31 October 2006

KAJIAN UCAPAN SELAMAT 'IED MENURUT HADITS DAN FIQH

Oleh : Abi AbduLLAAH, Nabil bin Fuad Al-Musawa

KAJIAN HADITS

Syaikh Albani berkata[1] : "Hadits di atas dicantumkan oleh As Suyuthi dalam risalahnya[2] , dan diperkuat oleh Zahir bin Thahir[3]. Diriwayatkan juga oleh Al-Mahamili[ 4], ia berkata : Telah menceritakan pd kami Mubasysyir bin Isma'il Al-Halbi dari Shafwan bin Amru As-Saksakiy berkata : "Aku mendengar AbduLLAH bin Bisru, AbduRRAHMAN bin 'Aidz, Jubair bin Nufair dan Khalid bin Ma'dan berkata pd kedua Hari Raya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum dan mereka mengkatakan demikian diantara mereka." Dikeluarkan juga oleh Abul Qasim Al-Asbahani[ 5] dan 2 riwayat ini shahih, karena para sahabat melakukan ini, sehingga diikuti oleh para tabi'in yg disebut di atas, waLLAHu a'lam.

Ibnu Turkmani menyebutkan[ 6] dari riwayat Muhammad bin Ziyad Al-Alhani berkata : "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka.[7]" Dan diperkuat oleh As-Suyuthi dg matan : "Aku melihat Abu Umamah Al-Bahiliy berkata pd Hari Ied kepada sahabatnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum." Kemudian sebagian ikhwah kami para pelajar menambahkan bhw telah berkata Al Hafizh Ibnu Hajar[8] : "Dalam "Al Mahamiliyat" dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata dst." [Sekian Kutipan dari Albani]

Adapun riwayat dari Tabi'ut Tabi'in dan Ulama Salaf diantaranya, seperti riwayat Adham salah seorang bekas hamba sahaya Umar bin Abdul 'Aziz berkata : "Kami mengucapkan saat kedua Hari Raya kepada Umar bin Abdul Aziz : Taqabbalallahu minnaa wa minka wahai Amirul Mu'minin, maka beliau menjawabnya dan tidak melarang kami mengucapkan hal tsb.[9]"

KAJIAN FIQH

Menurut Ulama Hanafiyyah bhw hal tsb tidak diingkari (la inkara bihi) dan boleh (ijaza) mengucapkannya[ 10]; menurut Ulama Malikiyyah tidak apa2 menjawabnya, berkata Imam Malik : Aku tidak mengenalnya tapi aku juga tidak mengingkarinya. Berkata Ibnu Habib : Aku melihat sahabat2 Imam Malik tidak memulai ucapan tsb tapi mereka menjawabnya, tapi tidak mengapa memulainya[11] ; menurut Ulama Syafi'iyyah boleh mengucapkannya, dan sebagian menyatakan boleh ditambahkan ucapan semisalnya, spt AhyakumuLLAH atau Kulla 'amin wa antum bikhair atau 'A'adahuLLAH 'alaykum Bikhair [12]; menurut ulama Hanabilah mubah mengucapkannya, tidak sunnah juga tdk bid'ah, Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulainya, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku akan menjawabnya[ 13].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada Hari Raya yg dilakukan orang2 seperti ucapan 'Ieduka Mubarak dan yg serupa dengannya, apakah ada asalnya dlm syari'at atau tidak? Jika ada asalnya maka apa yg diucapkan? Maka beliau menjawab[14] : "Ucapan pada Hari Raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Id : Taqabbalallahu minnaa wa minkum. (yang artinya) : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian, Wa ahaalallahu 'alaika dan yg semisalnya, maka telah diriwayatkan dari beberapa shahabat ra bhw mereka melakukannya dan diberi rukhshah oleh para Imam, maka barangsiapa yg melakukannya baginya ada contoh dan barangsiapa yg tidak melakukannya baginya juga ada contoh." WaLLAHu a'lam.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

[1] Tamamul Minah [I/354]

[2] Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani" [hal-109] dlm juz-I dari kitab Al Haawi lil Fatawi

[3] Tuhfatu Iedul Fithr

[4] Shalatul Iedain, [II/129/2] dg sanad yg semua rijal-nya tsiqat dan dg sanad yg shahih, tetapi ada perbedaan Habib bin al-Walid dlm sanad-nya sehingga tdk marfu' sampai pd sahabat Nabi SAW

[5] At-Targhib wa Tarhib, [I/42-II/41]

[6] Jauharun Naqiy, [III/320]

[7] Imam Ahmad menyatakan : "Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)"

[8] Fathul Bari, [II/446]

[9] HR Thabrani dlm Syu'abul Iman, [VIII/234 no. 3565]

[10] Al-Bahrur Ra'iq Syarh Kanzud Daqa'iq, [V/206]

[11] At-Taj wal Iklil Li Mukhtashar Khalil, [II/301]; juga Mawahib al-Jalil fi Syarhi Mukhtashar Syaikh Khalil, [V/308]; juga Al-Fawakih ad-Diwani 'ala Risalati Ibnu Abi Zaid Al-Qayruniy, [III/244]

[12] Hawasyi Asy-Syarwaniy, [III/56]; juga dlm Asna Al-Mathalib, bab Faidah At-Tahni'ah bil 'Ied [IV/121]; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, [X/203-204]; juga dlm Mughnil Muhtaj ila Ma'rifatil Alfazh, [IV/141]; juga Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, bab At-Tahni'ah bil 'Ied, [VII/410-411] ; juga Hasyiyyah Al-Bujairamiy 'alal Khathib, [V/426, 434]

[13] Asy-Syarhul Kabir, [II/259]; Al-Iqna' , [I/174]; Al-Furu' Libni Muflih, [III/137]; Al-Inshaf, [IV/153]; Syarhun Muntaha' Al-Iradat, [II/329]; Kasyaful Qana' An Matanul Iqna', [IV/225]; Al-Mughni [IV/274]; Manarus Sabil Syarhud Dalil, [I/104]

[14] Majmu' Al-Fatawa, bab Mas'alah at-Tahni'ah fil Ied, [V/430]

 

19 October 2006

Bolehkah Zakat Fithr Diganti Dengan Uang?

Assalamu'alaikum,

Saya mempunyai pertanyaan ustadz:

1. Bolehkah mengganti bahan makanan untuk zakat fitrah dengan sejumlah uang?

2. Saya pernah mendapatkan keterangan bahwa bahan makanan yang kita berikan untuk zakat fitrah adalah yang sesuai dengan bahan makanan pokok kita sehari - hari. Saya setiap hari makan di rumah makan yang berbeda dan tentu saja berbeda - beda kualitas makanan pokoknya. Yang terbagus tentunya mempunyai harga dasar beras yang paling mahal. Manakah yang saya jadikan patokan zakat fitrah saya?

3. Kapankah waktunya pembayaran zakat fitrah?

Jazakallah atas jawabannya.

Assalamu'alaikum,
Indra


Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

 

Konversi Zakat Fithr dengan Uang

Sebenarnya kalau kita lihat filosofi zakatul fithr adalah zakat yang bersifat "cepat tanggap." Maksudnya, zakat itu diberikan pada malam lebaran atau paling lambat pada pagi hari tanggal 1 Syawwal sebelum kita melakukan shalat 'idul fithr, lalu para penerimanya bisa langsung menikmatinya di hari yang sama.

Dari segi bentuknya, zakat ini memang berbentuk bahan pangan yang bisa mengenyangkan. Sehingga di hari fithr itu, diharapkan tidak ada lagi orang yang harus menahan lapar karena kemiskinannya. Semua orang harus terisi perutnya di hari itu, karena hari itu adalah hari raya fithr, yaitu hari raya dimana semua orang tidak puasa. Kata fithr itu sendiri berasal dari ifthar, yang maknanya berbuka puasa. Dan berpuasa pada hari fithr itu sendiri hukumnya haram.

Maka amat wajar bila Rasulullah SAW mensyariatkan untuk memberikan makanan pokok di hari itu kepada fakir miskin. Sebab dengan memberi mereka makanan langsung, bisa segera dimakan. Sedangkan kalau memberi dalam bentuk uang, belum tentu segera bisa dibelikan makanan. Bayangkan di zaman itu tidak ada restoran, rumah makan, mall, super market 24 jam dan sebagainya. Padahal waktu membayar zakat fitrah itu pada malam lebaran. Bisa-bisa di hari raya, orang miskin itu punya uang tapi tidak bisa makan. Ini hanya sebuah analisa.

