Profesionalisme Kerja, Adab-adab dan Hak-hak Buruh


“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang jika melakukan sesuatu dikerjakan dengan professional”

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun, 01-05-2008

Penterjemah:
Abu Ahmad

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikutinya, selanjutnya..

Bahwa kaidah-kaidah Islam dan prilaku para nabi dan manhaj para shalihin dari orang-orang yang beriman memotivasi umat akan kewajiban kerja dan mencari nafkah dari berbagai sarana yang halal; guna dapat memberi nafkah dan melakukan peningkatan diri; karena dengan uang (harta) akan bisa memberi makan dan pakaian kepada manusia, membina keluarga, menjalin silaturrahim, melindungi kehormatan dan manjaga agama, menaikkan devisa negara, mencetak generasi, menghilangkan kerja meminta-minta, dan hidup dalam kekuatan dan kemuliaan serta mati dalam keadaan mulia dan terpuji.

Karena itu kita dapatkan bahwa Islam selalu memotivasi untuk beramal, bekerja dan mencari nafkah, memerintahkan untuk menyebar ke muka bumi mencari karunia Allah, makanan dari rizki yang halal dan baik yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (Al-Mulk:15).

Dari Ibnu Abbas berkata: Saya mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda:

من أمسى كالاًّ من عمل يديه أمسى مغفورًا له
“Barangsiapa yang pada sore hari membawa uang yang banyak dengan hari jerih payahnya sendiri maka baginya ampunan Allah..”

Dan dari Miqdad ra dari nabi saw bersabda:

ما أكل أحد طعامًا قط خيرًا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده
“Tidaklah seseorang makan makanan sedikitpun lebih baik dari makan yang dihasilkan dari hasil tangannya sendiri, dan sesungguhnya nabi Daud AS makan dengan hasil tangannya sendiri”.

Adapun contoh dari para nabi yang bekerja dan mencari nafkah, dan mereka memiliki keahlian untuk mencari rizki darinya, yaitu antara lain:
- Nabi Adam AS adalah petani (penggarap ladang).
- Nabi Daud AS pembuat baju besi dan tameng.
- Nabi Musa AS menjadi penggembala pada seseorang yang salih.
- Nabi Muhammad saw menjadi penggembala dan pedagang.

Kewajiban pekerja Muslim
1. Memiliki kapabilitas dan dipercaya.. kapabilitas yang dimaksud adalah mampu merealisasikan pekerjaan dengan ilmu yang dimiliki pada bidang pekerjaan yang disandarkan padanya, mampu menunaikan tugas secara baik, dipercaya atas apa yang ditugaskan kepadanya, Allah SWT berfirman:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Al-Qashash:26)

Dan musibah yang menimpa suatu umat adalah akibat hilangnya sifat-sifat diatas; karena itu pekerjaan dan khususnya yang tertuju pada kesejahteraan bangsa yang disandarkan pada orang dekat dan nepotisme, padahal mereka sebenarnya tidak memahami pekerjaan tersebut, atau tidak memiliki sifat amanah sehingga menyengsarakan mereka dan rakyat.

2. Kerja yang professional.. Islam memotivasi umat Islam untuk kerja yang professional dalam berbagai sisi kehidupan dan berbagai sarana kerja… Rasulullah saw bersabda:

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملاً أن يتقنه
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang jika melakukan sesuatu dengan cara professional”.

Seorang pekerja yang ikhlas dan professional adalah ciri insan yang cerdas dan ahli dalam melakukan sesuatu dan ahli dalam pekerjaannya, mampu menunaikan tugas yang diberikan kepadanya secara professional dan sempurna, dan diiringi adanya perasaan selalu diawasi oleh Allah dalam setiap pekerjaannya, semangat yang penuh dalam meraih keridhaan Allah dibalik pekerjaannya. Model pegawai atau buruh seperti tidak membutuhkan adanya pengawasan dari manusia; berbeda dengan orang yang melakukan pekerjaan karena takut manusia, sehingga akan menghilangkan berbagai sarana yang ada, melakukan penipuan terhadap apa yang dapat dilakukan. Adapun pegawai yang mukhlis, yang bekerja dibawah perasaan adanya pengawasan oleh Dzat yang tidak pernah lengah sedikitpun, dan tidak ada yang tersembunyi atas apa yang tersembunyi di dalam bumi dan di langit!!

