan.Kapankah malam Lailatul qadar? sejumlah hadits menyebutkan nalam tersebut jatuh pada salah satu malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama malam-malam ganjil. Rasulallah saw bersabda:"Barangsiapa yang bangun di waktu malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu."(HR Bukhari)

Keuntungan:
-  Ampunan semua dosa yang telah lalu

-    Kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan berupa rizki dan keluarga yang shalih.

-    Kita bisa terbebas dari neraka karena malam ini.


Wassalam,

Azzam Al Faruqi

 

28 September 2006

Islam dan Jalan Pedang

Islam dan Jalan Pedang
Rosihon Anwar
Dosen Pascasarjana dan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
 

Belakangan ini, media banyak mewartakan protes para pemuka Muslim di dunia, atas pernyataan Paus Benediktus XVI bahwa Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam dengan kekerasan. Ini merupakan gambaran stigmatik sebagaian tokoh Barat tentang Islam. Gambaran stigmatik serupa pernah menyeruak ke permukaan dalam kasus poster Nabi Muhammad SAW. Tentu saja harus ada upaya pelurusan terhadap kekeliruan-keleliruan ini. Benarkah Islam disebarkan dengan pedang?


Tanpa pedang
Islam sesungguhnya disebarkan dengan dakwah, bukan dengan pedang. Perhatikan argumentasi historis berikut. Pertama, ketika berada di Makkah untuk memulai
dakwahnya, Nabi tidak disertai senjata dan harta. Kendati demikian, banyak pemuka Makkah seperti Abu Bakar, Utsman, Sa'ad ibn Waqqas, Zubair, Talhah,
Umar bin Khattab, dan Hamzah yang masuk Islam. Berkaitan dengan ini, Ustadz Al Aqqad, dalam buku 'Abqariyyah Muhammad, mengatakan bahwa banyak orang Makkah masuk Islam bukan karena tunduk kepada senjata.

Kedua, ketika Nabi dan para pengikutnya mendapat tekanan yang sangat berat dari kafir Quraisy, penduduk Madinah banyak yang masuk Islam dan mengundang
Nabi serta pengikutnya hijrah ke Madinah. Mungkinkah Islam tersebar di Madinah dengan senjata?

Ketiga, pasukan Salib datang ke Timur ketika Khalifah Bani Abbas berada dalam masa kemunduran. Tak diduga, banyak anggota pasukan Salib tertarik kepada Islam dan kemudian menggabungkan diri dengan pasukan Salib lainnya. Thomas Arnold, dalam Al Da'wah ila Al Islam, menyebutkan bahwa mereka masuk Islam setelah melihat kepahlawanan Salahuddin sebagai cerminan ajaran Islam.


Keempat, pada abad VII H (XIII M) pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu memporak-porandakan Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, beserta peradaban yang dimiliki Islam. Mereka menghancurkan masjid-masjid, membakar kitab-kitab, membunuh para ulama, dan serentetan perbuatan sadis lainnya. Tahun 1258 merupakan lonceng kematian bagi khilafah Abbasiyah. Akan tetapi, sungguh mencengangkan bahwa di antara orang-orang Mongol sendiri yang menghancurkan pemerintahan Islam ternyata banyak yang memeluk Islam.

Kelima, sejarah menjelaskan bahwa masa terpenting Islam adalah masa damai ketika diadakan perjanjian Hudaibiyah antara orang-orang Quraisy dan Muslimin yang berlangsung selama dua tahun. Para sejarawan pun mengatakan bahwa orang yang masuk Islam pada masa itu lebih banyak dibanding masa sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam banyak terjadi pada masa damai bukan masa peperangan.

Keenam, tidak ada kaitan antara penyebaran Islam dan peperangan yang terjadi antara Muslimin dan Persia serta Romawi. Ketika peperangan antara mereka berkecamuk dan orang-orang Islam memperoleh kemenangan kemudian peperangan berhenti, pada saat itu para dai menjelaskan bangunan, dasar, dan filsafah Islam. Dakwah Islam itu yang kemudian menyebabkan orang-orang non-Islam --terutama mereka yang tertindas oleh penguasa-- masuk Islam.

Fage Roland Oliver, dalam bukunya A Short History of Africa, menjelaskan bahwa Islam tersebar di Afrika justru ketika daulah-daulah Islam di sana telah runtuh. Islam tersebar di sana melalui peradaban, pemikiran, dan dakwah Islamiyah.

Ketujuh, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia, dan Afrika lewat orang-orang dari Hadramaut yang tidak didukung oleh harta dan penguasa, dan atau Islam diajarkan oleh orang-orang Indonesia yang berwatakkan Islam dalam kefakiran. Kedelapan, peneliti dunia Islam Jerman, Ilse Lictenstadter, dalam Islam and the Modern Age, mengatakan bahwa pilihan yang diberikan kepada Persia dan Romawi bukanlah antara Islam dan pedang, tetapi antara Islam dan jizyah (pembayaran pajak).

Motivasi perang
Kenyataan bahwa sejarah Islam diwarnai dengan peperangan merupakan fakta yang tidak dapat dibantah. Bila Islam disebarkan dengan dakwah, lalu kenapa
terjadi peperangan? Di antara motivasi peperangan dalam sejarah Islam adalah: Pertama, mempertahankan jiwa raga. Seperti disebutkan dalam sejarah, sebelum hijrah orang-orang Islam belum diizinkan untuk berperang. Padahal umat Islam memperoleh berbagai siksaan dan tekanan dari kafir Quraisy.`Ammar, Bilal, Yasir, dan Abu Bakar adalah di antara mereka yang mendapat perlakuan keras itu.

Ketika perlakuan kafir Quraisy semakin keras dan umat Islam meminta izin kepada Nabi untuk berperang, Nabi belum juga mengizinkan karena belum ada perintah dari Allah SWT. Namun, ketika Nabi beserta pengikutnya hijrah ke Madinah dan kafir Quraisy bertekad untuk membebaskan kota itu dari Islam, maka Allah SWT akhirnya --karena demi membela diri orang-orang Islam sendiri-- mengizinkan mereka berperang (QS Al Hajj [22]:37). Namun izin itu dikeluarkan dengan beberapa persyaratan seperti demi jalan Allah SWT, bukan demi harta atau prestise, mempertahankan diri, dan tidak berlebihan (QS Al-Baqarah [2]:190).

Data historis yang dapat dikemukakan berkaitan dengan hal di atas adalah penyebaran Islam ke Habsyi, sebuah kota yang tidak begitu jauh dari jazirah Arab dan kota yang pernah menjadi tujuan hijrah Nabi. Orang-orang Islam tidak pernah memerangi kota itu karena tidak mengancam keselamatan mereka. Bila penyebaran Islam dengan kekuatan, tentunya orang-orang Islam sudah menghancurkan kota itu. Seperti diketahui, umat Islam saat itu sudah memiliki angkatan laut yang cukup kuat.

Kedua, melindungi dakwah dan orang-orang lemah yang hendak memeluk Islam. Seperti diketahui bahwa dakwah Nabi memperoleh tantangan keras dari kafir
Quraisy Makkah. Mereka menempuh jalan apa saja untuk menghalanginya (QS al-Fath [48]:25). Banyak penduduk Makkah dan Arab lainnya bermaksud memeluk Islam, tetapi mereka takut terhadap ancaman itu. Allah lalu mengizinkan Rasul-Nya beserta pengikutnya untuk melindungi dakwah dengan cara berperang.

Ketiga, mempertahankan umat Islam dari serangan pasukan Persia dan Romawi. Keberhasilan dakwah Nabi dalam menyatukan kabilah-kabilah Arab di bawah
bendera Islam ternyata dianggap ancaman oleh penguasa Persia dan Romawi --dua adikuasa saat itu. Itu sebabnya, mereka mengumumkan perang dengan umat
Islam.

Tahun 629 M Nabi mengutus satu kelompok berjumlah 15 orang ke perbatasan Timur Ardan untuk berdakwah, tetapi semuanya dibunuh atas perintah penguasa
Romawi. Pada tahun 627 M Farwah bin Umar Al Judzami, gubernur Romawi di Amman, memeluk Islam. Untuk itu, ia mengutus Mas'ud bin Sa'ad Al Judzami menghadap Nabi untuk menyampaikan hadiah. Ketika berita itu sampai ke telinga 49 orang-orang Romawi, mereka memaksa Farwah untuk keluar dari Islam, tetapi paksaan itu ditolaknya. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya disalib. Atas alasan itu dan demi melindungi umat Islam dari serangan-serangan Romawi dan Persia berikutnya, Nabi kemudian mengumumkan perang.

Berdasarkan uraian tersebut, tidak ada satu ayat pun atau satu kejadian pun dalam sejarah permulaan Islam yang mengisyaratkan bahwa Islam disebarkan dengan peperangan (senjata). Peperangan yang terjadi hanyalah karena terpaksa untuk membela diri, melindungi dakwah dan kebebasan beragama, serta melindungi umat Islam dari serangan Romawi dan Persia.

Ikhtisar
- Pernyataan Islam disebarkan dengan pedang adalah stigma yang dibuat Barat terhadap Islam.
- Sejarah menunjukkan bahwa Islam selalu disebarkan lewat alan dakwah, pemikiran, dan kesantunan.
- Keterlibatan umat Islam dalam perang, selalu didorong oleh motivasi membela diri di jalan Allah SWT.

source : http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=265323&kat_id=16

27 September 2006

Pendiri Pesantren Pertama di Jawa Barat

Syekh Hasanuddin
Pendiri Pesantren Pertama di Jawa Barat

Menurut Babad Tanah Jawa, pesantren pertama di Jawa Barat adalah pesantren Quro yang terletak di Tanjung Pura, Karawang. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Hasanuddin, seorang ulama dari Campa atau yang kini disebut Vietnam, pada tahun 1412 saka atau 1491 Masehi. Karena pesantrennya yang bernama Quro, Syekh Hasanuddin belakangan dikenal dengan nama Syekh Quro.

Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin adalah putra Syekh Yusuf Sidik. Awalnya, Syekh Hasanuddin datang ke Pulau Jawa sebagai utusan. Ia datang bersama rombongannya dengan menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dalam perjalanannya menuju Majapahit.

Dalam pelayarannya, suatu ketika armada Cheng Ho tiba di daerah Tanjung Pura Karawang. Sementara rombongan lain meneruskan perjalanan, Syekh Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan menetap di kota ini.

Di Karawang, Syekh Hasanuddin menikah dengan gadis setempat yang bernama Ratna Sondari yang merupakan puteri Ki Gedeng Karawang. Di tempat inilah, Syekh Hasanuddin kemudian membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang khusus mengajarkan Alquran. Inilah awal Syekh Hasanuddin digelari Syekh Quro atau syekh yang mengajar Alquran.

Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut pesantrennya. Mereka antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, penguasa kerajaan Singapura, sebuah kota pelabuhan di sebelah utara Muarajati Cirebon. Puteri Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Sunda Pajajaran.

Kesuksesan Syekh Hasanuddin menyebarkan ajaran Islam adalah karena ia menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dan kekerasan. Begitulah caranya mengajarkan Islam kepada masyarakat yang saat itu berada di bawah kekuasaan raja Pajajaran yang didominasi ajaran Hindu.

Karena sifatnya yang damai inilah yang membuat Islam diminati oleh para penduduk sekitar. Tanpa waktu lama, Islam berkembang pesat sehingga pada tahun 1416, Syekh Hasanuddin kemudian mendirikan pesantren pertama di tempat ini.

Ditentang penguasa Pajajaran
Berdirinya pesantren ini menuai reaksi keras dari para resi. Hal ini tertulis dalam kitab
Sanghyang Sikshakanda Ng Kareksyan. Pesatnya perkembangan ajaran Islam membuat para resi ketakutan agama mereka akan ditinggalkan.

Berita tentang aktivitas dakwah Syekh Quro di Tanjung Pura yang merupakan pelabuhan Karawang rupanya didengar Prabu Angga Larang. Karena kekhawatiran yang sama dengan para resi, ia pernah melarang Syekh Quro untuk berdakwah ketika sang syekh mengunjungi pelabuhan Muara Jati di Cirebon.

Sebagai langkah antisipasi, Prabu Angga Larang kemudian mengirimkan utusan untuk menutup pesantren ini. Utusan ini dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa. Namun baru saja tiba ditempat tujuan, hati Raden Pamahan Rasa terpesona oleh suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Nyi Subang Larang.

Putra mahkota yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu dengan segera membatalkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Ia justru melamar Nyi Subang Larang yang cantik. Lamaran tersebut diterima oleh Nyi Santri dengan syarat maskawinnya haruslah Bintang Saketi, yaitu simbol "tasbih" yang ada di Mekah.

Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Karancang pun kemudian dilakukan di Pesantren Quro atau yang saat ini menjadi Masjid Agung Karawang. Syekh Quro bertindak sebagai penghulunya.

Menyebar santri untuk berdakwah
Tentangan pemerintah kerajaan Pajajaran membuat Syekh Quro mengurangi intensitas pengajiannya. Ia lebih memperbanyak aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah.

Sementara para santrinya yang berpengalaman kemudian ia perintahkan untuk menyebarkan Islam ke berbagai kawasan lain. Salah satu daerah tujuan mereka adalah Karawang bagian Selatan seperti Pangkalan lalu ke Karawang Utara di daerah Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam penyebaran ajaran Islam ke daerah baru, Syekh Quro dan para pengikutnya menerapkan cara yang unik. Antara lain sebelum berdakwah menyampaikan ajaran Islam, mereka terlebih dahulu membangun Masjid. Hal ini dilakukan Syekh Quro mengacu pada langkah yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu beliau terlebih dahulu membangun Masjid Quba.

Cara lainnya, adalah dengan menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan dakwah bil hikmah. Hal ini mengacu pada AlQuran surat An Nahl ayat 125, yang artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik."

Sebelum memulai dakwahnya, Syekh Quro juga telah mempersiapkan kader-kadernya dengan pemahaman yang baik soal masyarakat setempat. Ini dilakukan agara penyebaran agamanya berjalan lancar dan dapat diterima oleh masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi kesuksesan dakwah Syekh Quro yang sangat memperhatikan situasi kondisi masyarakat serta sangat menghormati adat istiadat penduduk yang didatanginya.

Selama sisa hidup hingga akhirnya meninggal dunia, Syekh Quro bermukim di Karawang. Ia dimakamkan di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemah Abang, Karawang. Tiap malam Sabtu, makam ini dihadiri ribuan peziarah yang datang khusus untuk menghadiri acara Sabtuan untuk mendoakan Syekh Quro.

