Hamas Kecam Rencana Gus Dur Menghadiri Perayaan 60 Tahun Israel


Daripada merayakan penjajahan Israel terhadap Palestina, lebih baik menjenguk dan membantu 1,5 juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang kelaparan dan krisis bahan bakar, karena diblokade Israel. Demikian pendapat Dr Musa Abu Marzuk, Wakil Kepala Biro Politik Hamas dalam Wawancara Khusus dengan Hidayatullah. com.

Hidayatullah. com--Rencana mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid untuk menghadiri perayaan 60 tahun berdirinya negara Zionis Israel, bulan Mei mendatang, dikritik oleh tokoh pejuang kemerdekaan Palestina, Dr Musa Abu Marzuq.

Ditemui oleh Hidayatullah. com di kantornya di Damaskus beberapa jam yang lalu, Abu Marzuq, yang menjabat Wakil Kepala Biro Politik Hamas (Gerakan Perlawanan Islam untuk Kemerdekaan Palestina) menyebut rencana itu, "sungguh-sungguh memalukan."

Menurut Abu Marzuq, merayakan 60 tahun berdirinya Zionis Israel sama halnya merayakan pembantaian, pengusiran, perusakan kebun-kebun dan penjajahan atas rakyat Palestina dan Masjidil Aqsa.

"Bagaimana mungkin seorang Muslim seperti Abdurrahman Wahid tega ikut serta merayakan kezaliman atas saudara-saudara Muslimnya sendiri?" tukasnya.

Menurut Abu Marzuq, kalau Presiden AS George Bush menghadiri perayaan seperti itu, dirinya masih bisa memahami, tapi kalau seorang bekas presiden dari sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia yang melakukannya, "sungguh memalukan."

Dr Musa menyarankan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk datang sendiri melihat keadaan saudara-saudaranya di Gaza.

"Sudah berbulan-bulan, 1,5 juta saudara-saudara Anda, terutama anak-anak, saat ini hidup tanpa bahan bakar, tanpa obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas karena diblokade oleh Zionis Israel," jelasnya.

Namun, Abu Marzuq mengingatkan, bahwa Israel tidak mungkin memberikan izin kepada siapapun untuk menyaksikan kekejaman mereka atas para penduduk Gaza.

"Minggu lalu, bekas (Presiden AS Jimmy) Carter juga dilarang Israel masuk ke Gaza," katanya.

Karena masuk ke Gaza tidak mungkin, saat ini, ia menyarankan para tokoh Muslim Indonesia agar mengunjungi para pengungsi Palestina di Yordania, Mesir dan Suria. "Ada 6 juta saudara-saudara Anda bangsa Palestina yang sekarang diusir oleh Zionis Israel dan terpaksa hidup di pengungsian, " katanya.

Menanggapi langkah-langkah pemerintah Otoritas Palestina di bawah Mahmud Abbas yang menambah terus jumlah "duta besar" Palestina di berbagai negara, Abu Marzuq mengatakan, bahwa dirinya tak merasa ada masalah dengan itu.

Sejak sepuluh tahun silam, sudah lebih dari seratus negara yang memiliki duta besar atau perwakilan PLO. "Yang terpenting," kata Abu Marzuq, "para duta besar itu bekerja untuk kepentingan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Palestina. Jangan sampai mereka memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu yang mengakibatkan lemahnya persatuan bangsa Palestina."

Ketika berkunjung ke Indonesia beberapa bulan silam, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di depan tokoh-tokoh Indonesia menyebut Hamas sebagai "kriminal". Namun Abu Marzuq enggan menanggapi pernyataan-pernyata an yang bernada kampanye hitam itu.

Menurutnya, apapun yang dikatakan oleh Mahmud Abbas tentang Hamas, tidak akan banyak pengaruhnya bagi kepentingan Palestina.