Masyarakat Islam saat ini, Mesir diantaranya, sedang kehausan dan sangat membutuhkan akan model pegawai dan pekerja yang ikhlas dan professional; agar kembali bangkit dari keterpurukan dan maju dari kemundurannya, sehingga menjadi seperti generasi masa lalu yang menjadi sebaik-baik umat:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. (Ali Imran:110)

3. Tawakkal kepada Allah.. seorang muslim dalam pekerjaannya selalu bertawakkal kepada Allah, kemudian melakukan sebab-sebab menuju ketawakkalan tersebut;

مر عمر بن الخطاب رضي الله عنه بقوم فقال: من أنتم؟ قالوا: المتوكلون، فقال: “أنتم المتأكلون، إنما المتوكل رجل ألقى حبة في بطن الأرض وتوكل على ربه
“Sebagaimana Umar ketika melewati suatu kaum dia berkata: “Siapakah kalian? Mereka berkta: Orang-orang sedangn bertawakkal. Kemudian dia berkata lagi: “Kalian adalah orang-orang yang sedang bertawakkal, pada sesugguhnya yang dimaksud dengan orang yang bertawakkal adalah seseorang yang melemparkan benih kedalam perut bumi dan kemudian bertawakkal kepada Allah”

4. Memohon rizki yang halal dan baik dengan cara yang elegan.. seorang muslim selalu melakukan pekerjaannya dengan bijak, kerja keras, bersih dan apik, yakin bahwa rizki yang telah ditentukan Allah adalah miliknya tidak akan lepas darinya begitu saja, sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

لا يستبطئن أحد منكم رزقه، فإن جبريل ألقى في روعي أن أحدًا منكم لن يخرج من الدنيا حتى يستكمل رزقه؛ فاتقوا الله أيها الناس وأجملوا في الطلب؛ فإن استبطأ أحد منكم رزقه فلا يطلبه بمعصية الله؛ فإن الله لا يُنال فضلُه بمعصيته
“Tidaklah akan diperlambat rizki salah seorang dari kalian, karena Jibril telah memberi tahukan dalam jasadku bahwa seseorang diantara kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal) kecuali telah disempurnakan rizkinya; bertaqwalah kepada Allah wahai sekalian manusia dan mohonlah rizki dengan cara yang elegan dan indah; dan jika rizkinya lambat menghampirinya maka janganlah ia mencarinya dengan cara maksiat kepada Allah; karena Allah tidak menyukai karunia-Nya yang diperoleh dengan cara yang maksiat”.

Hak-hak pegawai dalam Islam
Jika Allah telah mewajibkan kepada pegawai untuk bekerja dengan cara yang itqon (professional)  dan cakap di dalamnya; maka baginya memiliki hak, sehingga menjadikan dirinya memiliki kehidupan yang mulia, kokoh dan kuat. Dan diantara hak-haknya adalah:

1. Menghormati dan menghargai pegawai atau pekerja dengan cara yang baik; sesuai dengan arahan Al-Quran dalam memberikan perintah untuk berbuat baik pada seluruh manusia… Allah swt berfirman. Allah SWT berfirman:

وَقُوْلُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
 “Dan sampaikanlah dengan ucapan kepada baik”

2. Memberikan kepada pegawai upah secara penuh dan tanpa dikurangi.. sesuai dengan kesepakatan sebelumnya; dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda:

ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة: منهم رجل استأجر أجيرًا فاستوفى منه ولم يعطه أجره
“Tiga hal yang pada hari kiamat nanti saya akan menjadi penantangnya: seseorang yang mempekerjakan orang lain lalu dia menunaikan pekerjaannya dengan baik namun dia tidak memberikan upah secara penuh”.