Namun Imam Abu Hanifah membolehkan mengganti makanan itu sesuai dengan harganya. Pendapat beliau nampaknya lebih sesuai dengan kondisi sekarang ini. Uang di masa kita ini telah menjadi alat tukar yang sangat praktis. Dan bahan-bahan makanan di hari raya fithr itu di zaman kita ini masih tersedia. Karena itu para ulama di masa kini melihat bahwa dengan membayar zakatul fithr menggunakan uang, lebih banyak mashlahatnya ketimbang dengan beras atau bentuk makanan yang lainnya.

Meski demikian, perlu juga dilihat realita sebenarnya. Justru tepat pada hari lebaran, begitu banyak warung atau restoran yang tutup lantaran pemiliknya pada pulang kampung. Paling tidak, sebagain besar warung tegal di Jakarta ikut tutup. Jadi kalau ada seorang miskin ingin beli makanan di hari raya fithr, boleh jadi dia agak sedikit mengalami kesulitan juga. Yaitu bila dia ingin makan di 'warteg' favoritenya.

 

Jenis Makanan

Kita tahu bahwa jenis makanan tiap orang berbeda-beda. Dan nilainya pun pasti berbeda. Untuk ukuran kita di Jakarta pada tahun 2005 ini, katakanlah sekali makan di warung nasi pinggir jalan paling murah seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Tapi kadangkala kita masuk restoran mewah yang tiap orang bisa kena harga hingga puluhan bahkan ratusan ribu untuk sekali makan. Tetapi memang yang seperti tidak terjadi setiap hari.

Jadi yang kita tetapkan sebagai ukuran adalah makanan yang paling sering kita makan atau yang menjadi standar menu makan kita sehari-hari, bukan yang kadang-kadang kita makan. Namun juga tidak salah kalau kita ingin melebihkan pemberian kita kepada fakir miskin di hari yang berbahagia itu. Silahkan lebihkan dari porsi biasanya dan insya Allah akan lebih baik.

Besar harta yang harus dikeluarkan adalah satu sha' gandum, kurma atau makanan sehari-hari. Bila dikonversikan ke bentuk beras menjadi 2, 176 kg. Dalam mazhab Hanafi, pembayarannya boleh dikonversikan dalam bentuk uang seharga 1 sha' itu sesuai dengan jenis makanan di negeri masing-masing.

 

Kapan Dibayarkan

Zakat Fithr diberikan pada malam 1 Syawwal hingga shalat Iedul Fithr dan boleh dimajukan pembayarannya dua tiga hari sebelum itu. Bahkan ada juga yang membolehkan sejak awal Ramadhan.


Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc

 

sumber : eramuslim (rubrik tanya-jawab)

13 October 2006

TINJAUAN DALIL-DALIL TENTANG LAYLATUL-QADAR

 "Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) itu pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin RABB-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."
 
 1.      Menghidupkan malam Laylatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang :
 Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW : "Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu." (HR Bukhari, I/61, hadits no. 34)
 
2.      Menggapai Laylatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa :
 Dari Abu Hurairah ra Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam Iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari, VI/468, hadits no. 1768)
  
3.      Mencari Laylatul Qadar itu pada 10 malam yg terakhir :
 Dari Aisyah ra berkata : "Adalah Nabi SAW biasa mencari Laylatul Qadar pada 10 malam yang terakhir." (HR Bukhari, VII/147, hadits no. 1880)
  
4.      Mencari Laylatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut terutama pada malam-malam Witirnya :
 Dari Aisyah ra : "Adalah Nabi SAW mencari Laylatul Qadar pada malam2 witir di 10 hari terakhir." (HR Bukhari, VII/145, hadits no. 1878)
 
5.      Hadits paling seringnya tentang Laylatul Qadar adalah tanggal 27 tapi terjadi juga tanggal 23-nya :
 Dari AbduLLAAH bin Unais ra, bersabda Nabi SAW : "Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Shubuhnya aku sujud di tanah yg basah, lalu kata Abdullah : Maka turun hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi SAW shalat Shubuh bersama kami, lalu beliau SAW pulang dan nampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau SAW, lalu dikatakan : Maka Abdullah bin Unais berkata tanggal 23 itulah Laylatul Qadar." (HR Muslim, VI/80, hadits no. 1997)
 
6.      Laylatul Qadar itu bisa didapati dalam keadaan jaga maupun juga dalam mimpi yang benar :
  Dari Ibnu Umar ra : "Ada beberapa orang laki-laki sahabat Nabi SAW yang bermimpi melihat Laylatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda Nabi SAW : Aku juga melihat apa yang kalian mimpikan itu jatuhnya pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir tersebut." (HR Bukhari, VII/142, hadits no. 1876)
  
7.      Laylatul Qadar itu tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan :
 "Pada malam Laylatul Qadar itu tidak panas & tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dengan bintang-bintang, tanda di pagi harinya adalah Matahari terbit bercahaya lembut." (HR As-Suyuthi dalam Jami' Shaghir, di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahihul Jami', XX/175, no. 9603)
 
8.      Tapi kadang2 Laylatul Qadar itu disertai juga dengan hujan :
 Dari Abu Said Al-Khudriy ra, bersabda Nabi SAW : "? Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yg ingin mencarinya maka carilah pada 10 hari terakhir pada malam-malam witirnya dan aku melihat diriku pada malam tersebut sujud di atas tanah yang basah? Maka kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, maka tiba-tiba ada awan dan turun hujan sampai airnya menembus sela-sela atap masjid yang terbuat dari pelepah Kurma, maka aku melihat Nabi SAW sujud di atas tanah yang basah, sampai kulihat bekas tanah yang basah itu di dahi beliau SAW." (HR Bukhari, VII/174, hadits no. 1895)
 
9.      Pagi hari setelah Laylatul Qadar cahaya Matahari putih tapi tidak silau :
 Berkata Ubay bin Ka'ab ra : "Demi ALLAH yg Tiada Ilah kecuali DIA, sungguh malam terssbut ada di bulan Ramadhan, aku berani bersumpah tentang itu dan demi ALLAH aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Nabi SAW untuk menghidupkannya yaitu malam 27 dan tanda-tanda nya adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih tapi tidak menyilaukan." (HR Muslim, IV/150, hadits no. 1272)
 
10.  Laylatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang Iman & Mengharap Ridho ALLAH SWT :
 Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa yang bangun saat Laylatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi SAW : Dan orang tersebut beriman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Muslim, IV/147, hadits no. 1269)
 
11.  Saat Laylatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari Kerikil :
 Bersabda Nabi SAW : "Laylatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh Malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil." (HR Thayalisi dalam Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya II/223)
  
12.  Apakah doa yang paling baik dibaca saat Laylatul Qadar?
 Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika aku tahu bahwa malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yang paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW : "Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku."  (HR Ahmad, Ibnu Majah & Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani dalam Al-Misykah, I/473 no. 2091)
 

11 October 2006

Shaum, Kesehatan dan Etos Kerja

Pendahuluan

Agama Islam adalah agam yang diturunkan Allah, melalui Rasul-rasul-Nya. Di antaranya membawa peraturan-peraturan dan hukum yang harus ditaati manusia muslim. Peraturan itu tidak akan berubah dan telah sempurna. Ajaran Islam mencakup seluruh bidang kehidupan manusia di dunia ini, termasuk bidang kesehatan.

Di antara sabda Nabi Muhammad Saw tentang kesehatan, adalah : “ Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.”

Islam mengatur kesehatan dan menentukan untuk apa kita harus sehat serta menjelaskan tujuan hidup kita di dunia. Tentang tujuan hidup manusia, Allah berfirman, “ Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku ”.

Sabda Rasulullah saw., “ Mohonlah kepada Allah keselamatan dari penyakit dan bala, sesungguhnya, tiada suatu pemberian Allah sesudah iman yang lebih baik dari keselamatan.”

Definisi Shaum

Secara bahasa (lughoh), shaum berarti imsak (menahan diri), yaitu menahan diri secara umum, apakah menahan diri dari berbicara, bergerak, makan, dan minum.