Belakangan masjid yang dibangun oleh Syekh Quro di pesantrennya, kemudian direnovasi. Namun bentuk asli masjid -- berbentuk joglo beratap dua limasan, menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon -- tetap dipertahankan.

republika.

( uli/berbagai sumber )

26 September 2006

Mengenal dan menghitung fidyah

H. Abdurrahman, Lc dan HM. Suharsono, Lc

Salah satu problema yang dihadapi para wanita dalam pelaksanaan ibadah puasa adalah ketika mereka hamil dan ketika mereka menyusui. Maka para ulama dalam hal ini telah memberikan porsi yang sangat luas.

Dalam hal ini para ulama telah memberikan pendapat yang beragam yang menunjukan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Namun yang menjadi kesepakatan mereka adalah bahwa para wanita yang hamil dan menyusui berhak untuk berbuka.

Berdasarkan hadits Nabi SAW yang berbunyi, ?Sesungguhnya Allah mencabut puasa dan separuh shalat bagi musafir, dan mencabut puasa dari wanita hamil dan menyusui? (HR. Ibnu Majah).

Yang menjadi pertanyaan adalah : apakah mereka (Wanita hamil dan menyusui) diperlakukan sebagai orang sakit biasa, sehingga mereka diwajibkan mengqadha sebanyak hari−hari yang ditinggalkan pasca Ramadhan setelah kehamilan dan masa menyusuinya berakhir ? ataukah mereka diperlakukan seperti kakek tua renta dan nenek yang sudah lemah serta seperti orang yang sakit menahun?

Yang diwajibkan bagi mereka hanya membayar fidyah tanpa mengqadha puasa yang telah lewat? dari pertanyaan inilah pendapat ulama menjadi beragam. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Said bin Zubair dari kalangan sahabat dan Ibnu Sirrin,
2. AlQasim bin Muhammad, Qatadah dan Ibrahim dari kalangan Tabiin berpendapat, mereka boleh berbuka dan sebagai gantinya dengan membayar fidyah.
3. Kalangan Mazhab Syafii dan Hambali berpendapat jika yang dikawatrikan anaknya saja maka wajib baginya membayar qadha dan fidyah, namun apabila yang dikawatirkan dirinya atau dirinya dan anaknya maka cukup bagi dia hanya membayar qadha.
4. Kalangan mazhab Hanafi berpendapat cukup baginya hanya qadha.

Syeikh DR. Yusuf Qardhawi dalam pendapatnya beliau lebih menguatkan pendapat yang pertama yaitu yang mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui hanya diwajibkan membayar fidyah. Namun beliau memberikan catatan bagi wanita yang hanya punya anak satu atau dua mereka lebih baik mengqadha sebagaimana pendapat yang kedua.

Kesimpulan ketentuan hukum ini didasarkan pada Muruatun Takhfif (Memperhatikan peringanan) dan Raful Masyakkah zidah (Mengangkat Kesulitan yang berlebihan). Karena itu apabila Masyakkah (Kesulitan) itu berakhir, maka hukum asal tetap berlaku. Artinya tetap mengqadha.

Teknis dan Harga Pembayaran

Untuk harga pembayaran adalah satu kali makan dalam satu hari, karena ukuran satu Fidyahnya 2 mud atau 2,5 liter. Dan mengenai teknisnya sebaiknya setiap hari berbuka digantikan satu kali makan orang miskin.

Dan apabila merasa repot atau sibuk untuk membayar setiap hari pembayarannya bisa diakumulasikan sesuai dengan perkiraan berapa hari berbuka. (cyp/pkpu)

25 September 2006

Seorang Muslimah Berhias Diri

Berhias adalah hal yang lumrah dilakukan oleh seorang manusia, entah lelaki atau wanita bahkan banci. Islam sebagai agama yang sesuai dengan naluri manusia tentu saja tidak menyepelekan masalah berhias.Sehingga masalah berhias ini tentu saja sudah di bahas dalam syariat Islam. Sehingga berhias ini bisa menjadi amal shaleh ataupun amalan salah, tergantung sikap kita mau atau tidak mengindahkan kaedah syariat tentang berhias.

Kaedah pertama: Hendaknya cara berhias itu tidak dilarang dalam agama

Kaedah kedua: Tidak mengandung penyerupaan diri dengan orang kafir

Kaedah ketiga: Jangan sampai menyerupai kaum lelaki dalam segala sisinya.

Kaedah keempat: Jangan berbentuk permanen sehingga tidak hilang seumur hidup

Kaedah kelima: Jangan mengandung pengubahan ciptaan Alloh Azza wa Jalla.
Kaedah keenam: Jangan mengandung bahaya terhadap tubuh.

Kaedah ketujuh: Jangan sampai menghalangi masuknya air ke kulit, atau rambut terutama yang sedang tidak berhaid

Kaedah kedelapan: Jangan mengandung pemborosan atau membuang-membuang uang.

Kaedah kesembilan: Jangan membuang-buang waktu lama dalam arti, berhias itu menjadi perhatian utama seorang wanita

Kaedah kesepuluh: Penggunaannya jangan sampai membuat si wanita takabur, sombong dan membanggakan diri dan tinggi hati dihadapan orang lain

Kaedah kesebelas: Terutama, dilakukan untuk suami. boleh juga ditampakkan dihadapan yang halal melihat perhiasannya sebagaimana difirmankan oleh Alloh Azza wa Jalla dalam Al-Qur''an ayat 31 dari surat An-Nur

Kaedah keduabelas: Jangan bertentangan dengan fitrah

Kaedah ketigabelas: Jangan sampai menampakan aurat ketika dikenakan

Kaedah keempat belas: Meskipun secara emplisit, janggan sampai menampakan postur wanita bagi laki yang bukan mukhrim.

Kaedah kelima belas: Jangan sampai meninggalkan kewajibannya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian wanita pada malam penggantin mereka atau pada berbagai kesempatan lainnya

22 September 2006

ISLAM tontonan, MASYA ALLAH

Seorang Ulama tua, hanya bisa prihatin, lalu bermunajat kepada Allah swt. "Tuhan, kini Islam yang kami lihat di media massa, bukan lagi Islam Tuntunan, tetapi Islam Tontonan?" Itulah munajat Kyai tua, dan tokoh Ulama yang barangkali mewakili ribuan suara Ulama dan Kyai di Indonesia, Prof KH Aly Yafi, ketika memperingati kemerdekaan RI menurut kalender Hijriyah, bertepatan di bulan suci Ramadlan lalu.

Selama bulan suci Ramadlan lalu, ada fenomena unik yang sangat menjemukan dan memuakkan. Pada sepertiga malam terakhir, biasanya ummat Islam sangat khusyu' beribadah, memohon ampunan, bertasbih, berdzikir dalam Qiyamullail serta tadarrus. Tetapi lepas tengah malam, jutaan ummat Islam bangun, bukan untuk mengahadap Tuhan, tetapi untuk menghadap TV dengan berbagai pilihan channel acara Ramadlan. TV telah menjadi berhala baru bagi mereka, karena sesungguhnya bukan mereka mendalami agama atau mendengarkan ceramah para Ustadznya, namun hanya ingin menonton entertainment dalam jubah agama. Bahkan acara paling bermutu dari kajian Tafsir Al-Qur'an Prof Quraish Shihab, rating penontonnya paling rendah, padahal acara tersebut paling bermutu dari segi kualitasnya dibanding acara-acara lainnya.

Apakah Islam di negeri ini sudah banyak digiring dan ditentukan oleh para produser TV dan media massa? Bukan ditentukan alurnya oleh para Ulama? Apakah Islam harus mengikuti jalannya industri kapitalisme media, kemudian membangun imaje bahwa life style Islam adalah sebagaimana sosok-sosok di media itu? Politik media macam apakah yang telah merangsek ajaran Islam dan cakrawala Islam di negeri ini? Siapakah yang menjadi Imam ummat? Ulama? Artis? Mubaligh Panggungan? Ustadz Teaterikal? Selebritis? Merinding bulu kudhuk kita, ketika mendengar dan melihat fakta tontonan agama di media massa. Tetapi memang, agama paling empuk, paling ramai di pasar dunia, paling mudah untuk dimanupulasi, paling gampang untuk dagangan, paling kuat untuk dijadikan legitimasi apa pun, hingga cap halal haram untuk sebuah produk.

Ini semua salah siapa? Apakah ummat mengalami kebosanan, kejenuhan, kehilangan simpati kepada para Ulamanya, para Ustadznya? Lalu beralih pada "Islam Hiburan, Islam Tontonan, Islam Tangisan, Islam Lawakan, Islam Horor, Islam Ruqyahan, Islam Kuburan, Islam Blatungan, Islam?" entah apalagi namanya, yang mengekploitir emosi penonton, untuk sebuah industri ketakutan dan kegembiraan.

Ataukah para kapitalis media sangat gemes dengan potensi empuk agama untuk dijadikan mesin uang? Barangkali saling kerjasama antara para ustadznya untuk saling menguntungkan melalui bisnis agama ini? Inilah yang disinggung sejak lama oleh Al-Ghazaly, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan zaman semacam ini pernah diprediksi Kanjeng Nabi SAW.

"Nafsu dibalik kemaksiatan itu sudah jelas. Tetapi nafsu dibalik ketaatan (ibadah) itu tersembunyi. Terapinya sangat sulit, karena bedanya sangat tipis," kata Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam al-Hikam. Inilah yang pernah diperingatkan secara keras oleh Abul Hasan asy-Syadzily, seorang Sulthan Auliya di zamannya, ketika menafsiri ayat, "Rasul tidak pernah berkata dengan dorongan nafsu, melainkan karena wahyu yang diwahyukan?" maka, siapa pun jangan merasa senang manakala kata dan ucapannya di "iya"kan oleh pendengar, tetapi senanglah kalian kalau Allah meng"iya"kan hatimu.

Jika seorang penceramah, seorang Ustadz bicara di depan publik, dan publik menyambut dengan rasa simpati atas apa yang dikatakan Ustadz, lalu sang Ustadz gembira karena pandangannya mendapat dukungan, berarti sang Ustadz itu berbicara karena dorongan hawa nafsunya. Sang ustadz bukan gembira, karena Allah membenarkan kata-katanya, tetapi gembira karena pendengar membenarkan ucapannya.

Seluruh gerakan "Islam Tontonan" hanya mengekploitasi simpati penonton, pembenaran pemirsa, kesenangan pembaca, kenikmatan penyimak. Nafsu penonton, penyimak dan pemirsa, adalah ladang bagi industri komunikasi, apalagi agama, yang dianut oleh semua orang.

Kita tidak usah terlalu menyudutkan media, karena memang media itu industri, yang ingin mengeruk keuntungan yang besar. Mari kita tengok para pelaku, para Ustadz, para sosok yang mewakili Islam disitu. Apakah mereka tidak risih dijadikan tontonan ummat? Dijadikan bahan tawaan ummat? Dijadikan pelampiasan emosi semu dari kegersangan ummat? Apakah mereka tidak pernah mendengar jika umat memunculkan sejumlah kata-kata, "Ayok kita nonton Ustadz A?. Ayuk kita nonton Aa' B, ayuk kita lihat Ustadz J, ?" Sama sekali tidak ada bau tuntunan dari kata yang terucap. Lalu sekian program dieksploitasi. Misalnya Ustadz A atau B atau J, bisa dijual segi kehidupan sehari-harinya, keluarganya, seni suaranya, deklamasinya, airmatanya, dan sebagainya.

Islam Tontonan juga telah memenuhi judul-judul sinetron. Seperti Rahasia Ilahi, Hidayah, Sakaratul Maut, Takdir Ilahi, Taubat, Misteri Dua Dunia, yang hampir mengaduk-aduk dunia kuburan untuk industri sineas ini. Islam begitu memuakkan dimata anak-anak, begitu mengerikan dan horror dimata orang luar, sedemikian memuntahkan dimata ummat sendiri. Lalu bermunculan Nama-nama Allah untuk dijadikan industri sineas, seperti Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah?.dll.

Lalu Ruqyah, okh sangat memilukan. Apakah pemahaman ruqyah sebegitu dangkal seperti di media dan TV itu? Coba pemirsa melihat bagaimana anda menatap para peruqyah itu, apakah ada Cahaya Ilahi yang muncul dari keikhlasan jiwanya? Apakah Islami seperti tontonan Ruqyah itu? Itu
Ruqyah atau Riya'ah? Islam Tontonan juga telah membangun imej, bahwa menjadi Ustadz, Da?i, Mubaligh, adalah karir dan professi, lalu muncullah perlombaan jadi Da?i, Pildacil, jangan-jangan ada lomba jadi Kyai...

Gara-gara Formalisme?
Menurut telaah, kenapa Islam Tontonan ini muncul begitu kuat? Sejak kata-kata Islam phobia mulai menyingkir di negeri ini, muncullah Islamisasi diberbagai bidang dalam landskap dan mosaik keseharian, saling tarik menarik antara kepentingan politik, kepentingan semangat agama, dan kebodohan akan agama itu sendiri yang merajai manusia-manusia kota yang konon lebih senang disebut manusia terpelajar.

Semangat formalisme Islam, membuat ummat Islam tergila-gila dengan lambang serba Islam, serba Syariat, jargon serba ummat, disatu sisi lebih merasa terpuaskan oleh rasa bangga, bila Islam ditonton oleh banyak orang, "Inilah Islam!". Tetapi, kita semua tahu, karena "Inilah Islam!" terorisme ada dimana-mana, Islam garis keras memanfaatkan momentum maksiat untuk bisa eksis di media massa. Kebiadaban atas nama Islam macam mana lagi ini? Bukankah kita hanya memetik kemunafikan demi kemunafikan ketika meneriakkan Islam sementara hati kita kosong, hati kita kering, jiwa kita sendiri yang sangat menjijikkan untuk divisualkan? Islam Tontonan adalah salah satu dari sekian teater Akhir Zaman Edan. Karena Islam Tontonan adalah
wujud lain dari Riya' yang maniak, Riya' yang didukung teknologi, Riya' yang dibungkus nama-nama Tuhan, Riya' yang menumpuk sampah kebanggaan, Riya' yang membangun lapisan kebodohan, Riya' yang menghancurkan agama dari pahalanya dari dalam. Islam Tontonan hanyalah harum di permukaan, anyir dan membusuk dari batin di kedalaman.