3. Bersegera memberikan upah kepada pekerja… dan tidak menundanya sekalipun ada berbagai alasan dan sebab; dari Abdullah bin Umar ra berkata: Nabi saw bersabda:

أعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه
“Berikanlah upah kepada pegawai sebelum keringat mongering”.

4. Memberikan upah secara adil… sehingga dengannya dapat meningkatkan kemuliaan hidup, dan memenuhi kebutuhan makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal yang layak, nabi saw bersabda:

إخوانكم خولكم، جعلهم الله تحت أيديكم؛ فمن كان أخوه تحت يده فليطعمه مما يأكل وليلبسه مما يلبس
“Saudara kalian adalah jaminan kalian, Allah menjadikannya berada ditangan kalian; maka barangsiapa yang saudaranya berada ditangannya maka hendaknya memberi makan dari apa yang dia makan dan memberi pakaian dari apa yang dia pakai”.

5. Tidak membebani pegawai dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan.. dan tidak memposisikannya pada pekerjaan yang berat yang tidak mampu dilaksanakan; dan jika kita ingin memberikan pekerjaan yang berat maka hendaknya kita membantunya dengan diri kita atau mencarikan orang lain untuk dapat membantunya; Rasulullah saw bersabda:

ولا تكلفوهم ما يغلبهم؛ فإن كلفتموهم فأعينوهم
“Dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup, namun jika kalian terpaksa membebaninya maka bantulah mereka”.

6. Memberikan jaminan social… diantara hak bagi seorang pekerja atau pegawai adalah mendapatkan jaminan kesehatan dan hidup, apapun bentuknya, selama dirinya mampu melaksanakan kewajibannya, atau tidak sanggup menunaikan tugasnya oleh karena terpaksa atau sudah tua renta dan tidak mampu mengalahkannya, suatu kali Umar melintas pada seorang Yahudi yang meminta-minta, maka beliaupun mencelanya dan meminta diberikan penjelasan sebab dirinya melakukan hal tersebut, maka ketika ternyata kondisinya memang lemah, dirinya diberikan bantuan yang sesuai, dan kemudian dia berkata kepadanya: “Kami tidak boleh membiarkan kondisimu seperti ini, karena kami telah mengambil dari engkau jizyah pada saat kuat dan kemudian kami biarkan pada saat lemah, berikan kepadanya harta dari baitul maal sesuai dengan kecukupan dirinya”, tentunya hal tersebut diiringi dengan rasa cinta dan kasih sayang sesama manusia seluruhnya.

Wahai umat Islam..wahai umat manusia seluruhnya…

Demikianlah Islam yang agung, mulia dan adil.. batapa agungnya agama ini; yang memberikan hak pegawai terhadap pemilik pekerjaan untuk memberikan ganjaran atau upah terhadap apa yang dapat mencukupi dirinya dan yang dibutuhkan olehnya dari makanan, minuman dan pakaian, memberikan pengobatan, pendidikan untuk anak-anaknya, dan semua itu tidak akan terwujud kecuali dengan memperhatikan keadilan dalam mendistribusikan pekerjaan!

Perusahaan-perusahaan antara peremajaan dan spekulasi
Pada sebelumnya ada seruan peremajaan perusahaan, melepaskan modal-modal besar Negara yang diisi oleh pemodal pemodal asing jika memungkinkan, guna membangun prasarana umum, yang merupakan sarana paling penting bagi umat, akhirnya diberikan kepada perusahaan-perusahaan asing untuk menikmati keuntungannya, sementara rakyat tidak merasakan dan pekerja local juga tidak dapat menikmatinya kecuali kegetiran, kesengsaraan dan pengangguran.