Secara istilah syar’i, shaum adalah menahan diri dari dua syahwat, yaitu syahwat perut dan syahwat seksual. Menahan diri dari makan dan minum serta mencampuri istri, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari (maghrib).

Puasa (shaum) harus dikerjakan sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw., yaitu dengan menjaga segala sesuatu yang membatalkan puasa. Menjaga adab-adab puasa yang merusak nilai puasa dan mengerjakan amalan-amalan yang dianjurkan selama puasa.

Pengertian Sehat

Keadaan sehat bukan semata-mata dari kondisi fisik seseorang saja, tapi keadaan psikis dan sosialnya juga menentukan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuat defisi sehat, sebagai berikut :

“ Health is a condition of physical, mental, and social well-being and not just merely the absent of disease and infirmity.”

Sehat adalah suatu kondisi dimana terdapat keadaan yang baik (sehat) dari fisik, mental, dan sosial, bukan hanya sekedar terbebas dari penyakit dan kecacatan.
Puasa dalam hubungannya dengan kesehatan, akan memberikan pengaruhnya yang sangat positif dan mendasar, yaitu menghadapi permasalahan kesehatan dari segi pendekatan promotif, preventif, dan kuratif.

Dengan berpuasa, seseorang akan mengatur perilaku hidupnya. Mengatur atau menahan hawa nafsunya dari berbagai perilaku yang merugikan kesehatan, baik fisik, mental, maupun sosial. Karena sebagaimana kita ketahui, bahwa perilaku seseorang atau masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan seseorang atau masyarakat tersebut.

Misalnya, suka makan terlalu banyak akan menyebabkan kegemukan, yang akan memberikan resiko kepada beberapa jenis penyakit. Perilaku penyimpangan seksual akan menyebabkan terjadinya berbagai penyakit kelamin yang berbahaya. Merokok dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan jantung dan sebagainya.

Para sarjana telah melakukan penelitian terhadap sejumlah gejala dan tindak kejiwaan yang dibawa oleh syari’at seperti shalat, puasa, kasih sayang dan sebagainya. Mereka mencoba untuk menemukan pengaruh dari ajaran ini pada sel-sel tubuh manusia, apa yang terjadi pada sel-sel otak dan sel-sel tubuh lainnya?

Penelitian ilmiah ini sampai pada suatu kenyataan yang mengagumkan, yang menambah keimanan mereka. Sehingga, mereka menjadi tekun beragama dan teguh menjalankan syari’at-syari’at-Nya. Benarlah apa yang difirmankan Allah, “ Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama (cendekiawan)” (Fathir : 28)

Terhadap Tubuh/Jasmani, puasa memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan, antara lain:
  1. Pemeliharaan tubuh dari sisa-sisa kelebihan zat tubuh pada sel.
    Dalam keadaan puasa, tubuh akan menggunakan zat-zat makanan yang tersimpan. Sekiranya zat makanan tersebut habis, maka mulailah digunakan atau dioksidasi jaringan-jaringan tertentu.

    Bagian tubuh yang paling pertama digunakan adalah bagian yang terlemah atau sakit, seperti jaringan dengan peradangan dan pernanahan. Dari jaringan tersebut yang pertama diproses adalah jaringan yang rusak atau telah tua, untuk selanjutnya dikeluarkan oleh tubuh.
    Puasa dalam hal ini bertindak sebagai pisau operasi yang membuang sel-sel yang rusak atau lemah dari bagian tubuh yang sakit. Selanjutnya memberi kesempatan kepada peremajaan sel-sel, sehingga lebih aktif.

  2. Melindungi Manusia dari Penyakit Gula
    Pada waktu puasa, kadar gula darah akan turun. Hal ini menyebabkan kelenjar pankreas berkesempatan untuk istirahat. Kita mengetahui fungsi kelenjar ini adalah untuk menghasilkan hormon visulin. Hormon ini berfungsi mengatur kadar gula dalam darah, mengubah kelebihan gula menjadi glukogen yang disimpan sebagai cadangan di otot dan hati.

  3. Menyehatkan Sistem Pencernaan
    Di waktu puasa, lambung atau sistem pencernaan lainnya akan istirahat selama lebih kurang 12-14 jam, selama lebih kurang satu bulan. Jangka waktu ini cukup mengurangi beban kerja lambung dari makanan yang bertumpuk dan berlebihan.

  4. Puasa Mengurangi Berat Badan yang Berlebih
    Puasa dapat menghilangkan lemak dan kegemukan, secara ilmiah diketahui bahwa rasa lapar tidaklah karena kekosongan perut dari makanan semata, tetapi juga dipengaruhi penurunan kadar gula dalam darah.

    Oleh karena itu dianjurkan berbuka dengan yang manis terlebih dahulu, sehingga bisa mengurangi makan yang berlebihan pada waktu berbuka, sehingga tidak menghilangkan hikmah puasa yang mengharuskan hemat, zuhud, melatih nilai rohani, dan lain-lain.


Etos Kerja dalam Islam

Dalam konsep Islam, kerja atau pekerjaan seseorang tidak terlepas dari fungsi hidupnya di muka bumi ini yairu mengabdi kepada Allah swt. semata (Q.S. Adz-Dzariyat : 56). Dalam konsep Islam, pekerjaan seseorang merupakan bagian dari usahanya dalam memfungsikan dirinya sebagai hamba yang selalu mengabdi kepada Allah swt. Oleh karena itu, pekerjaan merupakan ibadah. Dengan kesadaran demikian, maka hampir tidak mungkin seseorang akan melakukan penyelewengan atau kecurangan dalam pekerjaannya.

Puasa sebagai salah satu motivator bagi perbaikan kehidupan rohani dan jasmani seseorang, secara tidak langsung juga akan meningkatkan kebaikan nilai kerja dan usaha-usahanya. Seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah bahwa Allah menyukai seseorang yang dalam melakukan pekerjaannya, dilakukan dengan profesional dan tepat guna.

Kesimpulan
  1. Ibadah secara umum berarti setiap aktivitas /kerja/amal yang baik dari seseorang yang dilaksanakan sesuai dengan agama dan diniatkan karena Allah semata.
  2. Dari batasan di atas dapat dipahami, bahwa dalam Islam tidak ada pembatasan amal atau pekerjaan seseorang untuk bersifat dunia semata atau ukhrawi semata (sekularisme).
  3. Shaum sebagai salah satu rukun Islam yang lima, memberikan kontribusi yang jelas bagi kesehatan ataupun etos kerja seseorang, asalkan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk yang digariskan dalam syari’at.
  4. Pengalaman menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan segala persyaratannya (menahan berbagai dorongan nafsu, amarah, dan sebagainya) yang diulang setiap hari selama satu bulan penuh dan diulang kembali setiap tahun, bila benar-benar dimulai dengan niat dan kesiapan iman akan merupakan suatu proses belajar yang efisien dan efektif dalam menuntun perilaku dan disiplin diri.


Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

10 October 2006

MENCENGANGKAN PARA ILMUWAN BARAT

Assalaamu'alaikum warahmatulLaah wabarakaatuh,

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of plant Molecular Biologist, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhahiyah) dengan sebuah alat yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik.

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang professor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas- universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menfsirkan fenomena itu bahkan semuanya tercengang tidak tahu harus berkomentar apa?

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan diantara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India . Setelah 5 hari mengadakan mengadakan penelitian dan pengkajian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: ?Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu?.

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.
Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah:
??.Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun? (QS. Al-Israa?: 44)

Tidaklah suara denyutan itu melainkan lafadz jalalah (nama Allah Azza wa Jalla) sebagaimana tampak dalam layer (Oscilloscope) .
Maka keheningan dan keheranan luarbiasa menghiasi aula dimana para ilmuwan muslim tersebut berbicara.

SubhanalLaah, Maha Suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini!! Segala sesuatu bertasbih menggunakan nama Allah Jalla wa ?Ala. Akhirnya orang yang bertanggungjawab terhadap penelitian ini, yaitu Prof. William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang dibawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia menghadiahkan alQur?an dan terjemahnya kepada sang professor.

Selang beberapa hari setelah itu, professor William mengadakan ceramah di universitas Carnich ? Miloun, ia mengatakan: ?Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah didalam alQur?an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan ?Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya?