"Sebab dunia sudah bisa menyaksikan, " ujarnya, "siapa yang benar-benar bekerja untuk kemerdekaan Palestina, dan siapa yang hanya bikin masalah."

Menurut Abu Marzuq, saat ini ada upaya keras untuk membangun citra, seakan-akan Gaza di bawah Hamas adalah Korea Utara yang kacau-balau dan pemerintahnya salah urus. Sedangkan Tepi Barat adalah Korea Selatan yang modern dan kaya raya.

"Tapi kami ingin menyampaikan, bahwa prioritas pekerjaan kami adalah rekonsiliasi rakyat Palestina, keselamatan mereka dan dikembalikannya hak-hak mereka di manapun mereka berada," kata Abu Marzuq.

Sejauh ini Mahmud Abbas telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Zionis Israel Ehud Olmert sebanyak 51 kali. "Hasilnya bukan saja nol, malah semakin buruk," simpul Abu Marzuq.

Dr Musa Abu Marzuq lahir di Gaza tahun 1951. Setelah menyelesaikan kesarjanaan tekniknya di Universitas Ayn Syams, Kairo ia bekerja di bidang industri di Uni Emirat sampai tahun 1981. Sepuluh tahun kemudian ia menyelesaikan studi S-3 di Amerika Serikat.

Di Biro Politik Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah) , Abu Marzuq adalah wakil dari Khalid Misy'al yang pernah diwawancarai majalah Suara Hidayatullah, edisi September 2006.

[Dzikrullah, Khadijah, dan Kaisya Fatina (fotojurnalis) dari Damaskus/www. hidayatullah. com]

Makna Syirik

Contoh Perbuatan Syirik

Syirik dalam islam artinya menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya.