Dan saat ini sedang digalakkan seruan pembenahan perusahaan-perusahaan umum dan memberikan kemudahan jalan, mempermudah yang sulit bagi investor asing untuk memiliki yang diinginkan, diiringi dengan pemberikan berbagai pasilitas, disaat Negara sedang mengalami berbagai kendala untuk mendapatkan income dan APBN serta dana untuk melakukan persaingan regional. Sehingga dengan itu semua mengakibatkan :

• Terjadinya PHK nasional
• Terjadinya inflasi yang drastis
• Kaburnya para pemilik modal karena tidak adanya jaminan keamanan dan kesejahteraan.

Jika seseorang berpegang teguh pada kebebasan memuliakan negaranya, dan memiliki pengaruh  untuk berusaha meninggikannya, serta mampu memobilisasi perusahaan dengan keringatnya yang didalamnya dapat difahami oleh beratus pegawai, atau menetap menjadi ahli dengan usaha sendiri sehingga mampu mempekerjakan beribu-beribu para pengangguran; maka dipastikan tidak akan ditemui orang yang membawa kabur uangnya dan menutup perusahaannya, namun justru mereka diancam masuk penjara oleh tuduhan yang tidak benar; pada saat yang lain kita melihat orang yang menjual belikan darah yang rusak pada orang yang sakit, menjual belikan perusahaan-perusahaan Negara dan sarana-sarana umum dan asset swasta kepada pihak asing dengan harga yang paling murah tidak mendapatkan sangsi sedikitpun!!??.

Kehinaan dan kesia-siaan

Wahai para pecinta kebaikan negeri kalian…
Bahwa kita tidak berjalan pada system ekonomi yang dikenal, baik teori maupun praktek, dan bahwa kesamar-samaran dan kerancuan ini telah merasuk kedalam tubuh kita hingga menjalar kedalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Kita bukanlah kelompok yang melakukan arogansi penyelesaian, sehingga menghadapi kondisi dengan melakukan pengrusakan, mabuk atau berdiam diri; sebagai reaksi terhadap apa yang terjadi, namun kita adalah kelpmpok yang memandang permasalahan dengan pandangan yang komprehensif dan mendalam serta cermat, lalu mengembalikannya pada dasar yang kokoh untuk bisa jadikan sandaran dan terfokus, dan hal tersebut tidak terwujud kecuali dari “Nizham Islam” yang menyeluruh dan mendetail, yang didalamnya terdapat kebaikan yang banyak.

Bangsa Mesir adalah bangsa yang sangat memiliki kesabaran tinggi terhadap setiap kondisi yang kering dan keras ini, kondisi yang menakjubkan yang tidak pernah dibayangkan dan tidak bisa dihadapi oleh seseorang kecuali karena satu kemukjizatan yaitu mukjizat keimanan, dan barangsiapa yang melihat kepada pekerja Mesir, petani Mesri, pegawai Mesir dan yang lainnya dari bangsa Mesir akan mendapatkan ketakjuban terhadap apa yang disaksikan akan kesehajaan dan kesabaran mereka..!!

Wahai para penguasa..
Marilah bersama-sama melakukan perbaikan secara menyeluruh..!!
Bahwa dihadapan kita ada nizham yang sempurna dan integral yang mampu mengarahkan pada kebaikan yang menyeluruh; yaitu arahan-arahan Islam yang hanif, yang didalamnya terdapat kaidah kuliah asasiyah (kaidah baku yang menyeluruh), yang jika kita mempelajarinya dan menerapkannya secara baik dan bersih; maka akan mampu memberikan solusi dari berbagai permasalahan, dapat memberikan pemahaman bagaimana meningkatkan kehidupan, memberikan kenyamanan dalam berbagai tingkatan serta mendapatkan cara terbaik menuju kehidupan yang baik dan sejahtera.

Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga sahabat semua.
Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

Hamas Kecam Rencana Gus Dur Menghadiri Perayaan 60 Tahun Israel


Daripada merayakan penjajahan Israel terhadap Palestina, lebih baik menjenguk dan membantu 1,5 juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang kelaparan dan krisis bahan bakar, karena diblokade Israel. Demikian pendapat Dr Musa Abu Marzuk, Wakil Kepala Biro Politik Hamas dalam Wawancara Khusus dengan Hidayatullah. com.