Sang professor ini telah mengumumkan Islam nya dihadapan para hadirin yang sedang terperangah. Dikutip dari Majalah QIBLATI edisi no. 11 tahun 2006/1427 H
Allahu Akbar !!
Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya.

Wassalam
Widyani ( ZIS Konsultan)
 
Disalin dari :
www.rumahzakat. org
Zakat? Ya Rumah Zakat

 

09 October 2006

Peristiwa Historis di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang sangat bernilai historis dalam Islam, disamping predikatnya sebagai bulan terbaik untuk ibadah puasa dan lain-lain. Peristiwa-peristiwa historis itu sangat berperan dalam perkembangan Islam dan penyiarannya. Peristiwa-peristiwa itu menjadi renungan yang mendalam pada saat kaum mukminin menunaikan puasa.

Inspirasi dan pengaruh yang dipantulkan oleh peristiwa historis itu selalu memacu semangat kaum muslimin untuk meneruskan risalah Islam ke seluruh alam. Al-Qur'an adalah tuntunan yang membuka jalur-jalur kesuksesan dan titian menuju kejayaan serta kemuliaan. Itulah awal peristiwa historis dalam bulan ramadhan. Hasil tarbiyah Al-Qur'an itu terbukti dalam perang Badar dan perang penaklukan Mekkah.

1. Pengangkatan Muhammad saw. sebagai Rasul dan awal turunnya Al-Qur'an

Ketika Allah swt. hendak memuliakan Muhammad saw. sebagai Rasul dan Nabi-Nya, setiap kali Rasulullah saw. hendak membuang hajatnya dan pergi jauh ke padang pasir, hingga berjarak sangat jauh dari pemukiman dan beliau telah sampai di lembah-lembah Mekkah, tidak ada pohon dan batu pun yang beliau jumpai, melaikan selalu mengucapkan salam kepada beliau dengan,
السلام عليك يا رسول الله
Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah (utusan Allah swt.)

Kemudian, Rasulullah saw. menengok ke kanan dan ke kiri serta ke belakangnya. Namun, beliau tidak melihat siapa-siapa, yang ada hanyalah pohon dan batu. Hal itu berlangsung beberapa lama, hingga Allah swt. mengutus Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah swt. ketika Rasulullah saw. berada di gua Hira, dengan turunnya lima ayat pertama dari surah Al-Alaq, “ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 1-5).

Allah swt. Berfirman, “ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...” (Al-Baqarah: 185).

Allah swt. Berfirman, “ Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul ” (Ad-Dukhan: 1-5)

Allah swt. Berfirman, “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ” (Al-Fajr: 1-5).

2. Perang Badar

Allah swt. Berfirman, “....jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, ...” (Al-Anfal: 41).

Hari itu adalah hari dimana terjadi pertempuran antara pasukan kaum muslimin melawan orang-orang musyrik di perang Badar. Peristiwa Perang Badar terjadi pada Jum'at pagi tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Rasulullah saw. keluar bersama para sahabat pada hari Senin, delapan hari setelah bulan ramadhan masuk.

Rasulullah saw. mengangkat Amru bin Ummu Maktum atau Abdullah bin Ummu Maktum untuk memimpin shalat orang-orang yang ada di Madinah. Setelah sampai di Rauha, Rasulullah saw. memerintahkan Abu Lubabah untuk kembali ke Madinah, dan mengangkatnya sebagai amir selama Rasulullah saw. pergi.

Dalam kisah perang Badar yang diisyaratkan oleh ayat-ayat yang mulia ini, Muhammad bin Ishaq dengan sanadnya – dalam sirah nabawiyah - berkata; “setelah Rasulullah saw. mendengar Abu Sufyan akan bertolak dari Syam, beliau menyemangati kaum muslimin agar menghadangnya, dan Rasulullah saw. Bersabda, "Inilah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Maka keluarlah kalian untuk menghadangnya, semoga Allah memberikan harta rampasan kepada kalian”.

Maka orang-orang pun bersegera menyambut seruan itu. Walaupun sebagian orang ada yang merasa ringan, namun yang lain ada juga yang merasa berat. Hal itu disebabkan mereka tidak menyangka bahwa Rasulullah saw. akan menghadapi peperangan.

Ketika dekat dengan wilayah Hijaz, Abu Sufyan telah memerintahkan mata-matanya untuk mencari dan menyelidiki informasi. Dia juga bertanya kepada kabilah-kabilah yang berpapasan dengannya, karena khawatir terhadap kafilahnya. Sehingga, ada sebagian kafilah yang memberitakan kepadanya, bahwa Muhammad saw. telah meminta para sahabat beliau untuk mencegatmu dan kafilahmu.

Maka Abu Sufyan pun mengambil ancang-ancang dan berhati-hati setelah itu. Kemudian, dia mengupah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari untuk diutus kepada penduduk Makkah agar keluar membela kafilah dagang mereka, dan mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad saw. bersama para sahabatnya telah mengancamnya dan mencegatnya. Maka, keluarlah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari segera bertolak ke Makkah.

Sementara, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat beliau telah sampai ke suatu lembah, yang dinamakan dengan Dafaran. Lalu Beliau bertolak darinya, namun di salah satu bagian lembah tersebut, beliau mendapat khabar bahwa Quraisy telah bertolak ke arah Rasulullah saw. untuk membela kafilah mereka.

Kemudian, Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabat, memberitahukan tentang berita dari Quraisy. Maka, berdirilah Abu Bakar ra., beliau berbicara yang baik. Kemudian, berdirilah Umar bin Khatthab ra. dan beliau berbicara yang baik.

Lalu berdirilah Miqdad bin Amru seraya berkata, “wahai Rasulullah, majulah ke arah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada anda, karena kami akan selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti Bani Israil berkata kepada Musa, Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (Al-Maidah; 24).

Namun, bertolaklah Anda dan Tuhan Anda. Dan berperanglah, karena kami akan berperang bersama Anda dan Tuhan Anda. Demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda membawa kami ke Barkil Gamad’ yaitu suatu kota di Habasyah (Etiopia), maka kami bertahan dan bersabar bersama Anda untuk menuju kepadanya, hingga Anda mencapainya.”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya dengan sabda yang baik dan mendo’akan kebaikan untuknya, "Berilah pendapat untukku wahai orang-orang!”. Rasulullah saw. mengarahkan maksud beliau kepada orang-orang Ansar, - hal itu disebabkan mereka adalah terbanyak jumlahnya - dan hal itu disebabkan pula oleh baiat mereka kepada Rasulullah saw. di Aqabah.

Mereka berkata, “wahai Rasulullah saw. sesungguhnya kami bebas dari perlindungan terhadap diri Anda, hingga Anda sampai ke negeri kami. Bila Anda telah sampai ke negeri kami, maka Anda telah berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungi dan membela Anda dari segala sesuatu yang kami bela, sebagaimana anak-anak dan isteri-isteri kami”.

Rasulullah saw. merasa khawatir bahwa orang-orang Anshar tidak memandang wajib bagi mereka untuk membela Rasulullah saw. dan menolongnya, melainkan hanya atas musuh yang menyerang beliau di Madinah, dan bahwa mereka tidak harus ikut serta menyerbu musuh yang jauh dari negeri Madinah.

Setelah Rasulullah saw. menyatakan sabda tersebut, Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “Demi Allah, seolah-olah Anda menginginkan kami wahai Rasulullah saw.?”

Rasulullah saw. Bersabda, " benar”.

Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “ kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami telah bersaksi bahwa risalah yang Anda bawa dan emban adalah kebenaran dan haq. Kami juga telah memberikan sumpah dan janji kami kepada Anda, bahwa kami akan mendengar dan mentaati anda. Maka, majulah terus wahai Rasulullah saw. kemanapun Allah swt. menyuruh Anda.

Karena demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran. Seandainya Anda menyuruh kami untuk menceburkan diri kami ke dalam lautan ini dan Anda telah menceburkan diri ke dalamnya, maka kami pun akan ikut menceburkan diri kami ke dalamnya bersama Anda. Tidak akan ada seorang pun yang tertinggal.
Kami tidak akan takut dan benci bertemu dengan musuh-musuh kami besok. Karena sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang sabar dan bertahan dalam perang, jujur ketika bertempur, dan semoga Allah swt. menampakkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda. Maka bertolaklah bersama kami dengan keberkahan dari Allah swt.”.