SEBAB-SEBAB SYIRIK
  1. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan yang berlebihan. Pengagungan dalam syari'at Islam ada 2 macam:
    • Pengagungan yang sampai batas-batas tertentu dibolehkan bahkan diwajibkan (thobi'i), seperti anak kepada ayahnya (QS 17/23-24), terhadap nabi dan rasul as (QS 4/64, 24/63, 49/2-3).
    • Pengagungan yang berlebihan dan sampai pada tingkat taqdis (pengkultusan) kepada siapapun adalah terlarang, walaupun terhadap nabi as (QS 3/144), malaikat (QS 43/19), jin (QS 37/158-159), ulama dan orang shalih (QS 71/21-23), benda-benda langit (QS 41/37).
  2. Bersandar kepada sesuatu yang dapat diketahui oleh panca indera saja dan meremehkan yang diluar panca indera (QS 2/55, 7/138, 20/87-88).
  3. Mengutamakan hawa nafsu (QS 31/21, 19/59, 28/50, 25/43, 3/14).
  4. Bersikap sombong (QS 43/51-52, 40/56, 2/258).
  5. Ridha pada para pimpinan yang menindas manusia dan tidak berhukum kepada hukum Allah SWT dan rasul-Nya (QS 5/44-47, 7/65-66, 7/73-76, 34/31-33).
BENTUK-BENTUK SYIRIK
Syirik dalam al-Qur'an dan as-Sunnah bukan hanya sujud kepada berhala saja, sujud kepada berhala merupakan salah satu dari bentuk-bentuk syirik yang sangat banyak bentuknya, diantaranya:
  1. Meyakini bahwa ada yang memiliki kekuatan atau dapat memberi manfaat dan madharat selain Allah SWT (QS 2/102).
  2. Mendekatkan diri dengan memuja kepada sesuatu dengan keyakinan bahwa dengan sesuatu itulah ia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT (QS 39/3).
  3. Memohon pertolongan kepada orang mati, ruh, atau jin untuk memudahkan urusannya (QS 10/18, 72/6).
  4. Cinta (mahabbah) dan loyalitas (wala') yang salah. Cinta dan loyalitas hanya boleh diarahkan kepada Allah SWT, Rasul SAW dan orang-orang yang beriman dan bertakwa dan tidak boleh diarahkan kepada: Orang-orang yang menentang agama Allah SWT (QS 58/22) dan orang-orang yang mengejek hukum-hukum Allah SWT (QS 5/57). Jika ia mencintai sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT atau karena lebih mencintai sesuatu sehingga ia berani melanggar hukum Allah maka ia telah syirik (QS 2/165, 9/24).
  5. Beranggapan bahwa aturan/hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Allah SWT atau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (QS 9/31, 16/35, 42/21, 4/65).
  6. Sihir (QS 10/81). Dari Bujalah bin 'Abdah berkata bahwa Umar ra telah mengirim surat kepada para gubernurnya untuk menghukum mati para tukang sihir.
  7. Perdukunan (QS 6/59, 27/65). Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR Abu Daud)
  8. Bersumpah dengan selain Allah: "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah syirik." (HR Tirmidzi).
  9. Menggantungkan jimat yang isinya selain ayat al-Qur'an. Barangsiapa menggantungkan jimat (tamimah) maka ia telah syirik. (HR Ahmad); Jika berupa ayat al-Qur'an, maka ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
  10. Mantera dan jampi-jampi. Sesungguhnya bermantera (ar-ruqa'), dan jimat (tama'im) dan pekasih/pelet (at-tiwalah) adalah syirik. (HR Ibnu Majah)
  11. Menyembelih untuk selain Allah. Bersabda nabi SAW: Ada seorang yang masuk naar karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah karena lalat. Maka para sahabat ra bertanya: Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu. Maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama: Sembelihlah kurban! Jawab lelaki tersebut: Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan. Maka kata kaum tersebut: Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat! Maka lelaki itu melakukannya dan ia bisa lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar. Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban ia menjawab: Aku tidak akan berkurban kepada sesuatu pun selain Allah 'Azza wa Jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah. (HR Ahmad)
  12. Merasa sial karena sesuatu apapun: Kata nabi SAW: Barangsiapa yang tidak jadi melakukan sesuatu karena merasa sial, maka ia telah syirik. Maka para sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Katakanlah : Allahumma la khaira illa khairaka wala thiyara illa thiyaraka wala ilaha ghairaka. (HR Ahmad)
  13. Syirik kecil yaitu riya' (QS 18/110): Merasa senang saat orang lain melihat perbuatan baiknya dan menambahinya, dan merasa malas saat tak ada yang melihatnya dan menguranginya. Kata nabi SAW: Yang paling aku takutkan terjadi atas kalian adalah syirik kecil, maka kata para sahabat ra: Apakah itu syirik kecil wahai Rasulullah? Jawab nabi SAW: Riya'. (HR Ahmad dan Abu Daud)
DAMPAK SYIRIK
  1. Memadamkan cahaya fithrah yang bersih. Manusia dilahirkan berada dalam fithrah tauhid yang suci, maka orangtua, lingkungan dan hawa nafsunyalah yang memadamkan fithrah tersebut dari tauhid yang lurus (QS 30/30).
  2. Mematikan kesucian jiwa. Jiwa yang bertauhid takkan tenggelam dalam lumpur hawa nafsu, karena hawa nafsu bersifat menurunkan jiwa manusia kebumi sementara ruh mengangkat ke langit dan melihat ke alam malakut. Maka jiwa yang melakukan syirik akan jatuh ke jurang kerendahan dan kehinaan (QS 22/31).
  3. Menghilangkan sifat 'izzah (kemuliaan). Karena membuat jiwa menjadi tunduk kepada sesuatu selain Allah SWT yang rendah dan hina. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang beriman (QS 63/8). Seorang yang berbuat syirik takkan pernah memiliki kemuliaan dan takkan pernah merasakannya karena ia telah bersandar kepada sesuatu yang rendah dan hina (QS 22/73).
  4. Menggugurkan semua amal baik (QS 39/65). Dosa yang paling besar dan paling dahsyat bahayanya adalah syirik, karena syirik langsung menyentuh nilai-nilai tauhid yang paling mendasar dan aspek ketuhanan yang paling penting dalam agama Islam, yaitu pengakuan syahadah akan ke-Maha Esa-an Allah SWT dari segala sekutu dan tandingan.
  5. Kekal dan abadi di naar (QS 4/116-121). Maka sebagai hukumannya pun paling berat yaitu kekal di naar, dan tidak mendapatkan kesempatan pengampunan sama sekali dari Allah SWT, padahal Ia adalah yang Maha Penyayang (karena pelanggaran ini adalah kesalahan yang memang tidak dapat dan tidak boleh dimaafkan).
Allaahumma innaa na'uudzu bika min an nusyrika bika syai'an na'lamuh wa nas taghfiruka limaa laa na'lamuh...
Al-ikhwan - Abu Abdillah