Islam Tontonan sesungguhnya adalah sampah, yang muncul dari limbah sejarah klarifikasi ad-Din al-Haq. Allah mengumpulkan limbah ini, agar mudah dibersihkan dari jiwa ummat. Islam tontonan sebagaimana dalam Al-Qur'an, "adalah mereka yang tersesat perjalanan hidupnya di dunia dan menduga apa yang mereka lakukan itu adalah perilaku yang baik." (Al-Kahfi)

Itulah tema paling mutakhir abad kita, Islam di tengah-tengah kelemahan para Ulamanya, para Ustadznya, para Kyainya, bertemu dengan kebodohan dan ketololan para ummat yang mengikutinya, lalu dijadikan industri empuk tontonan para kapitalisnya, Entertainment Nafsu Agama. Masya Allah!

 

21 September 2006

Menyambut Ramadhan: Bersikap Dermawan di Bulan Ramadhan

Sifat dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Cukup lah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah swt telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan. Kalau lah tidak karena kedermawanan Allah, kita pasti tidak memiliki apa-apa, tidak kesejahteraan, tidak pula ketentraman. Dermawan juga merupakan sifat para Nabi, para sahabat, serta orang-orang saleh.


Seorang yang dermawan akan ditutupi Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Seorang penyair Arab pernah mengatakan "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".


Dermawan artinya rela berkorban di jalan Allah dengan harta atau bahkan jiwa dan raga. Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, bantuan dana pembangunan masjid, sumbangan ke sekolah; ke pasantren; panti asuhan, dan juga termasuk membantu para pengungsi, korban perang dan lain sebagainya. Derwaman merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.


Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah
surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.

 

"Dan mereka ber-itsar (mengutamakan orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan."


Konon ayat ini turun pada seorang sahabat yang dimintai Rasulullah agar bersedia menerima seorang tamu untuk bermalam dirumahnya. Karena rasa hormat sahabat tersebut kepada Rasulullah, maka diterimanya tamu tersebut, padahal ia menyadari tidak memiliki apapun untuk disuguhkan kecuali makan malam yang pas-pasan untuk keluarganya. Sahabat tersebut bersama isterinya lalu meninabobokkan anak-anak mereka hingga mereka tertidur sebelum makan malam, lalu dipadamkannya lampu ruangan sebelum mereka menyuguhkan makan malam kepada sang tamu. Lalu ia duduk bersama tamu berpura-pura ikut menyantap makanan, padahal ia tidak ikut makan karena khawatir akan sedikitnya makanan yang disuguhkan. Pagi harinya Allah mengabadikan sifat kedermawaan sahabat tersebut dalam ayat diatas untuk diingat dan dijadikan suri teladan umat Islam bahwa betapa mulianya sifat dermawan ini.


Kedermawanan seseorang akan menunjukkan keberanian dalam dirinya, karena ia tidak merasa takut akan kehilangan apa yang ia berikan kepada orang lain. Kedermawanan juga mencerminkan iman yang kuat dan kokoh, karena ia yakin bahwa apa yang diberikannya kepada orang lain niscaya akan mendapatkan ganti dari Allah. Inilah apa yang telah dijanjikan oleh Al Qur'an:

 

"Dan apa yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) pasti menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya" ( Q.S. Saba' : 34). Dalam sebuah hadis Rasulullah juga bersabda "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan sorga. Sedangkan orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka".


Kedermawan yang dianjurkan adalah yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridlaan Allah. Inilah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah swt.

 

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendakiNya. Allah maha luas karuniaNya dan lagi maha mengetahui" (al-Baqarah:261).


Di bulan Ramadan ini, patut kita menggugah diri, dengan kacamata kedermawanan untuk menaruh perhatian kepada saudara-saudara kita yang kebetulan bernasib kurang baik. Saudara-saudara kita: yang kelaparan, yang sakit, yang putus sekolah, yang kehilangan pekerjaan dan yang terlunta-lunta di pengungsian. Mereka menantikan uluran tangan, namun sering kita enggan untuk memberikan apa yang labih dari harta yang kita miliki. Puasa kita dengan meninggalkan makan dan minum seharian, tentu mengingatkan kita kepada saudara-saudara kita yang kelaparan dan kehausan, karena kemiskinan dan penderitaan mereka.


Di bulan Ramadan ini, kita selayaknya juga meningkatkan rasa kedermawanan kita sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadan diibaratkan melebihi kedermawanan hembusan angin yang membawa hujan, kesejukan dan kehidupan bagi alam semesta. ( H.R. Muslim).


(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam")

20 September 2006

Amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan

  Amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan

1. Membaca Al-Quran.  

2. Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi. 

3. Berdo'a ketika berbuka puasa.  

4. Qiyamullail (Tahajjud ) 

5. Berlomba-lomba dalam bersedakah

6. I`tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan   

7. Menjauhi Larangan Agama.
  
 

KULLU AAM WA ANTUM BI KHAIR


 

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan

 

19 September 2006

SURAT AL MULK AYAT 1

Posting  : Senin; 04/09/06
Edisi      : Kajian Islam
Sumber :
tarbiyah@isnet.org
 
                 
            
   SURAT AL MULK AYAT 1
 
Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
 
   "Maha suci Allah Tuhan yang memegang tampuk kerajaan (seluruh alam) dan Dia Maha Berkuasa di atas segala sesuatu"  (Al-Mulk ayat 1)          
   
Yang menjadi kunci pembicaraan dari seluruh ayat dalam surat Al-Mulk dan yang menjadi fokus utama dari dinamika yang ada pada surat ini adalah ayat permulaannya yang padat dan penuh memberi ilham.
 
Dari hakekat memegang tampuk kerajaan alam dan hakikat qudrat itulah
- terbitnya penciptaan hidup dan mati,
- terbitnya ujian manusia dengan hidup dan mati tersebut,
- terbitnya penciptaan langit,
- terbitnya penciptaan bintang-bintang yang menjadi hiasan dan pelita langit
  dan menjadi peluru yang merejam syaithon,
- terbitnya penciptaan dan penyediaan neraka Jahannam dengan segala sifat dan
  rupanya, dengan segala pengawal dan penjaganya,
- terbitnya sifat ilmu ALlah yang mengetahui segala yang sulit dan segala yang
  nyata,
- terbitnya penciptaan bumi dengan yang serba mudah kepada manusia,
- terbitnya tindakan ditelah bumi, dihujani ribut batu dan siksaan terhadap
  pendusta-pendusta di jaman lampau,
- terbitnya kemantapan penerbangan burung-burung di langit,
- terbitnya sifat kekuasaan dan keagungan-Nya,
- terbitnya pemberian rezeki mengikuti iradat-Nya,
- terbitnya penciptaan manusia dan pengurniaan nikmat pendengaran, penglihatan,
  dan hati nurani,
- terbitnya hidup manusia di bumi dan perhimpunan mereka di Mahsyar,
- terbitnya ikhtisas ALlah dengan pengetahuan Akhirat,
- terbitnya azab kepada orang -orang kafir dan
- terbitnya nikmat air yang menjadi puncak kehidupan, dan terbitnya kehilangan
  air apabila dikehendaki oleh Allah.
 
Seluruh hakekat dan pembicaraan-pembicaraan surah ini, khususnya dari ayat pertama, mengandung pengertian yang amat lengkap dan besar. Hakekat-hakekat dan sasaran-sasaran surat ini dikemukakan berturut-turut dalam rangkaian ayat-ayat itu. Ayat-ayat berikutnya tak henti-hentinya terfokus dalam menjelaskan ayat pertama yang ringkas tapi menyeluruh itu. Inilah yang menyebabkan sulit untuk membagi-bagikan hakekat-hakekat itu kepada bagian-bagian dan lebih elok jika hakekat-hakekat itu diteliti dalam rangkaian ayat-ayat itu.
     
       "Maha Suci Tuhan yang memegang tampuk kerajaan (seluruh alam) dan Dia Maha Berkuasa di atas segala sesuatu." [Al-Mulk ayat 1]
    
Ucapan tasbih di permulaan surah ini menyarankan keberkatan yang melimpah ruah dan mengagung-agungkan sebutan kerajaan seluruh alam. Ucapan tasbih itu menyarankan kelimpahan keberkatan Ilahi di atas kerajaan itu di samping mengagung-agungkan keberkatan itu setelah mengagung-agungkannya pada zat Ilahi. Ucapan tasbih itu merupakan sebuah lagu yang bergema merata di pelosok alam dan memenuhi setiap hati yang wujud. Hal ini bertolak dari firman Allah dalam Al-Qur'an Karim dari kitab luh Mahfuz yang tersembunyi menuju ke
alam yang diketahui umum.
     
"Maha Suci Tuhan yang memegang tampuk kerajaan (seluruh alam)",
     
[ayat1], yakni Allah itulah yang memiliki kerajaan seluruh alam semesta. Allah itulah yang memegang terajunya dan mengendalikannya. Ini adalah suatu hakekat.Dan apabila hakekat itu menetap dalam hati nurani seseorang ia akan menentukan haluannya dan kesudahannya. Ia akan membebaskannya dari bertujuh sampai ia membebaskannya dari perhambaan dan penyembaan kepada yang lain dari ALlah pemilik dan empunya seluruh alam yang tunggal.
     
"Dan Dia Maha Berkuasa di atas segala sesuatu,"
     
[ayat 1], yakni tiada sesuatu yang dapat melemahkanNya atau luput dariNya. Tiada sesuatu yang mampu menghalangi iradatNya dan membebaskan kehendakNya. Dia mencipta apa saja yang Dia sukai. Dia bertindak mengikut apa saja yang dikehendakiNya. Dia Maha Berkuasa di atas apa yang dikehendakiNya dan Dia menguasai segala urusanNya. IradatNya tidak tergantung kepada mana-mana batas
dan ikatan.
 
Apabila hakikat ini menetap di dalam hati nurani seseorang ia akan membebaskan kefahaman tentang ALlah dan tindakanNya dari ikatan-ikatan yang biasa ditanggapkan oleh panca-inderanya, aqalnya dan daya khayalnya. Qudrat Allah itu meliputi segala apa yang terlintas di dalam hati manusia. Ikatan-ikatan yang mengokong kefahaman manusia dengan sebab kejadian mereka yang terbatas itulah yang menjadikan manusia terkongkong kepada kebiasaan-kebiasaan mereka apabila mereka menilai suatu perubahan dan pertukaran yang diduga mereka mengenai hal-hal di balik masa sekarang dan hal-hal di balik kenyataan yang terbatas. Hakikat Qudrat ini membebaskan
manusia dari segala belenggu itu. Dan hendaklah kita senantiasa menyakini bahwa Allah berkuasa melakukan segala sesuatu tanpa batas dan hendaklah kita menyerahkan segala sesuatu kepada kekuasaan ALlah tanpa sebarang ikatan, dan hendaklah kita bebas dari ikatan masa sekarang dan dari ikatan kenyataan yang terbatas.
 
================================
insya ALlah bersambung....[ayat 2]
 
Rujukan:
1. Fii Dhilalil-Qur'an oleh Sayyid Quthb
2. The Meaning of the Qur'an oleh Abul A'la Maududi
3. Bahan Tarbiyah MISG USA & Canada vol.1
 
Wa billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Saudaramu se-Islam
------------
tarbiyah@isnet.org
 

18 September 2006

TAFSIRAN AYAT-AYAT TENTANG PUASA

 

Allah Ta'ala berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kama agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui "(Al-Baqarah: 183-184)

Allah berfirman yang ditujukan kepada orang-orang beriman dari umat ini, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah.

Allah menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hal yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat teladan. Maka, hendaknya mereka berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Tafsir Ibn Katsir, 11313.)

 

Lalu, Dia memberikan alasan diwajibkannya puasa tersebut dengan menjelaskan manfaatnya yang besar dan hikmahnya yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah, Yakni dengan meninggalkan nafsu dan kesenangan yang dibolehkan, semata-mata untuk mentaati perintah Allah dan mengharapkan pahala di sisi-Nya. Agar orang beriman termasuk mereka yang bertaqwa kepada Allah, taat kepada semua perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan dan segala yang diharamkan-Nya. (Tafsir Ayaatul Ahkaam, oleh Ash Shabuni, I/192.)

 

Ketika Allah menyebutkan bahwa Dia mewajibkan puasa atas mereka, maka Dia memberitahukan bahwa puasa tersebut pada hari-hari tertentu atau dalam jumlah yang relatif sedikit dan mudah. Di antara kemudahannya yaitu puasa tersebut pada bulan tertentu, di mana seluruh umat Islam melakukannya.

Lalu Allah memberi kemudahan lain, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. " (Al-Baqarah: 184)

Karena biasanya berat, maka Allah memberikan keringanan kepada mereka berdua untuk tidak berpuasa. Dan agar hamba mendapatkan kemaslahatan puasa, maka Allah memerintahkan mereka berdua agar menggantinya pada hari-hari lain. Yakni ketika ia sembuh dari sakit atau tak iagi melakukan perjalanan, dan sedang dalam keadaan luang. (Lihat kitab Tafsiirul Lat'nifil Mannaan fi Khulaashati Tafsiiril Qur'an, oleh Ibnu Sa'di, hlm. 56.)

 

Dan firman Allah Ta 'ala :

"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain." (Al-Baqarah : 184)

Maksudnya, seseorang boleh tidak berpuasa ketika sedang sakit atau dalam keadaan bepergian, karena hal itu berat baginya. Maka ia dibolehkan berbuka dan mengqadha'nya sesuai dengan bilangan hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari lain.

Adapun orang sehat dan mukim (tidak bepergian) tetapi berat (tidak kuat) menjalankan puasa, maka ia boleh memilih antara berpuasa atau memberi makan orang miskin. Ia boleh berpuasa, boleh pula berbuka dengan syarat memberi makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Jika ia memberi makan lebih dari seorang miskin untuk setiap harinya, tentu akan lebih baik. Dan bila ia berpuasa, maka puasa lebih utama daripada memberi makanan. Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radhiallahu 'anhum berkata: "Karena itulah Allah berfirman :

"Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. " (Tafsir Ibnu Katsir; 1/214)

Firman Allah Ta 'ala :

"(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Al-Baqarah: 185).

Allah memberitahukan bahwa bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa bagi mereka itu adalah bulan Ramadhan. Bulan di mana Al-Qur'an –yang dengannya Allah memuliakan umat Muhammad-diturunkan untuk pertama kalinya. Allah menjadikan Al-Qur'an sebagai undang-undang serta peraturan yang mereka pegang teguh dalam kehidupan. Di dalamnya terdapat cahaya dan petunjuk. Dan itulah jalan kebahagiaan bagi orang yang ingin menitinya. Di dalamnya terdapat pembeda antara yang hak dengan yang batil, antara petunjuk dengan kesesatan dan antara yang halal dengan yang haram.