Maka, tampaklah kebahagiaan dalam diri Rasulullah saw. dengan pernyataan Sa’ad. Hal itu membuat beliau bersemangat, seraya bersabda, “bertolaklah kalian dengan keberkahan dari Allah swt. dan bergembiralah. Karena sesungguhnya Allah swt. telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok Quraisy, dan demi Allah, seolah-olah aku melihat kehancuran kaum itu saat ini”.

Perang Badar berakhir setelah bulan Ramadan atau awal dari Syawwal.

3. Penaklukkan Mekkah

Penaklukkan Mekkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke delapan. Penyebab perang ini adalah terjadinya pertempuran antara Bani Bakar melawan Bani Khuza'ah. Pemicu pertempuran antara keduanya adalah seorang dari Bani Al-Khadrami, namanya Malik bin Abbad, yang merupakan sekutu dari Bani Bakar, keluar untuk berdagang.
Ketika dia sampai ke tanah Khuza'ah, mereka melakukan kejahatan terhadap Malik bin Abbad, membunuhnya, dan merampas harta bendanya. Kemudian, Bani Bakar pun membalas dendam dan membunuh salah seorang dari Bani Khuza'ah.

Permusuhan ini berlarut-larut hingga Islam menjadi penghalang antara keduanya dalam permusuhan, dan orang-orang lebih tertarik dengan isu Islam dan dakwahnya. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah saw. dengan Quraisy, syarat-syarat perjanjian yang berlaku bagi Rasulullah saw. dengan Quraisy juga berlaku atas para sekutu masing-masing.

Diantara ketentuan syarat perjanjian tersebut; bahwa barang siapa ingin masuk ke dalam sekutu Rasulullah saw., boleh melakukannya, dan barang siapa yang ingin masuk ke dalam sekutu Quraisy, dipersilahkan. Bani Bakar masuk ke dalam sekutu Quraisy dan Bani Khuza'ah masuk ke dalam sekutu Rasulullah saw.
Bani Bakar merasa ada peluang untuk melakukan pembalasan kepada Bani Khuza'ah. Naufal bin Mu'awiyah bersama pengikutnya, yaitu pemimpin Bani Bakar - namun tidak semua Bani Bakar ikut bersamanya - keluar menyerang Bani Khuza'ah di lembah mereka dan sumur mereka, yaitu Al-Watir. Mereka membunuh orang-orang yang ada dan terjadilah pertempuran.

Quraisy ikut memasok senjata kepada Bani Bakar, dan dengan sembunyi-sembunyi mereka juga ikut membantu dalam pasukan Bani Bakar, hingga mereka berhasil mendesak Bani Khuza'ah sampai ke dekat areal tanah haram. Dengan perbuatan ini, maka Quraisy telah melanggar salah satu syarat perjanjian damai, dan dengan demikian mereka telah memaklumkan perang terhadap Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Rasulullah saw. pun menyiapkan pasukan untuk menyerang Makkah. Rasulullah saw. keluar bertolak dari Madinah pada hari ke sepuluh bulan Ramadhan. Rasulullah saw. berangkat dari Madinah dalam kondisi puasa, demkian pula para pasukan beliau. Namun ketika sampai di Kadid, antara Asfan dan Amaj, Beliau berbuka, demikian pula para pasukan beliau ikut berbuka.

Rasulullah saw. berhasil menaklukkan Mekkah dengan gilang-gemilang, tanpa banyak menumpahkan darah. Allah swt. melukiskan hal itu dalam firman-Nya,
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

06 October 2006

Amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."
Amalan-amalan yang disunatkan pada bulan Ramadhan.

 
1- membaca Al-Quran. Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."

 
Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan mengadakan ijtima`/berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur'an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.

    
2.Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah ahdist dikatakan "Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan". Ruh puasa terletak pada memeperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.

 
Dari Sahal bin Sa'ad r.a Rasulullah s.a.w. bersabda:" Sesungguhnya di surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan: masuk dari pintu tersebut ahli puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli puasa, lalu diserukan "Manakah para ahli puasa?", maka berdirilah para ahli puasa dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli puasa, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu sorga tersebut segera ditutup, dan tak ada satu pun yang diperbolehkan masuk setelah mereka". (Bukhari Muslim).

 
3.Berdo'a ketika berbuka puasa. Abu Hurairah r.a berkata: bersabda Rasulullah s.a.w: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak do'anya, mereka itu adalah: orang puasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya". Untuk itu, hendakanya kita sekalian tidak melupakan saudara-saudara kita yang menderita di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir dan belahan bumi laninnya dalam doa kita. Betapa banyak do'a yang ihlas dan tulus, lebih berguna dibanding ribuan anak panah.

 
4.Qiyamullail (Tahajjud ) Solat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakan para ulama juga disunatkan untuk meng-khatamkan al-Qur'an selamat shalat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah : Sabda Rasulullah s.a.w: "Barang siapa menghidupan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan ridho Allah s.w.t semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau".

 
Abu Hurairah r.a meriwayatjkan bahwa Rasulullah s.a.w. senang menghidupkan bulan Ramadhan dengan melaksanakan qiyamullail dengan tidak memaksakannya kepada para sahabat untuk melaksanakannya dan bersabda:" Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamullail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau. Alam riwaayt lain Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu puasa Ramadhan dan disunatkan melakukan Qiyamullail pada bulan suci ini, barang siapa berpuasa dan melaksanakan Qiyamullail dengan penuh keimanan dan harapan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau". Dari Abu Hurairah r.a:"Kemuliaan seorang mu'min teletak pada solatnya yang ia dirikan di tengah malam dan kehormatannya terletak pada ketidak-tergantungannnya terhadap orang lain".

 
5. Berlomba-lomba dalam bersedekah. Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar(berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:" Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim) Anjuran untuk berlomba-lomba dalam bersedekah dan membiasakan diri untuk berderma dan semaksimal mungkin memberikan apa yang kita punya sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang artinya:" Rasulullah orang yang paling dermawan terlebih ketika berjumpa denga malaikat Jibril dan malaikat Jibril selalu menemuinya setiap malam dibulan Ramadhan hingga akhir bulan itu." (HR Bukhari)

 
 6. I`tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan. I`tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini karena I'tikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah. Inilah tujuan I'tikaf di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, hari yang paling utama selama bulan tersebut. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan keutamaan yang dipilih oleh Allah SWT. Diriwayatkan dari `Aisyah r.a. bahwasanya Nabi Muhammad saw selalu beri`tikaf di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga ajal menjemputnya, kemudian sunnah ini dihidupkan lagi oleh isteri-isteri Rasulullah selepas kematiannya" (Bukhari Muslim).

  
7. Menjauhi Larangan Agama: Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mu`min adalah menjaga lisan dari mengguncing dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum" (HR: Bukhari). Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah.

 
Adapun makna perkataan Rasul: "Tiada arti di sisi Allah s.w.t." menurut Ibnu Munir adalah: tamsil dari ditolaknya puasa yang bercampur dengan dusta. Adapun puasa yang bersih dari pekerjaan tercela tersebut, insya Allah akan tetap diterima. Ibnu Arabi berkata: Umat-umat sebelum kita cara berpuasanya hanya menahan diri dari bicara namun diperbolehkan makan dan minum, begitupun mereka tidak sanggup, sehingga Allah meringankan dengan dihapusnya setengah hari yaitu malam dan dihapusnya setengah puasa yaitu puasa dari bicara, namun mereka tetap tidak sanggup, mereka bahkan melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan agama. Kemudian Allah meringakan lagi untuk meningkatkan derajat manusia dengan meninggalkan perkataan dusta dan munkar. Allah pun mewayuhkan kepada Rasulullah s.a.w. "Barangsiapa yang berkata dusta atau berbuat munkar maka Allah s.w.t. tidak menerima puasanya dari makanan dan minuman.