Hidayatullah. com--Rencana mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid untuk menghadiri perayaan 60 tahun berdirinya negara Zionis Israel, bulan Mei mendatang, dikritik oleh tokoh pejuang kemerdekaan Palestina, Dr Musa Abu Marzuq.

Ditemui oleh Hidayatullah. com di kantornya di Damaskus beberapa jam yang lalu, Abu Marzuq, yang menjabat Wakil Kepala Biro Politik Hamas (Gerakan Perlawanan Islam untuk Kemerdekaan Palestina) menyebut rencana itu, "sungguh-sungguh memalukan."

Menurut Abu Marzuq, merayakan 60 tahun berdirinya Zionis Israel sama halnya merayakan pembantaian, pengusiran, perusakan kebun-kebun dan penjajahan atas rakyat Palestina dan Masjidil Aqsa.

"Bagaimana mungkin seorang Muslim seperti Abdurrahman Wahid tega ikut serta merayakan kezaliman atas saudara-saudara Muslimnya sendiri?" tukasnya.

Menurut Abu Marzuq, kalau Presiden AS George Bush menghadiri perayaan seperti itu, dirinya masih bisa memahami, tapi kalau seorang bekas presiden dari sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia yang melakukannya, "sungguh memalukan."

Dr Musa menyarankan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk datang sendiri melihat keadaan saudara-saudaranya di Gaza.

"Sudah berbulan-bulan, 1,5 juta saudara-saudara Anda, terutama anak-anak, saat ini hidup tanpa bahan bakar, tanpa obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas karena diblokade oleh Zionis Israel," jelasnya.

Namun, Abu Marzuq mengingatkan, bahwa Israel tidak mungkin memberikan izin kepada siapapun untuk menyaksikan kekejaman mereka atas para penduduk Gaza.

"Minggu lalu, bekas (Presiden AS Jimmy) Carter juga dilarang Israel masuk ke Gaza," katanya.

Karena masuk ke Gaza tidak mungkin, saat ini, ia menyarankan para tokoh Muslim Indonesia agar mengunjungi para pengungsi Palestina di Yordania, Mesir dan Suria. "Ada 6 juta saudara-saudara Anda bangsa Palestina yang sekarang diusir oleh Zionis Israel dan terpaksa hidup di pengungsian, " katanya.

Menanggapi langkah-langkah pemerintah Otoritas Palestina di bawah Mahmud Abbas yang menambah terus jumlah "duta besar" Palestina di berbagai negara, Abu Marzuq mengatakan, bahwa dirinya tak merasa ada masalah dengan itu.

Sejak sepuluh tahun silam, sudah lebih dari seratus negara yang memiliki duta besar atau perwakilan PLO. "Yang terpenting," kata Abu Marzuq, "para duta besar itu bekerja untuk kepentingan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Palestina. Jangan sampai mereka memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu yang mengakibatkan lemahnya persatuan bangsa Palestina."

Ketika berkunjung ke Indonesia beberapa bulan silam, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di depan tokoh-tokoh Indonesia menyebut Hamas sebagai "kriminal". Namun Abu Marzuq enggan menanggapi pernyataan-pernyata an yang bernada kampanye hitam itu.

Menurutnya, apapun yang dikatakan oleh Mahmud Abbas tentang Hamas, tidak akan banyak pengaruhnya bagi kepentingan Palestina.

"Sebab dunia sudah bisa menyaksikan, " ujarnya, "siapa yang benar-benar bekerja untuk kemerdekaan Palestina, dan siapa yang hanya bikin masalah."

Menurut Abu Marzuq, saat ini ada upaya keras untuk membangun citra, seakan-akan Gaza di bawah Hamas adalah Korea Utara yang kacau-balau dan pemerintahnya salah urus. Sedangkan Tepi Barat adalah Korea Selatan yang modern dan kaya raya.