Allah menekankan puasa pada bulan Ramadhan karena bulan itu adalah bulan diturunkannya rahmat kepada segenap hamba, Dan Allah tidak menghendaki kepada segenap hamba-Nya kecuaii kemudahan. Karena itu Dia membolehkan orang sakit dan musafir berbuka puasa pada hari-hari bulan Ramadhan (Tqfsir Ayarul Ahkam oleh Ash Shabuni, I/192), dan memerintahkan mereka menggantinya, sehingga sempurna bilangan satu bulan. Selain itu, Dia juga memerintahkan memperbanyak dzikir dan takbir ketika selesai melaksanakan ibadah puasa, yakni pada saat sempurnanya' bulan Ramadhan. Karena itu Allah berfirman :

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kama bersyukur. " (Al- Baqarah: 185).

Maksudnya, bila Anda telah menunaikan apa yang diperintahkan Allah, taat kepada-Nya dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalkan segala yang diharamkan serta menjaga batasan-batasan (hukum)-Nya, maka hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur karenanya. ')" (Tafsir Ibnu Karsir, 1/218)

Lalu Allah berfirman :

"Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo 'a apabila ia memohon Kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah:186)

Sebab Turunnya ayat :

Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita dekat sehingga kita berbisik atau jauh sehingga kita berteriak (memanggil-Nya ketika berdo'a)?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hanya terdiam, sampai Allah menurunkan ayat di atas. ' (Tafsir Ibnu Katsir; I/219.)

Tafsiran ayat:

Allah menjelaskan bahwa Diri-Nya adalah dekat. Ia mengabulkan do'a orang-orang yang memohon, serta memenuhi kebutuhan orang-orang yang meminta. Tidak ada tirai pembatas antara Diri-Nya dengan salah seorang hamba-Nya. Karena itu, seyogyanya mereka menghadap hanya kepada-Nya dalam berdo'a dan merendahkan diri, lurus dan memurnikan ketaatan pada-Nya semata. (Tafsir Ibnu Katsir, I/218.)

Adapun hikmah penyebutan'Allah akan ayat ini yang memotivasi memperbanyak do'a berangkaian dengan hukum-hukum puasa adalah bimbingan kepada kesungguhan dalam berdo'a, ketika bilangan puasa telah sempurna, bahkan setiap kali berbuka.

Anjuran dan Keutamaan Do'a:

Banyak sekali nash-nash yang memotivasi untuk berdo'a, menerangkan fadhilah (keutamaan)nya dan mendorong agar suka melakukannya. Di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Firman Allah Ta 'ala :

"Dan Tuhanmu berfirman: Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." (Ghaafir: 60). Di dalamnya Allah memerintahkan berdo'a dan Dia menjamin akan mengabulkannya.

2. Firman Allah Ta'ala :

"Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. " (Al-A'raaf: 55).

Maksudnya, berdo'alah kepada Allah dengan menghinakan diri dan secara rahasia, penuh khusyu' dan merendahkan diri. "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Yakni tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, baik dalam berdo'a atau lainnya, orang-orang yang melampaui batas dalam setiap perkara. Termasuk melampaui batas dalam berdo'a adalah permintaan hamba akan berbagai hal yang tidak sesuai untuk dirinya atau dengan meninggikan dan mengeraskan suaranya dalam berdo'a.

Dalam Shahihain, Abu Musa Al-Asy'ari berkata: "Orang-orang meninggikan suaranya ketika berdo'a, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai sekalian manusia, kasihanilah dirimu, sesungguhnya kamu tidak berdo'a kepada Dzat yang tuli, tidak pula ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kama berdo'a pada-Nya itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat. "

3. Firman Allah Ta 'ala : "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?" (An Naml: 62).

Maksudnya, apakah ada yang bisa mengabulkan do'a orang yang kesulitan, yang diguncang oleh berbagai kesempitan, yang sulit mendapatkan apa yang ia minta, sehingga tak ada jalan lain ia baru keluar dari keadaan yang mengungkunginya, selain Allah semata? Siapa pula yang menghilangkan keburukan (malapetaka), kejahatan dan murka, selain Allah semata?

4. Dari An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Do'a adalah ibadah." (HR, Abu Daud dan At-TiYmidzi, At-Tirmidzi berkata, hadits hasan shahih).

Dari Ubadah bin Asb-Shamit radhiallahu 'anhu ia berkata, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah di dunia dengan suatu permohonan kecuali Dia mengabulkannya, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya, selama ia tidak meminta suatu dosa atau pemutusan kerabat. " Maka berkatalah seouang laki-laki dari kaum: "Kalau begitu, kita memperbanyak (do'a). "

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah memberikan kebaikan-Nya lebih banyak daripada yang kalian minta" (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih), (Lihat kitab Riyaadhus Shaalihiin, hlm. 612 dan 622)

Lalu Allah Ta'ala berfirman :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahrvasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan cavilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi)janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa." (Al-Baqarah:187)

Sebab turunnya ayat :

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra' bin 'Azib, bahwasanya ia berkata :

"Dahulu, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika seseorang (dari mereka) berpuasa, dan telah datang (waktu) berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, ia tidak makan pada malam dan siang harinya hingga sore. Suatu ketika Qais bin Sharmah Al-Anshari dalam keadaan puasa, sedang pada siang harinya bekerja di kebun kurma. Ketika datang waktu berbuka, ia mendatangi isterinya seraya berkata padanya: "Apakah engkau memiliki makanan ?" Ia menjawab: "Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu." Padahal siang harinya ia sibuk bekerja, karena itu ia tertidur. Kemudian datanglah isterinya. Tatkala ia melihat suaminya (tertidur) ia berkata: "Celaka kamu." Ketika sampai tengah hari, ia menggauli (isterinya). Maka hal itu diberitahukan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, sehingga turunlah ayat ini :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu. "

Maka mereka sangat bersuka cita karenanya, kemudian turunlah ayat berikut :

"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (Lihat kitab Ash Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzuul, hlm. 9.)

Tafsiran ayat :

Allah Ta'ala berfirman untuk memudahkan para hamba-Nya sekaligus untuk membolehkan mereka bersenang-senang (bersetubuh) dengan isterinya pada malam-malam bulan Ramadhan, sebagaimana mereka dibolehkan pula ketika malam hari makan dan minum :

"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa melakukam "rafats" dengan isteri- isterimu."

Rafats adalah bersetubuh dan hal-hal yang menyebabkan terjadinya. Dahulu, mereka dilarang melakukan hal tersebut (pada malam hari), tetapi kemudian Allah membolehkan mereka makan minum dan melampiaskan kebutuhan biologis, dengan bersenang-senang bersama isteri-isteri mereka. Hal itu untuk menampakkan anugerah dan rahmat Allah pada mereka.

Allah menyerupakan wanita dengan pakaian yang menutupi badan. Maka ia adalah penutup bagi laki-laki dan pemberi ketenangan padanya, begitupun sebaliknya.

Ibnu Abbas berkata: "Maksudnya para isteri itu merupakan ketenangan bagimu dan kamu pun merupakan ketenangan bagi mereka."

Dan Allah membolehkan menggauli para isteri hingga terbit fajar. Lalu Dia mengecualikan keumuman dibolehkannya menggauli isteri (malam hari bulan puasa) pada saat i'tikaf. Karena ia adalah waktu meninggalkan segala urusan dunia untuk sepenuhnya konsentrasi beribadah. Pada akhirnya Allah menutup ayat-ayat yang mulia ini dengan memperingatkan agar mereka tidak melanggar perintah-perintah-Nya dan melakukan hal-hal yang diharamkan serta berbagai maksiat, yang semua itu merupakan batasan-batasan-Nya. Hal-hal itu telah Dia jelaskan kepada para hamba-Nya agar mereka menjauhinya, serta taat berpegang teguh dengan syari'at Allah sehingga mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. (Tafsir Ayaatil Ahkaam, oleh Ash-Shabuni, I/93.)

(back to Menu)

PELAJARAN DARI AYAT-AYAT TENTANG PUASA

  • Umat Islam wajib melakukan puasa Ramadhan.

  • Kewajiban bertaqwa kepada Allah dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

  • Boleh berbuka di bulan Ramadhan bagi orang sakit dan musafir. Keduanya wajib mengganti puasa sebanyak bilangan hari mereka berbuka, pada hari-hari lain.

Firman Allah Ta 'ala :

"Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-haui lain, "adalah dalil wajibnya mengqadha' bagi orang yang berbuka pada bulan Ramadhan karena udzur, baik sebulan penuh atau kurang, juga merupakan dalil dibolehkannya mengganti hari-hari yang panjang dan panas dengan hari-hari yang pendek dan dingin atau sebaliknya.

Tidak diwajibkan berturut-turut dalam mengqadha' puasa Ramadhan, karena Allah Ta 'ala berfirman :"Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain, " tanpa mensyaratkan puasa secara berturut-turut. Maka, dibolehkan berpuasa secara berturut-turut atau secara terpisah- pisah. Dan yang demikian itu lebih memudahkan manusia.

  • Orang yang tidak kuat puasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh, wajib baginya membayar fidyah; untuk setiap harinya memberi makan satu orang miskin.

Firman Allah Ta 'ala :"Dan berpuasa lebih baik bagimu"

menunjukkan bahwa melakukan puasa bagi orang yang boleh berbuka adalah lebih utama, selama tidak memberatkan dirinya.

  • Di antara keutamaan Ramadhan adalah, Allah mengistimewakannya dengan menurunkan Al-Qur'an pada bulan tersebut, sebagai petunjuk bagi segenap hamba dan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

  • Bahwa kesulitan menyebabkan datangnya kemudahan. Karena itu Allah membolehkan berbuka bagi orang sakit dan musafir.

  • Kemudahan dan kelapangan Islam, yang mana ia tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

  • Disyari'atkan mengumandangkan takbir pada malam 'Idul Fitri. Firman Allah Ta 'ala :

"Dan hendaklah kama mengagungkan Allah (mengumandangkan takbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. "

  • Wajib bersyukur kepada Allah atas berbagai karunia dan taufik-Nya, sehingga bisa menjalankan puasa, shalat dan membaca Al-Qur'anul Karim, dan hal itu dengan mentaati-Nya dan meninggalkan maksiat terhadap-Nya.

  • Anjuran berdo'a, karena Allah memerintahkannya dan menjamin akan mengabulkannya.

Kedekatan Allah dari orang yang berdo'a pada-Nya berupa dikabulkannya do'a, dan dari orang yang menyembah-Nya berupa pemberian pahala.

Wajib memenuhi seruan Allah dengan beriman kepada-Nya dan tunduk mentaati-Nya. Dan yang demikian itu adalah syarat dikabulkannya do'a.

  • Boleh makan dan minum serta melakukan hubungan suami isteri pada malam-malan bulan Ramadhan, sampai terbit fajar, dan haram melakukannya pada siang hari. Waktu puasa adalah dari terbitnya fajar yang kedua, hingga terbenamnya matahari.

  • Disyari'atkan i'tikaf di masjid-masjid. Yakni diam di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan totalitas ibadah di dalamnya. Ia tidak sah, kecuali dilakukan di dalam masjid yang di situ diselenggarakan shalat lima waktu.

Diharamkan bagi orang yang beri'tikaf mencumbu isterinya. Bersenggama merupakan salah satu yang membatalkan i'tikaf.

  • Wajib konsisten dengan mentaati perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Allah Ta'ala berfirman :"ltulah larangan-larangan Allah maka kamujangan mendekatinya."

Hikmah dari penjelasan ini adalah terealisasinya taqwa setelah mengetahui dari apa ia harus bertaqwa (menjaga diri).

  • Orang yang makan dalam keadaan ragu-ragu tentang telah terbitnya fajar atau belum adalah sah puasanya, karena pada asalnya waktu malam masih berlangsung.

  • Disunnahkan makan sahur, sebagaimana disunnahkan mengakhirkan waktunya.

  • Boleh mengakhirkan mandi jinabat hingga terbitnya fajar.

  • Puasa adalah madrasah rohaniyah, untuk melatih dan membiasakan jiwa berlaku sabar. (Lihat kitab Al Ikliil Istinbaathit Tanziil, oleh As-Suyuthi, hlm. 24-28; dan Taisirul Lathifill Mannaan, oleh Ibn Sa'di, hlm. 56-58.)

 

16 September 2006

PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN

Bismillahirrahmaanirrahim,
 
*PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN*

Beberapa Hari lagi kita akan melaksanakan Puasa Ramadhan. Apa yang harus kita persiapkan dalam menyambut bulan yang penuh keagungan ini? Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyambut jamuan Allah ini.
 
1.Mulailah menjaga diri dari apapun yang Allah haramkan.
 
2.Usahakanlah untuk mulai puasa dari apa pun yang tidak disukai Allah. Allah Maha Melihat perjuangan kita. Kita harus berupaya agar Allah Yang Maha
Menyaksikan benar-benar melihat diri kita menjadi orang yang bersiap-siap menyambut jamuan Allah
 
3.Mulai saat ini, hindari telinga, mata, mulut kita dari sesuatu yang tidak layak kita dengar, kita lihat dan kata-kata yang tidak berguna.
 
4.Mari kita siapkan rumah kita menjadi rumah yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Kita harus mulai melihat jika ada yang haram di rumah kita. Bukalah lemari, kalau ada yang diragukan segera keluarkan. Lihatlah dapur kita, kalau ada barang yang kita ragukan segera keluarkan. Jangan pernah kita jamu Allah ketika pada diri kita melekat pakaian dan makanan yang haram. Bebaskan rumah kita dari hal yang sia-sia. Siapa lagi yang kita cari keridhaannya selain Allah. Senangkah bila rumah kita dipuji manusia tapi dibenci Allah?
 
5.Menjelang Ramadhan, dekatlkanlah segala sesuatu yang akan membuat kita akrab dengan Allah. Selalu siapkan Al-Qur'an di tas, di meja kerja, dan di kamar tidur agar kita bisa dengan mudah membacanya
 
6.Sediakan juga anggaran khusus untuk sedekah dan anggaran untuk berbuka bagi orang lain. Satu butir kurma yang kita berikan untuk berbuka, pahalanya sama dengan satu hari saum.
 
7.Mulai sekarang, sembari membersihkan rumah, bersihkan pula pikiran dan hati kita dari pikiran negatif. Jangan pernah berpikir benci kepada seseorang karena bisa mengotori hati kita. Mulai saat ini, jadilah orang yang pemaaf. Tidak ada lagi pikiran-pikiran untuk membalas dendam.
 