 
Maka beruntunglah mereka yang menyibukkan diri dengan aibnya hingga tidak memikirkan aib orang lain dan beruntunglah mereka yang tinggal di rumah, sibuk dengan ibadah kepada Allah, menangisi kesalahannya di saat manusia sedang terlelap tidur. Selain itu, selayaknya kita tidak ikut campur urusan orang lain sehingga kita terseret dalam kemungkaran atau menjerumuskan orang lain dalam kemungkaran. Kalau ada orang yang mengganggu kita, hendaklah kita ingatkan bahwa kita sedang berpuasa, sebagaimana diajarkan Rasulullah saw: Apabila dihina oleh seseorang hendaklah ia ucapkan saya sedang berpuasa. Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibanding minyak wangi misik". Maka seorang mu`min yang menguasai syahwatnya dan menahan dirinya dari makanan dan minuman yang halal, menahan dirinya dari menggauli istrinya yang halal, seyogyanya ia juga menjaga dirinya dari hal yang jelas-jelas diharamkan di luar bulan

 
Tiada kata yang pantas untuk mengakhiri tulisan ini, selain firman Allah s.w.t. dalam surat Fatir ayat 32-34 "Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang dzalim pada diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang biasa saja dan diantara mereka ada yang lebih banyak berbuat kebaikan. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Bagi mereka surga Eden yeng mereka masuki dengan dihiasi gelang-gelang emas dan mutiara dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan penerima Syukur".
 

04 October 2006

Pluralisme Agama - Siapa mendukung siapa?

Apabila kita memperdebatkan kandungan Al-Qur'an mengenai pluralisme agama memang tidak akan habisnya. Dalam memahami ayat-ayat dalam Al-Quran jangan hanya setengah-setengah, jangan hanya mengambil yang enak-enak nya saja tanpa memperdulikan keberadaan ayat-ayat lain yang saling mendukung. Dan jangan sekali-kali melakukan pembenaran akan apa yang kita lakukan dengan mengatasnamakan ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang diterjemahkan dengan senbarangan demi pembenaran itu tadi.
 
 
Sayang sungguh sayang apabila masih banyak orang yang mengikuti langkah seperti Jalaluddin Rakhmat.
 
Artikelnya saya copy seperti di bawah ini, saya copy langsung dari sumbernya agar menjadi lebih jelas.
 
----------------------------------------------------------
 
 "Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat "
Jalaluddin Rakhmat, memanipulasi ayat untuk mendukung gagasan Pluralisme Agama. Cara seperti ini sama saja dengan "menjual minyak babi bercap onta". Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke 164

Oleh: Adian Husaini

Pada tanggal 19 September 2006 lalu, bertempat di kampus Universitas Paramadina Jakarta, saya diundang untuk membahas buku baru dari Dr. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan.” Sejak awal, saya sebenarnya enggan melayani perdebatan tentang Pluralisme Agama, karena berdasarkan pengalaman, selama ini, perdebatan seperti itu tidak banyak membawa manfaat.

Tetapi, karena ada pertimbangan khusus, undangan itu saya terima. Beberapa pekan sebelumnya, saya sudah bertemu dengan Jalaluddin Rakhmat, yang biasanya dipanggil sebagai Kang Jalal. Dalam forum tersebut Jalal menyatakan, bahwa “menjadi orang Kristen yang beramal shalih lebih baik daripada menjadi orang muslim yang jahat”. Saya sempat kirim SMS mempertanyakan ucapan dia tersebut.

Dengan niat ingin berdakwah dan menjelaskan kekeliruan pandangan “Pluralisme Agama” tersebut di kampus Paramadina, saya bersedia menghadiri forum tersebut. Ternyata forum itu sangat ramai. Pengunjung berjubel memadati ruangan. Maka, sedapat mungkin, saya mencoba menjelaskan kekeliruan paham Pluralisme Agama, termasuk yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat melalui bukunya tersebut. Untuk itu, pada malam itu, saya luncurkan juga buku baru saya yang berjudul “Pluralisme Agama: Parasit bagi Agama-agama”.

Salah satu yang saya kritik keras adalah cara Jalaluddin Rakhmat dalam mengutip dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang dia katakan sebagai “ayat pluralis”. Tampak, ada pemutarbalikkan makna ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan untuk melegitimasi pandangan Pluralisme Agama, seolah-olah Pluralisme Agama adalah paham yang dibenarkan oleh Al-Quran . Cara seperti ini sama saja dengan "menjual minyak babi tetapi diberi cap onta". Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan dengan semaunya sendiri untuk membenarkan paham yang salah.

Dalam bukunya tersebut, misalnya, Jalal mengutip, pendapat Rasyid Ridha dalam Kitab Tafsir al-Manar Jilid I:336-338, tentang penafsiran QS al-Baqarah: 62, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Shabiin, siapa saja yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan beramal shalih, maka mereka akan mendapatkan pahala dari sisi Allah dan tidak ada ketakutan dan kekhawatiran atas mereka.”

Dalam ayat ini, menurut Jalal yang mengutip Rasyid Ridha, kaum Yahudi dan Kristen akan dapat meraih keselamatan meskipun tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jadi, untuk meraih keselamatan, seseorang hanya disyaratkan beriman kepada Allah, iman kepada hari pembalasan, dan beramal saleh – tanpa wajib beriman kepada kenabian Muhammad saw. Bahkan, Jalaluddin Rakhmat juga menyatakan:

“Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk sorga. Semua agama benar berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its particular culture. Mereka percaya rahmat Allah itu luas.”

Pendapat semacam ini sudah pernah dikemukakan oleh tokoh Pluralis Agama Prof. Abdul Aziz Sachedina, yang menulis:

Rashid Rida does not stipulate belief in the prophethood of Muhammad for the Jews and Christians desiring to be saved, and hence implicitly maintains the salvific validity of both the Jewish and Christian revelation.” (Terjemahan bebasnya: Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan untuk diselamatkan, dan karena itu, ini secara implisit menetapkan validitas kitab Yahudi dan Kristen). (Lihat Abdul Aziz Sachedina, “Is Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic Self-identification in the Classical and Modern Age, dalam Hans Kung and Jurgen Moltman, Islam: A Challenge for Christianity, (London: SCM Press, 1994)).

Baik Jalaluddin Rakhmat atau Sachedina sama-sama bersikap manipulatif dalam menampilkan pendapat Muhamamd Abduh dan Rasyid Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab. Mereka hanya mengutip Tafsir al-manar Jilid I, dan tidak melanjutkan telaahnya kepada bagian lain Tafsir al-Manar. Jalaluddin Rakhmat bahkan menyimpulkan bahwa Rasyid Ridha seolah-olah merupakan seorang pluralis. Padahal, jika mereka mau menelaah bagian Tafsir al-Manar lainnya, akan dapat menemukan pendapat Mohammad Abduh atau Rasyid Ridha yang sangat berbeda dengan kesimpulan mereka itu.

Dalam forum di Paramadina tersebut, saya bawakan fotokopian Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, yang dengan tegas menyebutkan, bahwa bahwa QS al-Baqarah:62 tersebut adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya kepada mereka, sehingga kebenaran agama Islam tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.

Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, Rasyid Ridha menggunakan QS Ali Imran ayat 199 sebagai landasannya. Kepada mereka ini, untuk meraih keselamatan, maka harus memenuhi lima syarat, yaitu:

      (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu'), (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harta benda dunia.

Abduh mengakui adanya Ahli Kitab yang memenuhi kelima syarat itu, hanya saja jumlahnya sedikit, dan mereka itu merupakan orang-orang pilihan dalam hal ilmu, keutamaan, dan ketajaman penglihatan batin. Mereka tersembunyi dalam lipatan-lipatan sejarah atau di lereng-lereng gunung dan pelosok-pelosok negeri, dan oleh agama resmi mereka malah dituduh sebagai kafir dan pengikut ajaran sesat.

Itulah pendapat Abduh dan Ridha tentang keselamatan Ahli Kitab sebagaimana ditulis dalam Tafsir al-Manar, yang secara gegabah dimanipulasi oleh Abdul Aziz Sachedina dan Jalaluddin Rakhmat. Tindakan memanipulasi pendapat mufassir semacam ini adalah tindakan yang sangat tidak terpuji, apalagi digunakan untuk mendukung paham Pluralisme Agama, yang sama sekali tidak dilakukan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Jika mau mendukung paham Pluralisme Agama, lakukanlah dengan fair dengan membuat tafsir sendiri, baik Tafsir Jalaluddin Rakhmat atau Tafsir Sachedina, tanpa memanipulasi pendapat ulama atau tokoh yang lain.