"Tapi kami ingin menyampaikan, bahwa prioritas pekerjaan kami adalah rekonsiliasi rakyat Palestina, keselamatan mereka dan dikembalikannya hak-hak mereka di manapun mereka berada," kata Abu Marzuq.

Sejauh ini Mahmud Abbas telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Zionis Israel Ehud Olmert sebanyak 51 kali. "Hasilnya bukan saja nol, malah semakin buruk," simpul Abu Marzuq.

Dr Musa Abu Marzuq lahir di Gaza tahun 1951. Setelah menyelesaikan kesarjanaan tekniknya di Universitas Ayn Syams, Kairo ia bekerja di bidang industri di Uni Emirat sampai tahun 1981. Sepuluh tahun kemudian ia menyelesaikan studi S-3 di Amerika Serikat.

Di Biro Politik Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah) , Abu Marzuq adalah wakil dari Khalid Misy'al yang pernah diwawancarai majalah Suara Hidayatullah, edisi September 2006.

[Dzikrullah, Khadijah, dan Kaisya Fatina (fotojurnalis) dari Damaskus/www. hidayatullah. com]

Makna Syirik

Contoh Perbuatan Syirik

Syirik dalam islam artinya menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya.

SEBAB-SEBAB SYIRIK
  1. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan yang berlebihan. Pengagungan dalam syari'at Islam ada 2 macam:
    • Pengagungan yang sampai batas-batas tertentu dibolehkan bahkan diwajibkan (thobi'i), seperti anak kepada ayahnya (QS 17/23-24), terhadap nabi dan rasul as (QS 4/64, 24/63, 49/2-3).
    • Pengagungan yang berlebihan dan sampai pada tingkat taqdis (pengkultusan) kepada siapapun adalah terlarang, walaupun terhadap nabi as (QS 3/144), malaikat (QS 43/19), jin (QS 37/158-159), ulama dan orang shalih (QS 71/21-23), benda-benda langit (QS 41/37).
  2. Bersandar kepada sesuatu yang dapat diketahui oleh panca indera saja dan meremehkan yang diluar panca indera (QS 2/55, 7/138, 20/87-88).
  3. Mengutamakan hawa nafsu (QS 31/21, 19/59, 28/50, 25/43, 3/14).
  4. Bersikap sombong (QS 43/51-52, 40/56, 2/258).
  5. Ridha pada para pimpinan yang menindas manusia dan tidak berhukum kepada hukum Allah SWT dan rasul-Nya (QS 5/44-47, 7/65-66, 7/73-76, 34/31-33).
BENTUK-BENTUK SYIRIK
Syirik dalam al-Qur'an dan as-Sunnah bukan hanya sujud kepada berhala saja, sujud kepada berhala merupakan salah satu dari bentuk-bentuk syirik yang sangat banyak bentuknya, diantaranya:
  1. Meyakini bahwa ada yang memiliki kekuatan atau dapat memberi manfaat dan madharat selain Allah SWT (QS 2/102).
  2. Mendekatkan diri dengan memuja kepada sesuatu dengan keyakinan bahwa dengan sesuatu itulah ia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT (QS 39/3).
  3. Memohon pertolongan kepada orang mati, ruh, atau jin untuk memudahkan urusannya (QS 10/18, 72/6).
  4. Cinta (mahabbah) dan loyalitas (wala') yang salah. Cinta dan loyalitas hanya boleh diarahkan kepada Allah SWT, Rasul SAW dan orang-orang yang beriman dan bertakwa dan tidak boleh diarahkan kepada: Orang-orang yang menentang agama Allah SWT (QS 58/22) dan orang-orang yang mengejek hukum-hukum Allah SWT (QS 5/57). Jika ia mencintai sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT atau karena lebih mencintai sesuatu sehingga ia berani melanggar hukum Allah maka ia telah syirik (QS 2/165, 9/24).
  5. Beranggapan bahwa aturan/hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Allah SWT atau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (QS 9/31, 16/35, 42/21, 4/65).
  6. Sihir (QS 10/81). Dari Bujalah bin 'Abdah berkata bahwa Umar ra telah mengirim surat kepada para gubernurnya untuk menghukum mati para tukang sihir.
  7. Perdukunan (QS 6/59, 27/65). Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR Abu Daud)