8. Alangkah bagusnya pabila kita minta maaf kepada orangtua menjelang bulan Ramadhan. Ziarah ke makam orang tua kita bagi yang sudah meninggal. Minta
ampunlah kalau kita belum sungguh-sungguh membahagiakan orang tua kita. Suami-istri juga ada baiknya saling meminta maaf. Tidak ada salahnya minta maaf kepada orang yang lebih muda dari kita, termasuk kepada adik dan anak-anak kita. Juga yang mungkin tanpa kita sadari telah menzalimi pembantu, supir, tukang kebun, atau bawahan kita, segeralah minta maaf. Minta maaflah dengan ikhlas, sehingga kita akan lebih ringan memasuki Ramadhan.
 
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS. Ali Imran : 133-134)
 
Kita tidak pernah berjumpa dengan kemudahan ampunan kecuali di bulan Ramadhan ini. Sebanyak dan semelimpah apapun dosa kita, sungguh Allah menjanjikan ampunan-Nya di bulan ini. Kalau kita merasa berat hidup karena lumuran dosa dan maksiat, maka ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita.Kalau kita merasa gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita dililit
utang piutang, maka Allah adalah Dzat Mahakaya yang menjanjikan terkabulnya doa, dilunasi-Nya apa yang kita butuhkan.
 
Karenanya sungguh sangat rugi andaikata kita tidak bergembira ria, tidak bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Ramadhan diawali dengan adzan berkumandang, maka itulah saat syetan dibelenggu, dimulainya hitungan pahala amal yang berbeda, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Maka sudah selayaknya kita harus sangat bersungguh-sungguh berharap agar Allah menjamu kita dengan menyiapkan diri jadi orang yang layak dijamu oleh Allah.
 
Note: Uraian di atas diringkas dari Kolom Gatra
tulisan Abdullah Gymnastiar

Panduan Hamil Wanita Sholihat

Selasa,29-08-06/Thn-IV
Seri Jendela Muslimah
 
Panduan Hamil Wanita Sholihat
 
Hamil, suatu kata yang kadang begitu diinginkan oleh seorang wanita. Namun ada saatnya kata hamil begitu ditakuti oleh seorang wanita.

Hamil begitu diinginkan oleh seorang wanita yang dia telah bersuami. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang sempurna bagi suaminya. Dia ingin memberikan anak buat suaminya dari rahimnya sendiri.
Kondisi ini kadang membuat wanita menikah yang belum bisa hamil berupaya mencari cara agar dapat hamil meskipun berupaya dengan metode rasional maupun yang irrasional. Mereka ada yang mendatangi dokter spesialis, ahli terapi tubuh untuk menghilangkan kekurangan, hingga metode modern seperti program bayi tabung. Ada juga yang mengadopsi anak sebagai cara "memancing", yang demikian masih termasuk kategori terapi yang tidak menyalahi keimanan islam. Namun ada yang mendatangi paranormal untuk kemudian menjalankan tatacara ritual yang diluar kelaziman hanya untuk bisa hamil. Maka pada saat tersebut akan tampak siapa wanita yang memiliki keimanan dan yang tidak.

Saya yakin wanita-wanita yang telah bersusah payah untuk bisa hamil dengan metode yang sesuai syar'i kemudian diberi hamil oleh Allah begitu mensyukuri nikmat hamil tersebut. Apalagi kehamilan itu adalah hamil untuk yang pertama kali.

Kata hamil pada moment yang lain, begitu ditakuti oleh wanita. Apalagi mereka-mereka yang tidak bersuami di Negara yang masih memegang budaya timur.
Wanita tipe ini tidak hendak saya tulis di artikel ini.

Tidakkah kita sadar, bahwa kata ini juga ditakuti oleh wanita yang bersuami sewaktu anak sebelumnya baru beberapa bulan dilahirkan, sewaktu ekonomi terasa belum mapan, sewaktu jumlah anak yang menjadi tanggungan bertambah
terus, sewaktu ... sewaktu yang lainnya. Kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi psikologis sang ibu sehingga tidak pernah focus untuk mengurus kehamilannya.

Ketahuilah, bahwa hamil adalah saat yang paling indah yang seharusnya dirasakan bagi seorang wanita yang beriman. Sebaiknya hamil dijadikan moment paling baik bagi seorang wanita mempersiapkan syurga bagi dirinya.

Mengapa demikian?

Kita semua tahu, bahwa melahirkan adalah poin pertemuan kehidupan dan kematian. Berapa banyak wanita yang harus menyerahkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak. Bila wanita beriman sedari awal menyadari kondisi ini, maka sejak tahu bahwa dirinya hamil hingga hitungan hari H melahirkan
adalah waktu hitung mundur yang mendekati kepastian apakah dirinya akan hidup kembali atau harus ikhlas kembali kepada ilahi Rabbi.

Bagaimana mengukir waktu agar dirinya dapat memperoleh syahadah bilamana Allah berkehendak saat itulah kematian untuk dirinya. Semoga saja wanita sholihah sadar akan saat tersebut dengan mempersiapkan dirinya memperbanyak
ibadah, baca Al-qur'an, qiyamul lail, beramal sholeh buat suami tercinta dan beramal sholeh lainnya. Bukankah Allah begitu baik memberi kesempatan pada wanita sholihat yang sedang hamil. Dirinya tidak diberi waktu tangguh yang menghalanginya untuk bertaqorub pada Allah (haid-pen), sehingga waktu
ibadahnya menjadi sangat panjang, kapanpun dia mau.

Kalau hari ini kita mendengar sebuah experiment bahwa bayi dlm kandungan yang diperdengarkan Mozart akan memiliki kecerdasan lebih, apa jadinya kalau wanita sholihat yang sedang hamil begitu banyak membaca al-qur'an, qiyamul
lail dan shalat-shalat sunnah yang lain (sebenarnya untuk persiapan kematian dirinya sendiri).
Hal ini sama dengan memperdengarkan Al-qur'an pada buah hatinya secara tidak langsung. Tentunya hasilnya akan lebih baik daripada
diperdengarkan Mozart.

Wanita sholihat yang menyadari dirinya hamil, tentunya akan benar-benar mempersiapkan waktu kematiannya dengan sebaik-baiknya agar mendapat gelar syahadah. Dirinya ingin meninggalkan kenangan yang sangat indah bagi orang-orang yang disayanginya. Bilamana memang kematian menghampirinya saat melahirkan, maka dirinya sesungguhnya telah berupaya optimal memberikan keturunan yang baik bagi suaminya. Namun bilamana kehidupan masih menyapanya, maka dia mendapat minimal dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan beroleh anak yang sholih / sholihat dan kebahagiaan mendapati keluarganya utuh kembali.

So, wahai wanita sholihat, jangan takut hamil yaa...

 

15 September 2006

Romantisnya Rasulullah

 
Rabu,30-08-06/ThnIV
Seri Anak dan Keluarga
Romantisnya Rasulullah   
 
Buat para suami-suami, seringkali kita memperdebatkan dan memperbincangkan permasalahan yang berkaitan dengan kebahagiaan berumah tangga.
Seorang bapak (suami), pernah bertanya dalam sebuah dialog interaktif konsultasi keluarga di sebuah situs Islam lokal, tentang bagaimana mendapatkan kasih sayang dan pengabdian istri. Dan yang tidak kalah 'heboh', tidak sedikit pertanyaan yang ujung-ujungnya ingin melakukan poligami dengan berbagai alasan tentunya.
 
Poligami, jelas sangat diperbolehkan dan dicontohkan oleh baginda Rasul meski pun dalam tradisi dan budaya masyarakat kita, beristri lebih dari satu masih merupakan hal yang dianggap tidak lazim bahkan tabu.
 
Namun sepertinya, ada hal yang sering terlupakan oleh para suami, sudahkah kita mencontoh Rasulullah dalam urusan romantisme berumahtangga? Sehingga Nabi SAW -karena romantismenya yang luar biasa terhadap para istri beliau- tidak pernah kita mendengar ada masalah yang besar dalam rumah tangga bersama para istrinya.
 
Jadi, untuk sementara kesampingkan dulu masalah seperti ketidakbahagiaan beristri yang usianya lebih tua, rumahtangga tidak harmonis, sehingga memunculkan wacana yang saat ini sedang ngetrend; poligami.
 
Padahal sesungguhnya jika kita mau merenunginya kembali, bisa jadi permasalahan utamanya sangat sederhana; kita kurang romantis!
Mari kemudian kita cermati tauladan dari Rasulullah, manusia agung yang sangat romantis terhadap istri-istrinya sebelum kita bicarakan niat atau kemungkinan untuk berpoligami.
 
Rasulullah SAW adalah contoh yang terbaik seorang suami yang mengamalkan sistem Poligami. Baginda Nabi sangat romantis kepada semua istrinya.
Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, "Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?". Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, "Aku akan beritahukan kepada kalian nanti" Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain.
Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah SAW menjawab, "Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya". Kemudian, istri-istri Nabi SAW itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.
 
Masih ada amalan-amalan lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan suasana romatis seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Apabila pasangan suami istri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka".
 
Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah. Beliau acapkali memotong kuku istrinya, mandi janabat bersama, atau mengajak salah satu istrinya bepergian, setelah sebelumnya mengundinya untuk menambah kasih dan sayang di antara mereka.
 
Baginda Nabi SAW juga selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan yang menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. "Wahai si pipi kemerah-merahan" adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah.
 
Itulah sedikit contoh romantisme Rasulullah SAW yang dapat kita teladani dan praktekkan dalam kehidupan berumahtangga. Tentu, masih banyak contoh romantisme lainnya.
 
Kepada suami-suami yang baik, mulailah bersikap lembut dan berupaya membuat sang istri selalu mengembang senyumnya. Peganglah tangan istri anda setiap waktu, setiap kesempatan. Begitu pula para istri-istri yang sholehah, peganglah juga tangan suami anda untuk menghapuskan segala dosa-dosa.
Jadi, jika kita bisa meniru romantisme ala Rasul, sehingga istri pun membalas dengan yang tidak kalah romantisnya, masalah mana lagi yang sempat mampir dalam bahtera rumahtangga kita?
 
Ibarat kata, tidak ada makanan di rumah pun bisa diselesaikan berdua dengan tetap tersenyum, bukan begitu?
eramuslim.com

 

14 September 2006

Ulama Saudi Larang Gunakan Lantunan Al-Quran untuk Dering Ponsel

Sana'a,-RoL-- Lantunan ayat-ayat Al-Quran dari sejumlah Qari kenamaan di Arab dan lantunan azan mulai banyak dipakai sebagai pengganti suara musik dan lagu-lagu pada dering ponsel. Para pengguna ponsel dapat dengan mudah merekam sendiri atau mencari lantunan ayat dan azan dimaksud di tempat-tempat penjual ponsel.
 
Namun tidak semua ulama sependapat dengan penggunaan lantunan ayat dan azan tersebut. Terbukti sejumlah ulama di Arab Saudi seperti dilaporkan harian Al-Sharqul Awsat, Sabtu (26/8) melarangnya.
"Ayat-ayat Al-Qur`an sangat agung sehingga tidaklah tepat untuk digunakan sebagai dering ponsel. Paling rendah hukumnya adalah makruh (tidak diperbolehkan namun tidak berdosa bila melakukannya red.)," ujar Sheikh Saleh Al-Shamrani.
 
Menurut salah satu pengajar di Akademi Ilmiah milik Universitas Islam King Mohamed Bin Saud itu, il tidak diperbolehkan penggunaan dering lantunan ayat dan azan tersebut cukup banyak diantaranya ditinjau dari tempat.
 
Bisa saja deringan ponsel berbunyi pada saat pemakainya berada di tempat yang tidak suci seperti kamar mandi. Juga pada saat di tempat-tempat yang tidak layak semisal diskotik atau di tempat keramaian dimana orang sedang tertawa terbahak-bahak.
 
"Sangatlah tidak layak bila keagungan lantunan ayat-ayat suci dan azan  berbunyi di saat keramaian dan orang sedang tertawa terbahak karena lantunan ayat dan azan itu mengandung nilai ibadah," katanya.
 
Larangan tersebut berlangsung pada saat banyak pengguna pengguna ponsel terutama di kalangan kaum wanita negeri kaya minyak itu lebih memilih lantunan ayat, doa dan azan ketimbang lagu-lagu dari para artis kenamaan Arab.
 
"Yang utama adalah pengarahan dalam menggunakan ponsel yang berisi deringan lantunan ayat atau azan. Bukan larangan secara mutlak," kata Suad Afif, seorang pengajar ilmu sosial di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.
 
Pada intinya, larangan salah seorang ulama terkemuka Saudi itu tidak mutlak, namun sebagai peringatan dan pengarahan agar tidak sembarangan menggunakan lantunan ayat dan azan agar kesuciannya tidak terlecehkan baik disengaja maupun tidak disengaja.

13 September 2006

Mi'raj Nabi Muhammad termuat dalam Bible?

Bible mengandung pengakuan Isa Almasih (Jesus) atas kenabian Muhammad. Hal itu tercantum pada Kitab Perjanjian Baru atau New Testament Injil St.John 16:7, 16:8, 16: 13 dan 14: 16, sedangkan mengenai Mi'raj Muhammad juga disebut oleh Jesus dalam bentuk parables atau Mutasyabihat di mana Muhammad disebut sebagai "Queen" atau dengan istilah "Ratu".

12:42
The queen of the south shall rise up in the judgment with this generation, and shall condemn it : for she came from the uttermost parts of the earth to hear the wisdom of Solomon; and behold, a greater than Solomon is here.

Selengkapnya klik di bawah:

http://myquran.org/forum/index.php/topic,6695.msg119192.html#msg119192
__._,_.___

Bible mengandung pengakuan Isa Almasih (Jesus) atas kenabian Muhammad. Hal itu tercanturn pada Kitab Perjanjian Baru atau New Testament Injil St.John 16:7, 16:8, 16: 13 dan 14: 16, sedangkan mengenai Mi'raj Muhammad juga disebut oleh Jesus dalam bentuk parables atau Mutasyabihat di mana Muhammad disebut sebagai
"Queen" atau dengan istilah "Ratu". Hal ini memang kebiasaan Jesus yang hanya memakai istilah kiasan untuk maksud tertentu pada mana orang harus bersikap hati-hati dengan penelitian yang saksama, demikianlah Muhammad dikiaskan dengan istilah Queen di satu ayat, dengan istilah Prince di lain ayat dan dengan istilah Comforter pada ayat lainnya. Ayat Bible yang mengandung pengakuan Jesus atas Mi'raj Muhammad ialah Injil St.Luke 11:31 dan bersamaan maksudnya dengan Injil St.Matthew ayat :

12:42 The queen of the south shall rise up in the judgment with this generation, and shall condemn it : for she came from
the uttermost parts of the earth
to hear the wisdom of Solomon; and behold, a greater than Solomon is here.