Dengan logika sederhana kita bisa memahami, bahwa untuk dapat "beriman kepada Allah" dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Juga, hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah dengan benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu melalui rasul-Nya.

Sejak lama Jalaluddin Rakhmat dikenal sebagai pakar dan jago komunikasi massa. Kata-katanya mengalir dan bisa menyihir orang yang mendengarnya. Saya melihat, bagaimana hebatnya dia dalam mempengaruhi orang, apalagi yang tidak sempat mengecek sendiri ayat-ayat atau tafsir Al-Quran yang dikutipnya.

Saya berpikir, alangkah sayangnya, kepandaian dan kehebatan itu jika digunakan untuk menyesatkan manusia. Padahal, jika kepandaian itu digunakan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, akan sangat bermanfaat, bagi diri Jalaluddin Rakhmat sendiri, maupun bagi umat Islam secara keseluruhan. Selama ini, Jalaluddin Rakhmat banyak dikenal sebagai penyebar ide-ide Syiah di Indonesia. Entah mengapa, dia sekarang meloncat lagi menjadi penyebar ide-ide Pluralisme Agama, yang amat sangat kacau dan merusak.

Tampilnya Jalaluddin Rakhmat sebagai penyebar ide Pluralisme Agama tentu saja menambah darah baru bagi para pendukung paham ini. Tetapi, jika ditelaah, argumentasi yang digunakan masih seputar itu-itu juga. Ayat-ayat yang dikutip dalam Al-Quran juga dipilih-pilih yang seolah-olah mendukung paham Pluralisme Agama. Tetapi, karena pendukung paham ini kadang begitu pandai dalam mengutip ayat-ayat al-Quran, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang tertipu, menyangka ‘’minyak babi’’ yang dijajakan mereka sebagai ‘’minyak onta’’.

Dengan masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam barisan penyebar paham ini, maka sekarang, bagi umat Islam, sudah makin jelas, di barisan mana Jalaluddin Rakhmat berada. Di akhir presentasi saya, secara terbuka, saya mengajak Jalaluddin Rakhmat untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan paham Pluralisme Agama dan kembali kepada iman Islam. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan kekeliruan mereka. Jika mereka tidak mau menerima, tugas saya untuk menyampaikan sudah selesai. Terserah mereka, Jalaluddin Rakhmat dan pendukung Pluralisme Agama lainnya, untuk mengambil sikap.

Di atas semua itu, sebagai Muslim, kita patut merenungkan firman Allah SWT:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu." (QS Al-An’am:112)

Mudah-mudahan, sebagai Muslim yang mengimani kebenaran Islam, kita tidak termasuk ke dalam barisan musuh para Nabi. Amin. (Jakarta, 29 September 2006/www.hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Tipologi Manusia Penyambut Ramadhan

Tadabbur 02 : Tipologi Manusia Penyambut Ramadhan
 
 Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin dalam beberapa kategori dan model, yaitu :
  • Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di bulan itu.
  • Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
  • Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
  • Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.

Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan tiba-tiba saja muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan melihat fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu, apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada. Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang penulis tangkap dari gejala sosial yang ada.

Golongan pertama

Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan.

Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan dilalui dengan baik.

Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukannya. Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.

Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya. Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini. Penulis kira, golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini. Mereka adalah para pemburu takwa.

Golongan kedua

Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini. Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin, walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan. Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.

Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak jumlahnya. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka, bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak mendapatkannya.

Golongan ketiga

Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat mereka menangguk keuntungan besar. Siapa mereka? Mereka adalah sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.

Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop dalam sekali tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang dianggap mendatangkan uang.

Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini. Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan ampunan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekening.

Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa bekakan, seakan Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.

Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran, namun dia sendiri untuk menyentuh, ya untuh menyentuh saja, demikian enggan.

Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa seorang qari’-qariah, bisa seorang dai kondang, bisa seorang presenter, bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama pada saat Ramadhan datang menjelang.

Saya yakin, kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi sebaik-baiknya. Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang puasa, namun puasa yang tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!

Golongan keempat

Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap sebagai kelompok yang sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga.

Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus malu jika kepergok sedang makan-makan.

Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan telah menyumbat rizkinya.

Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan. Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan bulan penyucian diri dan jiwa.

Saya tidak berani berkomentar sosok macam apakah mereka. Yang jelas, mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini.

Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah kelompok pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan “keberaniannya”, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.

Kita berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang semangat menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk nilai-nilai dan semangat pula memaknainya.

Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba Rabbani - IKADI

03 October 2006

Aspek Medis Puasa pada Anak

Oleh :

Widodo Judarwanto
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Bunda
Jakarta

Memasuki bulan Ramadhan, anak belum akil balig tidak termasuk umat yang diwajibkan berpuasa. Tetapi pada kenyataannya banyak anak pra akil balig sudah berpuasa 'penuh' layaknya orang dewasa. Ibadah yang cukup berat ini dilakukan baik oleh keinginan sendiri ataupun karena keinginan orang tua. Bagaimana pengaruh bagi kesehatan anak dan apakah yang harus diwaspadai?

Periode akil balig biasanya terjadi saat anak sudah mulai masa pubertas atau sekitar usia 12 tahun. Anak perempuan akan mendapat menstruasi dan payudara mulai berkembang. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, bentuk fisik berubah secara cepat, dan sudah mengalami peristiwa 'mimpi basah'. Sejak saat inilah anak diwajibkan untuk berpuasa.

Banyak orang tua beralasan dalam mendidik beribadah khususnya puasa harus dilakukan secara dini dan bertahap. Tak jarang puasa sudah dikenalkan pada anak sejak usia 6 atau 7 tahun meskipun baru puasa setengah hari. Menurut perspektif agama Islam bila ibadah termasuk yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan.

Bila ditinjau dalam bidang kesehatan tampaknya puasa juga mungkin bisa dilakukan oleh anak usia pra akil balig tetapi harus cermat dipertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak. Sampai saat ini tampaknya belum banyak penelitian dilakukan terhadap pengaruh berpuasa pada anak dikaitkan dengan aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak.

 

Faktor psikobiologis
Aspek kesehatan secara psikobiologis anak usia sebelum akil balig dapat ditinjau dari aspek tumbuh kembang anak dan fungsi biologis. Aspek perkembangan meliputi perkembangan psikologis seperti perkembangan emosional, perkembangan moral, dan perilaku lainnya.
Fungsi biologis meliputi aspek fisiologis tubuh, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan sistem tubuh.

Dari aspek perkembangan khususnya kecerdasan dalam periode ini anak mulai banyak melihat dan bertanya. Fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab. Perkembangan ruhani pemikiran tentang Tuhan sudah mulai timbul. Anak sudah mulai dapat memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya. Tetapi pemahaman tentang konsep ini masih terbatas, bahwa Tuhan itu ada.

Demikian pula dalam perkembangan moral, pada periode ini pemahaman konsep baik dan buruk masih sederhana. Makna pemahaman ini hanya sekadar tahu. Artinya kenapa kewajiban agama dan kebaikan perilaku harus dilakukan belum dipahami secara sempurna. Sehingga dalam melakukan ibadah puasa juga lebih dilatarbelakangi karena faktor fisik tidak dipahami secara moral. Kalaupun moral berperan lebih dari sekadar hubungan manusia dan manusia. Niat ibadah puasa dikerjakan berdasarkan pengaruh hubungan keluarga atau lingkungan. Misalnya, anak berpuasa karena teman sekelas atau sepermainan sudah berpuasa. Atau, bila berpuasa penuh akan mendapat hadiah dari orang tua.