  8. Bersumpah dengan selain Allah: "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah syirik." (HR Tirmidzi).
  9. Menggantungkan jimat yang isinya selain ayat al-Qur'an. Barangsiapa menggantungkan jimat (tamimah) maka ia telah syirik. (HR Ahmad); Jika berupa ayat al-Qur'an, maka ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
  10. Mantera dan jampi-jampi. Sesungguhnya bermantera (ar-ruqa'), dan jimat (tama'im) dan pekasih/pelet (at-tiwalah) adalah syirik. (HR Ibnu Majah)
  11. Menyembelih untuk selain Allah. Bersabda nabi SAW: Ada seorang yang masuk naar karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah karena lalat. Maka para sahabat ra bertanya: Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu. Maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama: Sembelihlah kurban! Jawab lelaki tersebut: Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan. Maka kata kaum tersebut: Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat! Maka lelaki itu melakukannya dan ia bisa lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar. Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban ia menjawab: Aku tidak akan berkurban kepada sesuatu pun selain Allah 'Azza wa Jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah. (HR Ahmad)
  12. Merasa sial karena sesuatu apapun: Kata nabi SAW: Barangsiapa yang tidak jadi melakukan sesuatu karena merasa sial, maka ia telah syirik. Maka para sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Katakanlah : Allahumma la khaira illa khairaka wala thiyara illa thiyaraka wala ilaha ghairaka. (HR Ahmad)
  13. Syirik kecil yaitu riya' (QS 18/110): Merasa senang saat orang lain melihat perbuatan baiknya dan menambahinya, dan merasa malas saat tak ada yang melihatnya dan menguranginya. Kata nabi SAW: Yang paling aku takutkan terjadi atas kalian adalah syirik kecil, maka kata para sahabat ra: Apakah itu syirik kecil wahai Rasulullah? Jawab nabi SAW: Riya'. (HR Ahmad dan Abu Daud)
DAMPAK SYIRIK
  1. Memadamkan cahaya fithrah yang bersih. Manusia dilahirkan berada dalam fithrah tauhid yang suci, maka orangtua, lingkungan dan hawa nafsunyalah yang memadamkan fithrah tersebut dari tauhid yang lurus (QS 30/30).
  2. Mematikan kesucian jiwa. Jiwa yang bertauhid takkan tenggelam dalam lumpur hawa nafsu, karena hawa nafsu bersifat menurunkan jiwa manusia kebumi sementara ruh mengangkat ke langit dan melihat ke alam malakut. Maka jiwa yang melakukan syirik akan jatuh ke jurang kerendahan dan kehinaan (QS 22/31).
  3. Menghilangkan sifat 'izzah (kemuliaan). Karena membuat jiwa menjadi tunduk kepada sesuatu selain Allah SWT yang rendah dan hina. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang beriman (QS 63/8). Seorang yang berbuat syirik takkan pernah memiliki kemuliaan dan takkan pernah merasakannya karena ia telah bersandar kepada sesuatu yang rendah dan hina (QS 22/73).
  4. Menggugurkan semua amal baik (QS 39/65). Dosa yang paling besar dan paling dahsyat bahayanya adalah syirik, karena syirik langsung menyentuh nilai-nilai tauhid yang paling mendasar dan aspek ketuhanan yang paling penting dalam agama Islam, yaitu pengakuan syahadah akan ke-Maha Esa-an Allah SWT dari segala sekutu dan tandingan.
  5. Kekal dan abadi di naar (QS 4/116-121). Maka sebagai hukumannya pun paling berat yaitu kekal di naar, dan tidak mendapatkan kesempatan pengampunan sama sekali dari Allah SWT, padahal Ia adalah yang Maha Penyayang (karena pelanggaran ini adalah kesalahan yang memang tidak dapat dan tidak boleh dimaafkan).
Allaahumma innaa na'uudzu bika min an nusyrika bika syai'an na'lamuh wa nas taghfiruka limaa laa na'lamuh...
Al-ikhwan - Abu Abdillah