(Arti langsung, Matius
12 :42 Ratu dari Selatan itu pasti akan bangkit dalam hal pengadilan dengan generasi ini. dan dia pasti menghukumnya : karena dia kembali dari bahagian Bumi paling luar
mendengarkan kebijaksanaan Sulaiman; dan ketahuilah, yang lebih besar daripada Sulaiman ada di sini).

Kiranya New Testament semenjak dulu telah ditulis lengkap menurut ayat yang sebenarnya disampaikan Isa Almasih maka kini tentunya akan kita dapati beberapa ayat lain yang secara terang mengandung pengakuan atas Mi'raj Muhammad, tetapi orang harus maklum bahwa New Testament itu baru dicatat dan dibukukan sesudah tiga abad berangkatnya Isa Almasih. Walaupun demikian, jika diperhatikan dengan saksama maka akan diperoleh pengertian nyata bahwa yang dimaksud Jesus dengan Ratu dari Selatan tersebut pada Matius
12:42 itu tidak lain dari Muhammad
sendiri.

Sewaktu Jesus berbicara menyampaikan ayat itu beliau berada di daerah sekitar Palestina di utara tanah Makkah. Satu-satunya kerajaan yang mungkin sesuai dengan apa yang dimaksud oleh ayat itu adalah kerajaan yang ada di Makkah sendiri di mana ada seorang besar yang dikiaskan dengan istilah queen atau ratu oleh Jesus.

Orang besar itu adalah Muhammad yang pernah mengalami Mi'raj kepada bahagian Bumi yang paling tinggi yaitu ke planet Muntaha. Bumi adalah planet sedangkan Muntaha sama dengan Bumi maka Muntaha itulah yang paling luar dari tatasurya kita.
Mengenai kebijaksanaan Sulaiman dan keterangan bahwa Jesus lebih besar daripada Sulaiman sebagai tercantum dalam ayat Matius 12:42 itu tidaklah menjadi pokok persoalan dalam tulisan ini. Yang kita perbincangkan adalah pengakuan dalam Bible atas Mi'raj Muhammad yang dikiaskan selaku ratu dari selatan Palestina. Dikatakan juga bahwa Ratu itu pasti bangkit dengan peradilan dan menghukum "generasi ini" yaitu generasi Bani Israel yang diberi peringatan oleh Jesus waktu itu. Kemudian ternyata dan sejarah mencatat bukti kebenarannya bahwa pada th.637 Masehi Khalifah Umar bin Khattab selaku penerus ajaran yang disampaikan Muhammad telah bangkit mengusir seluruh kekuasaan Romawi dari Palestina. Dia langsung mendirikan Masjid dari kayu di Jerusalem (Palestina) kemudian diperbaiki oleh Khalifah Abd. Malik pada th.688 Masehi. Kedua khalifah itu tidak pernah mengrusak gereja-gereja. dan bangunan lain yang ada di Palestina (Bacalah Britanica Encyclopaedia index Jerusalem).

Pengakuan Isa Almasih atas Mi'raj Muhammad sebagai dibicarakan tadi adalah hal yang wajar dan sepantasnya, karena kedua tokoh besar itu adalah sama-sama Nabi dan Utusan Allah bersamaan dengan semua Nabi yang pernah hidup di antara manusia ramai. DIAlah yang memberi wahyu kepada Isa Almasih hingga Nabi ini menyampaikannya sebagai ramalan tepat tentang Mi'raj Muhammad dan nasib yang berlaku di antara Bani Israel.

Shalat berjamaah

Shalat berjamaah mungkin untuk beberapa orang dianggap biasa saja. Tapi bagiku shalat berjamaah sangatlah penting untuk mempererat tali silaturahim dan ukhuwah islamiyah. Selain dari pahala yang diberikan untuk shalat berjamaah yaitu 27 kali dari shalat sendiri. Yang berarti shalat sendiri pahalanya hanya satu kali lipat dibanding shalat berjamaah yang 27 kali lipat, itupun apabila surah Al-Fatihah nya dilafalkan dengan benar. Bandingkan dengan shalat berjamaah yang 27 kali lipat.
 
Aku sudah sering mengajak beberapa teman untuk shalat berjamaah di mushola. Walaupun mushola yang kami miliki di kantor sangat  minim fasilitas dan dengan ruangan yang kecil tetapi alangkah indahnya apabila selalu didirikan shalat secara berjamaah.
 
Padahal apabila mereka tahu pahala yang akan di dapatkan di akhirat nanti pasti mereka berlomba-lomba untuk selalu shalat di mushola secara berjamaah. Ataukah mereka pura-pura tidak tahu? Pura-pura tidak mendengar? Tapi aku sadar bahwa mengajak seseorang kejalan kebaikan pasti banyak rintangannya. Alasan yang mereka kemukakan selaku alasan klasik. Baju kotor lah, celana kotor lah, nggak ada sarung lah. Dan memang aku dan teman yang sependapat denganku memiliki pemahaman berdasarkan pengalaman yang ada bahwa hidayah itu tidak akan turun kepada setiap orang. Hanya orang-orang yang dipiih 4JJI saja yang akan mendapatkannya. Aku hanya bisa mengajak dan menyerukan selebihnya aku serahkan kepada-Nya.
 
Semoga semakin hari semakin banyak orang-orang yang sadar akan pentingnya shalat berjamaah.
 
Amin.
 
***

12 September 2006

Cobaan Rasa

Aku percaya sepenuhnya bahwa yang menanamkan rasa adalah yang maha pemberi rasa yaitu 4JJI. Tapi aku bukan ingin menggugat rasa yang aku miliki saat ini. Aku hanya ingin bertanya mengapa? Setiap selesai sholat aku selalu berdoa, lebih tepatnya meminta. Apabila memang Engkau memberi rasa ini untuk aku pelihara maka akan aku pelihara tetapi sebaliknya bila rasa ini hanya sebatas cobaan untukku aku mohon di bebaskan dari rasa ini.
 
Aku sadar Dia lah yang maha mengetahui segalanya. Aku sempat berdiskusi dengan teman satu kost. Aku utarakan hal yang menjadi ganjalanku selama ini. Tapi dia langsung memotong kalimatku.... Tidak bisa dong itu semua ada di tangan Dia. Apapun yang kamu rasakan adalah nikmat yang diberikan oleh-Nya untuk kamu. Jadi nikmatilah.
 
Jadi aku harus menikmati kepedihan ini? Rasa yang menyiksa ini? Kalau aku punya kuasa aku ingin berteriak. Ingat gak sinetron 'Kiamat sudah dekat' ? Walaupun bukan penggemar sinetron aku nonton sinetron itu sampai tamat. Aku ingat saat Andre stinky berteriak di pantai memohon dan seperti berbicara dengan 4JJI. Apakah harus begitu ya..... Tapi aku bukan tipe seperti itu. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa kepada-Nya mohon dibukakan pintu kesabaran untukku.
 
Temanku bilang kalau kamu bisa mendengar 4JJI berbicara Dia akan berbicara begini.
 
"Hei... itu hak prerogatif Gue, mau Gue kasih perasaan kek, mau enggak kek itu urusan Gue. Mau Gue kasih ke elu kek, ketemen loe kek itu urusan Gue. Sekali lagi urusan Gue".
 
Kalau ingat itu aku suka tersenyum sendiri. 4JJI maha segalanya. Aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya. Semoga Hidayah dan Inayah-Nya tetap diberikan kepadaku. Mungkin dengan kejadian ini aku bisa bertambah dewasa. Dewasa dalam arti sanggup menerima cobaan dengan tabah dan sabar.
 
Semoga cobaan ini cepat berakhir. Semoga semakin bertambah tebal imanku. Karena manusia tanpa cobaan tidak akan bertambah maju. Hanya jalan ditempat saja. Tetapi apabila memang cobaan ini semakin lama semakin berat, akan aku serahkan semua kepada-Nya. Yang jelas semua ini tidak akan mengurangi kadar keimananku.
 
Semoga...

SEMANGAT BARU DAKWAH ISLAM DI AMERIKA

Kamis,24-08-06/ThnIV
Seri kisan dan hikmah
 
FRANKLIN: SEMANGAT BARU DAKWAH ISLAM DI AMERIKA
Bisa cerita perjalanan kamu menjadi muslim?

Al-Qur'an adalah alasan utama saya menjadi muslim. Al-Qur'an menyatakan kebenaran pada saya, tentang Allah dan banyak hal. Saya benar-benar tertarik sejak pertama kali membacanya. Saat itu sebenarnya saya sedang taat-taatnya pada agama saya yang lama dan menjadi pastur muda di sekolah. Saat menyadari ada banyak muslim (juga agama lain), saya memutuskan untuk mempelajari beragam tipe agama, sehingga bila saya ditanya tentang agama lain saya dapat menjelaskan. Saya sempat menonton film Malcolm X, pada bagian saat Malcolm shalat.

Kemudian saya sempat mengalami depresi seminggu setelah dibaptis.
Saya seperti kehilangan kepercayaan pada Tuhan dan ingin melupakan-Nya. Saat itu adalah bulan terburuk dalam hidup saya. I wanted revenge on God, for making me so confused. Lalu saya ingat film Malcolm X saat dia shalat, saya pun pergi membeli film tersebut. Film tersebut sangat menginspirasi saya untuk lebih jauh mengenal Islam. Saya juga mendapat Al-Qur'an dari internet dan membacanya. I loved the way Islam was, everything I believed in since I was younger was all in Islam. Contohnya, pria disunnahkan memelihara jenggot dan wanita harus menutup aurat (di sini--New York--sebagian besar wanita seperti mengiklankan tubuh mereka pada pria). Al-Qur'an sangat ajaib, apa yang ada di kepala saya, semua bisa terjawab. Yang aneh, selama dua minggu mempelajari Islam, saya menjadi sangat emosional dan tidak dapat mengerjakan film tentang Jesus yang sedang saya buat (Franklin mengambil studi film, red.). And on top of that, I lost all of my Christian friends, karena mereka melihat saya mempelajari Al-Qur'an. Saya biarkan saja, dan yakin hanya Tuhan yang dapat menolong saya. Saya berdoa, 'Tuhan, tunjukkan saya agama yang benar'.

Setelah berdoa saya bertemu seorang muslim. Dia memberi tahu tentang Islam.
Lalu saya bertemu dengan muslim yang lain, ini terjadi hingga lima kali. Saya juga bertemu dengan seorang muslim bernama Adam, dan belum pernah melihat dia sebelumnya. Dia berjanji menemui saya dekat sebuah masjid. Saya pun memutuskan pergi ke masjid, dan melihat ada beragam muslim di sana. Kebanyakan orang Arab dan kulit hitam. Saya pikir ini adalah agama untuk orang Timur, bukan buat saya. Saya kaget ketika melihat Adam, ternyata ia berkulit putih! Setelah shalat, Adam mengenalkan saya pada Imam masjid. Saya berdebat dengan Imam dan dua orang lainnya selama 3 jam, dan akhirnya saya menerima penjelasan mereka. Saya mengucap syahadah seminggu kemudian.

Gimana perasaan kamu setelah memeluk Islam?

Pada awalnya saya banyak bertanya tentang Islam. Saya telah menjadi muslim, dan menerima ajarannya serta apa yang Allah katakan dalam Qur'an, tapi saya tetap mencari hal yang melenceng, karena jika saya menemukan satu saja hal yang melenceng dalam Qur'an, maka saya dapat membuktikan bahwa Qur'an salah. But it's impossible. Saya masuk Islam kaerna hidayah Allah, dan nggak ada seorang pun yang dapat mencegahnya. banyak keajaiban dalam Al-Qur'an.

Ada masalah nggak setelah kamu masuk Islam? Gimana dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kamu?


Keluarga tidak tahu tentang keislaman saya, tapi mereka melihat bahwa saya lebih relijius. Saya ingat perkataan Imam Syamsi bahwa 'ketika seseorang masuk Islam, maka mereka harus memberikan kesan yang baik terhadap keluarganya'. Jadi untuk seseorang yang baru masuk Islam atau berniat masuk ke dalam agama Allah, cara terbaik keluarga dan teman-teman tahu adalah dengan mengubah kebiasaan kita, menjadi orang yang lebih baik, berhenti melakukan hal buruk yang pernah dilakukan, jadi keluarga dan teman-teman melihat sendiri bahwa kita lebih baik dibanding sebelumnya. Orangtua saya belum tahu bahwa saya muslim, tapi insyaAllah saya akan memberitahu melalui majalah ini. Sedangkan teman-teman, saya kehilangan banyak setelah menjadi muslim. Saya juga kehilangan relasi saya dalam film. Saya sedang membuat film tentang Yesus saat itu.

Kamu tertarik sekali ya pada bidang film. Apa kamu punya rencana membuat film yang berhubungan dengan Islam?

Saya memang berencana membuat film dan juga komik islami. Islam berkembang pesat di negara ini dan saya percaya ini adalah tanda-tanda dari Allah bahwa hari akhir zaman akan datang tak lama lagi, juga banyak keajaiban dalam Al-Qur'an yang telah terjadi. Allah sedang menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dari neraka, tapi itu tergantung juga bagaimana seorang muslim ikut menyebarkan. Saya ingin Islam dikenal lebih baik di negara ini (Amerika), dan saya ingin membuat film tentang Yesus (Nabi Isa); bahwa dia tidak mati, juga film tentang masa muda Nabi Muhammad.
If Allah wills, he will use me to do this task, for I trust in him, let Allah guide us all.

Kamu punya saran untuk orang yang ingin mempelajari Islam?

Buat saya Islam adalah lingkaran yang tiada habisnya. Saya ingin tahu lebih banyak, tapi semakin saya belajar semakin sedikit yang saya tahu. Ini membuat saya mengira-ngira; apalagi yang tidak saya tahu? So I want to know more. Tanda-tanda dari Allah sudah jelas, jadi saya sarankan untuk melihat keajaiban Al-Qur'an dan membandingkannya dengan Injil atau Taurat-- yang juga kitab dari Allah tapi telah diselewengkan manusia. Read the Qur'an, if God doesn't tell you through it, or give your clear signs then Islam is false religion.

Apa pendapat kamu tentang Indonesia?