Dalam aspek biologis, kondisi fisiologis tubuh khususnya metabolisme tubuh, fungsi hormonal, dan fungsi sistem tubuh usia anak berbeda dengan usia dewasa. Bila aktivitas berpuasa merupakan beban yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologis anak dapat berakibat mengganggu tumbuh dan kembangnya anak. Demikian pula dalam hal mekanisme sistem imun atau pertahanan tubuh anak dan dewasa berbeda. Ketahanan anak dalam merespons masuknya penyakit dalam tubuh lebih lemah

 

Harus diwaspadai
Mengingat fungsi psikobiologis anak berbeda dengan dewasa, maka harus dicermati pengaruh puasa terhadap anak. Pengaruh negatif yang harus diwaspadai adalah berkurangnya jam tidur anak. Saat bulan Ramadhan, jadwal aktivitas anak berbeda dengan sebelumnya. Dalam bulan tersebut aktivitas anak bertambah dengan kegiatan shalat tarawih, makan sahur, atau kegiatan pesantren kilat. Bila jam tidur ini berkurang atau berbeda dengan sebelumnya akan mempengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh yang sebelumnya sudah terbentuk. Gangguan keseimbangan fisiologis tubuh ini akan berakibat menurunkan fungsi kekebalan tubuh yang berakibat anak mudah sakit.

Sebaiknya orang tua harus ikut merencanakan dan mamantau jadwal aktivitas anak termasuk jam tidur anak dengan cermat. Pada usia pra akil balig kebutuhan tidur anak secara normal, 10-12 jam per hari, dengan rician malam hari 10 jam, siang hari 1-2 jam. Dalam bulan Ramadhan orang tua hendaknya dapat memodifikasi jadwal tidur ini dengan baik.

Pengaruh lain yang harus diamati adalah pengaruh asupan gizi pada anak. Jumlah, jadwal dan jenis gizi yang diterima akan berbeda dengan saat sebelum puasa. Dalam hal jumlah mungkin terjadi kekurangan asupan kalori, vitamin, dan mineral yang diterima anak. Aktivitas yang bertambah ini juga akan meningkatkan kebutuhan kalori, vitamin, dan mineral lainnya. Padahal saat puasa pemenuhan kebutuhan kalori relatif lebih rendah.

Bila keseimbangan asupan gizi terganggu dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh sehingga anak mudah terserang penyakit. Dalam keadaan seperti ini tampaknya pemberian suplemen vitamin cukup membantu. Parameter yang paling mudah untuk melihat asupan kalori cukup adalah dengan memantau berat badan anak. Bila berat badan anak tetap atau meningkat mungkin puasa dapat dilanjutkan. Tetapi bila berat badan menurun drastis dalam jangka pendek, sebaiknya puasa dihentikan.

Demikian pula dengan jenis asupan gizi yang diterima. Variasi dan jumlah makanan yang didapatkan saat bulan puasa akan berbeda dengan sebelumnya. Saat bulan puasa variasi makanan yang tersedia biasanya lebih banyak. Penderita alergi pada jenis makanan tertentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap gangguan kesehatan. Menurut pengalaman praktik sehari-hari kasus alergi makanan pada anak cenderung meningkat saat bulan puasa.

Kegiatan puasa berpengaruh terhadap perkembangan emosi, perkembangan moral, dan perkembangan psikologis anak. Tidak dapat disangkal lagi bahwa ibadah puasa mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan perkembangan anak. Tetapi harus diwaspadai bahwa aktivitas puasa juga dapat berpengaruh negatif bila tidak mempertimbangkan taraf perkembangan anak.

Hal ini terjadi bila ibadah ini dilakukan dengan paksaan dan ancaman. Dalam keadaan normal emosi dan perilaku anak sangat tidak stabil. Saat puasa, yakni dalam kondisi lapar dan haus, akan sangat mempengaruhi kestabilan emosi dan perilaku anak.

Kondisi umum yang harus diwaspadai dalam melakukan puasa pada anak adalah anak yang mudah sakit (mengalami infeksi berulang), gangguan pertumbuhan, penyakit alergi atau asma, serta gangguan perilaku (autis, ADHD, dan sebagainya). Keadaan yang harus dihindari berpuasa pada anak akil balig adalah penyakit infeksi akut (batuk, pilek, panas), infeksi kronis (tuberkulosis dll), penyakit bawaan gangguan metabolisme, jantung, ginjal, kelainan darah dan keganasan. Meskipun infeksi akut virus seperti batuk, pilek atau panas yang dialami ringan, bila kondisi tubuh turun seperti berpuasa akan menimbulkan resiko komplikasi yang berat.

Puasa pada anak mungkin dapat dilakukan tetapi harus cermat memperhatikan kondisi normal psikobiologisnya. Bila kondisi itu tidak diperhatikan maka puasa merupakan beban bagi mental dan kesehatan anak. Selanjutnya akan berakibat mengganggu tumbuh kembang anak. Tetapi bila puasa dilakukan dengan pertimbangan cermat soal kondisi anak, maka dapat merupakan pendidikan perkembangan moral dan emosi anak.

 

Ikhtisar
- Banyak kalangan yang melatih anaknya untuk menjalankan ibadah puasa sejak menjelang akil balig.
- Selama Ramadhan, biasanya aktivitas anak bertamnbah banyak, sehingga kebutuhan gizi dan waktu istirahat harus diperhatikan.
-
Ada beberapa kondisi yang menjadi berbahaya, jika anak dipaksa untuk berpuasa.
- Dengan perhatian yang cermat, anak akan mendapat banyak nilai positif dari puasanya.

 

02 October 2006

Puasa dan Etos kerja

Di antara kejadian penting sepanjang sejarah perjuangan Rasulullah SAW yang sering terlupakan di bulan Ramadlan adalah Perang Badar. Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan, saat pertama kalinya puasa disyariatkan Allah kepada Nabi SAW. Saat itu sekitar 313 kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW berhasil mengalahkan pasukan musyrikin Quraisy yang berjumlah sekitar 950 orang di bawah komando Abu Sufyan. Inilah yang dikenal dengan Ghozwat Badr al-Kubra.

 

Tentang Perang Badar ini Allah menegaskannya dalam surat Al-Anfal ayat 41. ''Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada Hari Pemisahan Hak dan Batil (Yaumal Furqon), yaitu hari bertemunya dua pasukan di medan perang.'' Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud Yaumal Furqon dalam ayat ini adalah hari ketika terjadi Perang Badar. Hal inipun ditegaskan oleh lanjutan ayat ini, yauma iltaqoo al-Jam'aani (hari pertempuran dua pasukan). Refleksi substansial dari Perang Badar ini bukanlah pada perang fisiknya. Yang harus diteladani dari peristiwa 14 abad lalu itu adalah etos kerja dan etos juang yang tak pernah surut karena puasa.

 

Peristiwa Badar menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW akan mampu melestarikan dan menumbuhkan etos kerja dan etos juang yang tinggi. Hal inilah yang justru sering diabaikan. Banyak kaum Muslimin yang menjustifikasi kelesuan dan pengurangan jam kerja, kemerosotan produktivitas, dan kemalasan-kemalasan lainnya, sebagai konsekuensi logis puasa.

 

Padahal, Rasulullah SAW dan sahabatnya tidak mencontohkan demikian. Fakta Badar adalah realitas yang amat kontradiksi dengan anggapan ini. Bahwa, karena puasa tubuh jadi letih dan lemas, adalah wajar. Namun, bila karena puasa produktivitas, etos kerja, dan etos juang 'melempem' , ini perlu dibenahi.

Amat banyak kajian ilmiah yang membuktikan bahwa puasa efektif untuk melejitkan potensi kecerdasan spritual yang telah ada dalam diri setiap orang. Dari kecerdasan inilah akan melejit pula kecerdasan emosional dan intelektual. Bila tiga serangkai ini telah matang dalam diri seseorang maka ia akan mampu menghadapi dan menanggulangi apa pun yang menjadi masalahnya.

 

Sedangkan dalam rumusan WHO yang mendefinisikan kesehatan (health) sebagai kondisi fisik, mental, dan sosial yang optimal dalam diri seseorang, puasa adalah sarana paling efektif mewujudkannya. Secara fisik ia akan terbebas dari berbagai penyakit, secara mental ia memiliki sikap dan pikiran positif, percaya diri, serta sabar. Dan secara sosial ia akan mempunyai solidaritas dan kepedulian terhadap sesama yang amat tinggi. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah SAW, ''Shauumu tashihhuu.'' Berpuasalah, niscaya kalian sehat.

 

Dalam kondisi negara kita yang masih terpuruk dalam berbagai krisis, puasa seyogianya mampu membangkitkan semangat untuk menerebas semua krisis itu. Puasa sepatutnya dapat menumbuhkan optimisme dan percaya diri yang nyaris hilang.