Tayangan Televisi yang tidak mendidik

Televisi Online

Edisi : Keluarga
Oleh : Rachmad Aziz Mucharom, Ir.MM

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat tertegun oleh berita seorang bocah berusia lima tahun di Bekasi yang memukuli neneknya sampai tewas dengan tongkat. Komentar bocah ini sungguh mengejutkan, "Nenek aku pukul pakai tongkat karena tidur terus. Dia berdarah seperti bom Kuningan." Mungkin si bocah pernah melihat korban berdarah-darah akibat bom di Kuningan di tayangan televisi.

Lain lagi di India. Tiga anak tewas karena bermain hukuman gantung. Kejadian ini tidak jauh berselang setelah tayangan televisi India gencar memperlihatkan prosesi hukuman gantung seseorang yang bersalah membunuh anak berusia 14 tahun. Dan anak-anak itu menirunya.

Sebagai seorang ayah dari dua anak, saya mungkin tak dianggap golongan modern lantaran belakangan ini memutuskan untuk tidak memiliki televisi. Ya, televisi. Sebuah benda elektronik yang bisa menampilkan berbagai adegan. Mulai tangisan, pertengkaran, pembunuhan, pemerkosaan sampai makhluk ghaib. Bahkan film anak tidak luput dari kombinasi adegan tersebut yang terus disiarkan dari dini hari sampai tengah malam. Mau tak mau, aneka adegan itu terekam kuat dalam ingatan.

Saya memutuskan hal ini karena berbagai pengalaman dengan anak-anak saya. Saya pikir tayangan televisi yang baik untuk anak dalah tayangan tanpa kekerasan. Karena tayangan-tayangan tersebut saya sulit sekali mengajarkan kata-kata santun pada mereka, sementara tiap hari mereka menonton televisi. Seperti pengalaman saya dengan kedua anak saya. Suatu hari si sulung berkata, "Dasar bodoh..! Adiknya menyahut, Kubalas kau..! Tayangan Televisi yang tidak mendidik membuat anak-anak saya bersikap seperti itu. Sambil terheran-heran saya mendekati mereka. Saya rangkul mereka dan bertanya, Sayang, kata-kata tadi kalian dapat dari mana? Rasanya Bapak tidak pernah mengajarkannya?. Mereka diam saja. Karena tak dapat jawaban, saya cuma minta mereka tak mengulangi kata-kata semacam itu lagi.

Rasa penasaran itu akhirnya menemukan jawabannya. Ketika saya menemani mereka menonton film kartun, saya melihat dan mendengar film itu penuh dengan kata sumpah serapah. Ceritanya memang tentang ajang balap mobil, tapi adegan saling memusuhi dan menjatuhkan mendominasi film tersebut. Kata-katanya persis seperti yang diucapkan si sulung dan adiknya. Rupanya, mereka terimbas prilaku sang jagoan yang beraksi di televisi.

Sungguh, saya rindu pada media yang memberikan porsi terbesar pada ketauladanan, ilmu pengetahuan, berita-berita dan acara yang memotivasi diri untuk berbuat baik. Singkatnya, media yang ramah pada anak-anak. Media yang lebih bermutu, lebih sehat, santun, dan dapat membantu orang tua memberikan pendidikan terbaiknya.

Jika yang dicontohkan media, dalam hal ini televisi, adalah prilaku buruk, maka tak salah jika hasil penelitian menyimpulkan, Televisi lebih banyak menimbulkan dampak buruk bagi anak-anak. Selagi hasil penelitian itu belum berubah, saya memilih mengucapkan, "Selamat tinggal televisi!"

*Karyawan Telkom CISC