Yang saya tahu Indonesia berpenduduk 88% muslim, pertanyaan saya; mengapa bukan 100%? Pasti sebagian muslim tidak menjalankan tugas mereka. Setiap muslim harus mengambil bagian dalam dakwah Islam, paling tidak membawa satu orang menjadi muslim. Jika seorang muslim telah berusaha dan tidak mendapatkan satu pun pengikut sebelum dia mati, maka Allah akan memberi reward. Muslim di Indonesia dapat menyebarkan Islam melalui internet, but please know what you are talking about and do not speak if you don't know the answer, because blasphemy is a great sin.

Kamu punya pesan buat pembaca Annida?

Saya punya tiga hal:
1. Saya lihat banyak Muslim yang telah Islam sejak lahir. Ini sebuah keuntungan dibanding mualaf. Tapi saya perhatikan banyak yang tidak beribadah. Ini tidak benar, so I tell them to wake up, or they will face the same punishment as the unbelievers.

Untuk mereka yang ingin berdakwah kepada nonmuslim, harus selalu membawa Al-Qur'an, jika mereka tertarik kita dapat memberikan mereka Al-Qur'an.

Bacalah Al-Qur'an paling tidak sehari sekali, meski hanya satu ayat.
Jika kita mencari pengetahuan Allah, maka Dia pasti akan memberikan. Allah cinta pada orang-orang yang berjuang untuk agama-Nya. [Dee, terima kasih banyak untuk Ustadz Syamsi Ali atas bantuannya]

Name: Franklin "Isa-Ali" Taveras II (Isa-Ali is my Muslim name)
Place/Date of Birth: New York, Queens, Sept 6, 1985
Nationality: Half Dominican and half Puerto Rican
Education: High School: Art and Design located in the New York City, I was there when the Towers fell (9/11). I currently attend Five Towns College studing film making.
Hobby: Drawing, reading working on my comics and script/screen play.

Dimuat di rubrik "Muda" Annida No 01/XV (September-Oktober)
 

11 September 2006

Seputar Mandi Wajib

 
Selasa,22-08-06/ThnVI
Seri Jendela Muslimah
===========
Seputar Mandi Wajib
 
Penyusun : Abu Salma al-Atsary
Definisi :
al-Ghaslu الغسل  artinya adalah تعميم البدن بالماء membasahi seluruh tubuh dengan air
 
Dalilnya :
1)      Firman Allah Ta’ala :  ( وإن كنتم جنباً فاطهروا)“Jika kamu dalam keadaan junub maka bersucilah” (al-Maidah : 6)
2)      Firman Allah Ta’ala : ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن ”Mereka bertanya kepadamu tentang darah haidh, katakan bahwa darah haidh itu kotor, maka jauhilah wanita-wanita yang sedang haidh janganlah kau dekati mereka hingga mereka suci.” (al-Baqoroh : 222)
 
Penyebab Wajibnya Mandi :
1)      Keluarnya mani baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tertidur.
2)      Jima’ (bersenggama) walaupun tidak keluar mani.
3)      Seorang kafir yang baru masuk islam.
4)      Berhentinya haidh dan nifas.
Dalilnya :
1)      Wajib mandi jika keluar mani baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim berkata : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, apakah wajib bagi wanita mandi jika mereka bermimpi?” Rasulullah menjawab : نعم إذا رأت الماء ”Iya jika dia melihat adanya air” (Muttafaq ’alaihi)
2)      Jima’ walaupun tidak sampai keluar mani maka wajib mandi berdasarkan hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata : Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : إذا قعد بين وإن لم ينزل شعبيها الأربع ثم جهدها فقد وجب الغسل ”Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi walaupun tidak sampai keluar” muttafaq ’alaihi dengan tambahan lafazh وإن لم ينزل dari Muslim.
3)      Seorang Kafir baru masuk islam wajib mandi berdasarkan riwayat Qais bin ’Ashim bahwasanya beliau masuk islam dan nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk mandi dengan air dan bidara. (Shahih diriwayatkan Nasa’i, Turmudzi dan Abu Dawud)
4)      Berhenti haidh dan nifas wajib mandi berdasarkan hadits Aisyah, bahwasanya nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada Fathimah binti Abi Hubaisy : ”Jika datang haidh maka tinggalkan sholat dan jika telah lewat maka mandilah dan sholatlah” (Muttafaq ’alaihi). Dan Nifas hukumnya sama dengan haidh menurut ijma’
 
Rukunnya :
1)      Niat.
2)      Membasahi seluruh badan dengan air.
 
Kaifiyat (cara)nya :
1)      Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan tiga kali.
2)      Mencuci kemaluan dan sekitarnya.
3)      Berwudlu’ secara sempurna sebagaimana wudlu’ akan sholat dan mengakhirkan membasuh kakinya hingga selesai mandi.
4)      Menyiramkan air ke kepala tiga kali sambil menyela-nyelai rambut agar air mengenai ke kulit kepala.
5)      Menyiramkan air ke seluruh tubuh yang dimulai dari bagian kanan kemudian bagian kiri dengan cara dipijat/ditekan sampai sela-sela jari jemari dan kedua lubang telinga.
6)      Membasuh kedua kaki.
Dalilnya :
ما جاء عن ائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا اغتسل من الجنابة بدأ فيغسل يديه ثم يفرغ بيمينه على شماله فيغسل فرجه ثم يتوضأ وضوءه للصلاة ثم يأخذ الماء ويخل أصابعه في أصول الشعر حتى إذا أنه (استبرأ حقن على رأسه ثلاث حثيات ثم أفاض على سائر جسده) رواه البخاري ومسلم وفي رواية بدأ بشق رأسه الأيمن ثم الأيسر. وكذلك حديث ميمونة في البخاري
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم jika mandi janabah beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya yang diawali dengan tangan kanannya kemudian tangan kirinya, kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudlu’ sebagaimana wudlu’nya akan sholat. Kemudian beliau mengambil air sembari memasukkan jari-jemarinya (menyelai-nyelai) kulit kepalanya sampai beliau memandang bahwa kulit kepalanya telah basah, lantas beliau mengguyur kepalanya dengan tiga gayung air, setelah itu beliau menyiram seluruh tubuhnya. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di dalam riwayat lainnya beliau memulai dengan menyelai-nyelai kepala bagian kanan kemudian kirinya. Demikian hadits Maimunah yang diriwayatkan Bukhari.
 
Masalah 1 :
Tentang kesepakatan ulama di dalam hal-hal yang mewajibkan mandi janabat.
Para ulama bersepakat bahwa mani yang keluar dengan syahwat maka wajib mandi baik laki-laki maupun wanita, baik ketika terjaga maupun tidur. Demikian pula wajib bagi wanita yang selesai dari haidh dan nifas untuk mandi.
Dalilnya :
Firman Allah Ta’ala : فإذا تطهرن فأتوهن ”Jika mereka telah suci maka datangilah mereka”
Hadits Fathimah binti Abi Hubaisy : دعي الصلاة قدر الأيام التي كنت تحيضين فيها ثم اغتسلي وصلي “Aku meninggalkan sholat beberapa hari di kala aku sedang haidh kemudian aku mandi dan aku sholat (di saat telah berhenti dari haidh)” Muttafaq ’alaihi.
 
Masalah 2 :
Mani yang keluar bukan karena syahwat
Para ulama berbeda pendapat tentang mani yang keluar bukan karena syahwat, seperti karena sakit atau karena dingin, menjadi dua pendapat.
Pendapat pertama : Tidak wajib mandi sebagaimana pendapatnya Imam Malik dan Abu Hanifah
Pendapat kedua : Wajib mandi sebagaimana pendapatnya Imam Syafi’i.
Dalil Pendapat Pertama :
1)      Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم mensifati mani yang wajib mandi adalah yang berwarna putih kental sebagaimana di dalam hadits Ummu Sulaim yang diriwayatkan Muslim bahwasanya beliau bertanya kepada Nabiullah صلى الله عليه وسلم tentang seorang wanita yang melihat di dalam mimpinya sebagaimana apa yang dilihat oleh seorang lelaki. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab : إذا رأت ذلك المرأة فلتغتسل ”Jika wanita melihatnya (mani, pent.) maka  wajib atasnya mandi”. Syahid dari hadits di atas adalah bahwasanya mani keluar dengan syahwat.
2)      Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ : إذا رأيت فضخ الماء فاغتسلي ”Jika seorang wanita melihat air yang memancar maka hendaknya mandi”. Dan الفضخ keluarnya dengan kuat.
3)      Hadits nabi صلى الله عليه وسلم yang berbunyi : ”Jika air keluar dengan memancar maka wajib mandi janabat dan jika tidak memancar tidak wajib mandi.” (Hasan Shahih di dalam Irwa’ul Ghalil). Imam Syaukani berkata : ”Memancar adalah menyembur, dan tidaklah akan demikian jika tidak disertai syahwat.” Oleh karena itu Syaikh Abdul Azhim Badawi berkata : ”Di dalam hadits ini terdapat peringatan tentang mani yang keluar karena bukan syahwat baik dikarenakan sakit ataupun dingin maka tidak wajib mandi.”
Dalil Pendapat Kedua :
1)      Hadits Ummu Sulaim, beliau berkata : Apakah wajib bagi seorang wanita mandi jika dia bermimpi? Maka nabi صلى الله عليه وسلم menjawab : نعم إذا هي رأت الماء ”Iya jika ia melihat adanya air” Muttafaq ’alaihi.
2)      Hadits Abu Sa’id al-Khudri beliaui berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : الماء من الماء ”air (untuk mandi) karena air (mani)” Diriwayatkan oleh Muslim.
Yang Rajih (kuat) adalah pendapat pertama, yaitu tidak wajib baginya mandi.
Bantahan terhadap hadits pertama adalah, sesungguhnya hadits tersebut menunjukkan mani yang keluar di saat mimpi adalah dengan syahwat.
Bantahan terhadap hadits kedua adalah, sesungguhnya hadits tersebut mansukh karena Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata : Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : إذا قعد بين شعبيها الأربع ثم جهدها فقد وجب الغسل ”Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi” Muttafaq ’alaihi. Dan dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : وإن لم ينزل ”Walaupun tidak sampai keluar (mani)”.
Syahid dari hadits di atas adalah : Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewajibkan mandi walaupun tidak sampai keluar (mani). Wallahu a’lam.
 
Masalah 3 :
Bermimpi namun tidak melihat adanya air (tidak basah)
Barangsiapa bermimpi namun dia tidak mendapatkan air (mani) maka tidak wajib mandi janabat, dan barangsiapa tidak ingat telah bermimpi namun mendapatkan air maka wajib atasnya mandi.
Dalilnya :
Dari Aisyah beliau berkata, ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang seorang lelaki yang mendapatkan basah namun ia tidak ingat telah bermimpi, maka beliau menjawab : dia wajib mandi. Beliau juga ditanya tentang seorang lelaki yang mengingat dirinya bermimpi namun dia tidak mendapatkan basah, maka beliau menjawab : dia tidak wajib mandi.” (Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dan Turmudzi).
 
Masalah 4 :
Perkataan ulama tentang menggosok tubuh dengan air ketika mandi.
Para ulama berbeda pendapat tentangnya menjadi dua pendapat :
Pendapat pertama : Menggosok hukumnya wajib menurut Malikiyah dan al-Muzanni dari kalangan Syafi’iyah.
Pendapat kedua : Menggosok tidak wajib hukumnya, dan ini adalah pendapat jumhur.
Dalil pendapat pertama :
Hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه yang berbunyi : تحت كل شعرة جنابة فبلوا الشعر وأنقوا البشرة ”Setiap bagian rambut terdapat janabah maka basahilah rambut dan ratakan seluruhnya” diriwayatkan oleh Turmudzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Sisi pendalilannya : bahwasanya الأنقاء (meratakan) tidak tidak menghasilkan الإفاضة (membasahi) namun menghasilkan التدليك (memijat/menggosok).
Dalil Pendapat kedua :
1)      Hadits Aisyah yang di dalamnya terdapat lafazh : ثم أفاض الماء على سائر جسده ”kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dengan air”. Muttafaq ’alaihi.
2)      Hadits Maimunah yang berbunyi : ثم أفرغ على جسده ”Kemudian menuangkan ke atas tubuh”. Riwayat Muslim.
3)      Hadits Ummu Salamah, beliau berkata : يا رسول الله إني أمرأة أشد ضفر رأسي أفأنقضه لغسل الجنابة قال لا إنما يكفيك ان تحثي على رأسك ثلاث حثيات ثم تفيضي عليه الماء فتطهرين ”Wahai Rasulullah sesungguhya aku adalah wanita yang lebat rambutnya, apakah perlu aku menguraikan rambutku ketika mandi janabat?” beliau menjawab, ”Tidak, sesungguhnya telah mencukupi kau mengguyurnya dengan tiga cidukan air kemudian ratakan maka kau telah bersuci.”
Sisi pendalilannya : Bahwasanya hadits Aisyah dan hadits Maimunah tidak menyebutkan di dalamnya tentang التدليك (memijat/menggosok), sesungguhnya yang disebutkan di dalamnya adalah إفراغ الماء (menuangkan air) yang kalimatnya datang dalam bentuk الحصر pembatasan dengan kata (إنما). Pembatasan ini menunjukkan bahwa التدليك (memijat) tidaklah wajib, dan jika seandainya wajib maka niscaya akan diperintahkan untuk melakukannya.
Yang Rajih adalah pendapat jumhur dikarenakan kuatnya dalilnya.
 
Masalah 5 :
Batasan dikatakan jima’ (bersenggama)
Yang dimaksud denga jima’ adalah ’bertemunya dua khitan’ walaupun  tidak sampai keluar mani. Dan batasan khitan bagi pria adalah kepala penis dan bagi wanita adalah daging yang tumbuh di bagian atas vagina (clitoris). Jadi batasan jima’ adalah bila kepala farji pria telah hilang (tidak tampak) masuk di dalam farji wanita. Jika hanya menggesek di permukaan farji wanita maka belum masuk ke dalam batasan jima’.
Jika seseorang melakukan ístimta’ (bersenang-senang) dengan isteri tidak sampai memasukkan farjinya hanya menggesek-gesekkan saja, namun keluar mani, maka wajib mandi wajib dari sisi keluarnya mani dengan syahwat bukan dari sisi jima’.
 
