Oleh : Redaksi 12 Mar, 07 - 5:00 pm
"Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, " begitulah pernyataan yang
dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset
oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci
Makkah saat ini.
Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji
umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis,
Ka'bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim
sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.
Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. "Hal
ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah
mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda
lihat cuma semen dan kaca, " ujar Ahmad serius.
Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat
ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat
perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai
kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.
Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait
Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( www.abrajalbait.com ), salah satu mall
terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006
kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya
lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko
pakaian dalam.
Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel
yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai
tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia,
dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.
Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu
juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi
baru.
Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji
umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis,
Ka'bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim
sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.
"Ini adalah akhir dari Makkah, " kata Irfan Ahmad dari London, pendiri
Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan
peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat
lainnya di Arab Saudi.
"Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah
yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang
lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu,
" tukas Irfan.
Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di
Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji.
Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya
tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.
Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di
kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah
Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat
bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh
para pengunjung.
Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300
tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan
masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan
dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.
"Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau
lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, " kata Sami Angawi, seorang
arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.
"Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini,
" sambungnya.
Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana
para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada
lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut
para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur
untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.
Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar
memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad
melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan
penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan
kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan
uang mengalahkan segala-galanya.
"Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat
sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh
lebih, lebih buruk lagi, " kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)
source link : http://swaramuslim.com/FOTO/more.php?id=5516_0_10_0_M


















0 komentar:
Post a Comment