Masalah 6 :
Wajibkah bagi wanita yang panjang rambutnya menguraikan rambutnya?
Pendapat yang rajih adalah wajib bagi wanita yang mandi karena haidh agar menguraikan rambutnya namun tidak wajib menguraikan rambutnya bagi wanita yang mandi janabat.
Dalilnya :
Sifat mandi janabah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, Maimunah dan Ummu Salamah yang telah lewat penyebutannya.
Sifat mandi wajib karena haidh adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, suatu ketika Asma’ bertanya kepada nabi صلى الله عليه وسلم tentang mandi haidh, beliau menjawab : ”Ambillah air dan bidara dan bersihkanlah (farjimu) dengan sebersih-bersihnya, kemudian siramlah kepalamu dan gosoklah dengan kuat hingga mengenai seluruh bagian kepalamu, lalu siramlah dengan air. Setelah itu ambillah kapas yang dicelup wewangian dan sucikanlah dengannya.” Asma’ berkata : ”Bagaimana bersuci dengannya?” Nabi menjawab : ”Maha suci Allah bersucilah dengannya!” Aisyah berkata seakan-akan ia kawatir dengan akan tampaknya bekas darah.
Hadits ini merupakan dalil yang terang tentang perbedaan mandi janabat dengan mandi haidh, dimana pada mandi haidh nabi memberikan porsi tersendiri yang lebih menekankan pensuciannya dengan menggosok kepala dan menguraikan rambut, sedangkan tidak demikian pada mandi janabat. Hadits Ummu Salamah menunjukkan sifat mandi janabah yang tidak wajib menguraikan rambut. Secara asal, menguraikan rambut adalah sebagai peyakin supaya kulit kepala bisa terkena air namun hal ini dimaafkan pada saat mandi janabat karena intensitas mandi janabat relatif berulang-ulang dan karena timbulnya kesukaran yang sangat bagi wanita untuk menguraikan rambutnya setiap akan mandi janabat. Berbeda dengan mandi haidh karena hanya dilakukan sekali sebulan. (Tahdzib Sunan Abu Dawud oleh Ibnul Qoyyim (I/167/166) dengan sedikit perubahan).
 
Maraji’ :
1.      Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah karya Syaikh Abdul Azhim Badawy, Kitaab ath-Thohaaroh, Bab al-Ghaslu, hal. 44-46
2.      Marshd as-Salafiy as-Sudaaniy, Bab al-Ghoslu, oleh Ustadz Husain Jailani, http://www.marsd.net/
3.      Muhadharah Fiqh oleh al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc. di Ma’had as-Sunnah Surabaya (4 Muharam 1426/13 September 2005)

08 September 2006

SURAT AL MULK (1-5)

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Mulk 1 - 5:
"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala."

(Maha benar Allah dengan segala firman-Nya)
GAMBARAN SECARA RINGKAS:
Surat Al-Mulk merupakan surah Makiyyah. Ciri-ciri khas dari Surat-surat Makiyyah:

- memperkatakan persoalan menegakkan aqidah terhadap Allah, wahyu dan hari Akhirat dan mungkin konsep yang terbit dari aqidah ini, yaitu 'alam wujud dan hubungannya dengan pencipta-Nya.


- memperkenalkan Allah dengan pengenalan yang jelas yang membuat kesadaran terhadap Allah itu hidup di dalam hati, yang mempengaruhi, mengarahkan dan menimbulkan perasaan-perasaan yang sesuai bagi seorang hamba yang menghadapkan wajahnya kepada Allah.


- memperkenalkan adap sopan santun hamba dengan Allah dan memperkenalkan nilai-nilai dan ukuran-ukuran yang harus digunakan oleh orang Islam dalam menilai segala sesuatu, peristiwa-peristiwa dan individu-individu.


Surat Al-Mulk ini merupakan contoh yang tepat surat Makiyyah dengan segala ciri khasnya. Surat AL-Mulk memjelaskan persoalan menegakkan satu kefahaman baru terhadap 'alam al-wujud dan hubungannya dengan pencipta-Nya. Satu kefahaman yang amat luas yang melewati alam bumi yang sempit dan ruang dunia yang terbatas dan menjangkau ke alam langit dan alam hidup di Akhirat. Di samping itu, Surat Al-Mulk juga menjangkau makhluq-makhluq selain manusia di alam bumi seperti jin dan burung-burung, dan makhluq-makhluq di alam akherat seperti neraka dan penjaga-penjaganya, juga ke alam ghaib yang yang terikat dengan hati dan perasaan manusia. Dengan ikatan itu hati dan perasaan manusia tidaklah semata-mata tertumpu sepenuhnya kepada kehidupan yang dhohir di bumi ini saja.


Begitu juga surat ini merangsang hati manusia supaya memerhatikan dan meneliti kejadian yang serba tersegam di hadapan dan di dalam kehidupan kita sehari-hari dan di dalam tubuh kita sendri dan sebagainya dari kejadian yang dilalui dengan hati yang lalai.
==============================
bersambung insya Allah .........

PERSPEKTIF DAN TAFSIR DARI AYAT 1-5:
Wabillahi Taufiq wal hidayah
Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

06 September 2006

Hari Pertama Ramadhan Kemungkinan Besar 24 September 2006

Selasa, 5 Sep 06 16:09 WIB eramuslim
Lembaga Pengamatan Hilal, menetapkan tanggal 24 September 2006 bertepatan dengan hari Ahad, merupakan hari pertama bulan Ramadhan Mubarak.
Harian Quds Pers, melaporkan perkataan Ir. Muhammad Syaukat Audah sebagai kepala Lembaga Pengamatan Hilal, “Tidak tampaknya bulan di langit setelah matahari terbenam hari Jum’at (22/9) menyimpulkan mustahil hari Sabtu (23/9) sebagai awal Ramadhan. Prinsip seperti ini berlaku di semua negara yang mensyaratkan ru’yat hilal sebagai awal Ramadhan, meskipun dalam kondisi tertentu hilal tidak dapat terlihat. Hal ini dikaji melalui kajian ilmu falak.”
Terkait ru’yatul hilal bulan Ramadhan hari Sabtu 23 September, Audah menegaskan, bahwa proses ru’yatul hilal bisa dilakukan oleh para pemantau di Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Utara, Afrika Tengah, dan Amerika Utara. Tapi ia menyampaikan hilal dapat lebih mudah dilihat dengan mata telanjang dari Afrika Selatan dan Amerika Selatan.
Selain itu ia mengatakan, “Dari sini kami perhatikan sulit melihat hilal di hari Sabtu. Maka dengan berlandaskan ru’yatul hilal sebagai awal bulan hijriyah, awal bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari Ahad, 24 September di sebagian besar negara dunia. Sedangkan bagi wilayah wilayah yang tak dapat melihat hilal hari Sabtu, maka awal Ramadhan adalah 25 September 2006.
Lembaga Pengamatan Hilal didirikan tahun 1998 dan kini telah menghimpun kurang lebih 300 anggota dari para ulama falak dunia Islam. Tanggal 13-14 Desember mendatang mereka akan mengadakan konferensi di Abu Dabi, Emirat Arab. Dalam acara tersebut, mereka akan membicarakan berbagai problematika ru’yatul hilal, khususnya menyamakan penentuan awal bulan hijriyah di berbagai negara dunia. (na-str/iol)


05 September 2006

Wanita Haid Dan Puasa

Selasa,15-08-06/ThnIV
Seri Jendela Wanita

Wanita Haid Dan Puasa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Sahkah Puasa Bila Haid Berhenti Sebelum Fajar
Tanya :
Jika haid berhenti sebelum fajar lalu bersuci, maka bagaimana hukumnya ?
Jawab :
Puasanya tetap sah bila wanita yakin bahwa haidnya berhenti sebelum fajar. Berarti yang penting ada keyakinan bahwa ia telah berhenti haidnya. Memang ada sebagian wanita yang mengira haidnya telah berhenti padahal tidak. Karena itu para wanita dengan membawa kapas (tanda bekas darah haid) datang kepada Aisyah untuk memperlihatkan tanda haid berhenti. Aisyah berkata : "Kalian jangan tergesa-gesa sebelum kalian melihat cairan putih".
Oleh sebab itu, seorang wanita yang terburu-buru berpuasa sebelum yakin dirinya telah berhenti haid. Ketika telah yakin tak berhaid, barulah berniat puasa walau mandi haidnya dilakukan setelah fajar. Tetapi sebaiknya setelah haid berhenti, hendaklah seorang wanita cepat mandi untuk segera shalat fajar tepat pada waktunya, sebab wanita haid wajib segera mandi untuk shalat pada waktunya bahkan ia berhak mempersingkat mandinya. Juga ia tak dilarang untuk menambah kebersihannya setelah terbit matahari. Hal seperti ini berlaku pula bagi yang junub, baik wanita atau laki-laki. Dalam suatu riwayat diterangkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mandi junub setelah fajar terbit padahal beliau sedang berpuasa.
Assunnah

04 September 2006

AL MAA'UUN

Posting : Senin; 14/08/06
Edisi : Kajian Islam
Sumber : tarbiyah@isnet.org

AL MAA'UUN
(Bertolong-tolongan, surat ke-107)
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim.
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
5. yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.
6. orang-orang yang berbuat riya'
7. dan enggan bertolong-tolongan.
Surat pendek ini termasuk golongan surat Makkiyah-Madaniyah,tiga ayat pertama Makkiyah dan sisanya Madaniyah, membahas dan mengkaitkan secara langsung hakekat dien dan penyembahan dengan mu'amalah--menghubungkan secara tegas dalam nash antara soal ritual dengan sosial. Maka kesimpulan luar biasa tak akan dapat dipungkiri, bahwa Islam, agama ini, adalah suatu sistem yang komplit dan hidup, saling mengisi antara ibadah dan syiarnya, antara kewajiban individu dengan sosialnya, yang kesemuanya berakhir di suatu titik puncak kemanusiaan, puncak yang mensuci-kan hati dan membahagiakan hidupnya.
Dalam perspektif agama ini, maka aktivitas ritual-sakral dengan sosial hilang-lenyap, yang ada hanya ketunggalan makna ibadah, ibadah kepada Rabb Yang Agung, yang menciptakan manusia secara berpasang-pasangan, bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling berta'aruf, saling bertolongan dalam kebenaran dan penegakkan nama Allah di Bumi. Tak ada satu detikpun aktivitas manusia di luar domain ibadah, karena tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, menghambakan diri, menjadi budak, dan terikat kepada Allah, ilah manusia, raja manusia, penguasa manusia. Agama ini memandang aktivitas sosial mempunyai makna ritual, selama aktivitas itu diiringi dengan niat yang ikhlas dalam rangka mencari ridlaNya. Juga aktivitas ritual, seperti shalat, mempunyai makna sosial, bila dilaksanakan dengan khusu dan benar. Ringkasnya dalam agama yang tak mengenal sekularisasi ini, tak akan pernah dapat dipisahkan antara ritual dan sosial, manusia sebagai makhluk pribadi atau kelompok, aktivitas untuk
kebaikan diri sendiri, masyarakat, atau hanya untuk Allah. Semuanya saling mengkait, inilah dien yang sempurna dan mengagumkan.
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Mengapa ?
Karena, pembenaran agama berkait dengan nasib anak yatim dan hidup orang-orang miskin, karena shalat berkait dengan tolong-menolong dalam kebenaran. Dan ini dengan gamblang teramati dari ayat-ayat di atas.
Iman dan mengakui kebenaran agama ini dimulai dari hati, meningkat pada fikrah, lalu amal. Amal adalah batu uji empiris, verifikasi dari iman dan pengakuan pembenaran agama. Hati yang
telah tersibgha (terwarnai) dengan pewarnaan Allah akan menghasil-kan fikrah yang Islami dan amalan yang Islami. Bukankah hanya dusta belaka mereka yang berkata memahami dinnullah, namun buruk amalan-nya ? Bukankah hanya riya' dan lalai saja mereka yang shalat, namun
tak pernah saling tolong, amar ma'ruf nahi munkar ? Bukankah shalat adalah tiang agama, dan shalat mampu mencegah perbuatan keji dan munkar? Bukankah kalau shalatnya baik, maka baiklah semua amalannya ?
Demikian tinggi kedudukan shalat, karena sejak takbir awal sampai salam, shalat berisi janji, sumpah dan penyerahan diri total, pengakuan diri bahwa kita adalah hamba Allah, budak Allah, budak tak berharga yang tak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah. Kita nyatakan Allah Maha Besar, maka kecillah penguasa lalim, kecillah hawa nafsu akan harta duniawi, pangkat dan kekuasaan. Kecillah kekuasaan manusia atas manusia. Semua kecil, hanya dan hanya Allah yang besar. Kita berjanji menyerahkan shalat, hidup, dan mati hanya kepada Allah, hanya pada jalan Allah, hanya untuk berjuang menegakkan agama Allah, hanya ingin jadi prajurit setia
jundullah tak gentar pada penguasa lalim, karena Allah Maha Besar.Kita meminta tolong hanya kepada Allah dan tidak pada yang lain,kita berjanji untuk takut, cinta, dan hanya ikut kepada Allah
sesembahan kita, Tuan kita dimana jiwa kita ada ditanganNya. Kita puji Allah dengan setinggi-tinggi pujian. Lalu, manakala salam kita ucapkan doa kita panjatkan dan kehidupan harian berlangsung lagi, sadarkah kita akan janji, sumpah, dan penyerahan diri yang kita ulang-ulang lebih dari 5 kali sehari ? Masih ingatkah kita akan semua yang telah kita katakan pada Allah, Tuhan manusia, mana-kala pekerjaan, studi dan dinamikanya menenggelamkan kita ?
Adakah perasaan takut akan azab, manakala kelalaian kita ulang dan terus ulangi ? Sudah demikian kasar kah hati kita sehingga dengan gampang saja bersumpah dan berjanji pada Zat Yang Agung yang menciptakan kita dan roh kita dalam genggamannya, lalu melupakan janji dan sumpah itu ? Sudah demikian pekak kah kita manakala nasehat datang pun tak pernah kita pedulikan ? Apakah hati kecil kita mengganggap Allah tak dapat mencabut roh kita jiwa
kita secara mendadak dan memberikan penyesalan panjang pada kita? Apakah kesombongan telah melanda kalbu kita, sehingga meremehkan sumpah kepada Rabb manusia ?
Sesungguhnya sangat besar murka Allah pada mereka yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya.
Ketinggian makna inilah yang menyebabkan shalat equal dengan tiang agama. Dan hanya lalai saja shalat seorang hamba kalau tak ada tranformasi maknawi shalatnya dalam realitas sosial yang melingkupi.
Transformasi iman, pemahamn dien, dan shalat dalam dimensi sosial adalah amal. Inilah roh aqidah dan tabiat agama ini, agama yang lurus. Semoga, kita termasuk dalam golongan hamba
yang khusu dalam shalat, yang selalu dikuatkan keimanan dan saling-tolong dalam kebenaran, amien, amien ya Rabbal alamin.

Wallahu a'lam bishowab
jabu zahra