Tayangan Televisi yang tidak mendidik

Televisi Online

Edisi : Keluarga
Oleh : Rachmad Aziz Mucharom, Ir.MM

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat tertegun oleh berita seorang bocah berusia lima tahun di Bekasi yang memukuli neneknya sampai tewas dengan tongkat. Komentar bocah ini sungguh mengejutkan, "Nenek aku pukul pakai tongkat karena tidur terus. Dia berdarah seperti bom Kuningan." Mungkin si bocah pernah melihat korban berdarah-darah akibat bom di Kuningan di tayangan televisi.

Lain lagi di India. Tiga anak tewas karena bermain hukuman gantung. Kejadian ini tidak jauh berselang setelah tayangan televisi India gencar memperlihatkan prosesi hukuman gantung seseorang yang bersalah membunuh anak berusia 14 tahun. Dan anak-anak itu menirunya.

Sebagai seorang ayah dari dua anak, saya mungkin tak dianggap golongan modern lantaran belakangan ini memutuskan untuk tidak memiliki televisi. Ya, televisi. Sebuah benda elektronik yang bisa menampilkan berbagai adegan. Mulai tangisan, pertengkaran, pembunuhan, pemerkosaan sampai makhluk ghaib. Bahkan film anak tidak luput dari kombinasi adegan tersebut yang terus disiarkan dari dini hari sampai tengah malam. Mau tak mau, aneka adegan itu terekam kuat dalam ingatan.

Saya memutuskan hal ini karena berbagai pengalaman dengan anak-anak saya. Saya pikir tayangan televisi yang baik untuk anak dalah tayangan tanpa kekerasan. Karena tayangan-tayangan tersebut saya sulit sekali mengajarkan kata-kata santun pada mereka, sementara tiap hari mereka menonton televisi. Seperti pengalaman saya dengan kedua anak saya. Suatu hari si sulung berkata, "Dasar bodoh..! Adiknya menyahut, Kubalas kau..! Tayangan Televisi yang tidak mendidik membuat anak-anak saya bersikap seperti itu. Sambil terheran-heran saya mendekati mereka. Saya rangkul mereka dan bertanya, Sayang, kata-kata tadi kalian dapat dari mana? Rasanya Bapak tidak pernah mengajarkannya?. Mereka diam saja. Karena tak dapat jawaban, saya cuma minta mereka tak mengulangi kata-kata semacam itu lagi.

Rasa penasaran itu akhirnya menemukan jawabannya. Ketika saya menemani mereka menonton film kartun, saya melihat dan mendengar film itu penuh dengan kata sumpah serapah. Ceritanya memang tentang ajang balap mobil, tapi adegan saling memusuhi dan menjatuhkan mendominasi film tersebut. Kata-katanya persis seperti yang diucapkan si sulung dan adiknya. Rupanya, mereka terimbas prilaku sang jagoan yang beraksi di televisi.

Sungguh, saya rindu pada media yang memberikan porsi terbesar pada ketauladanan, ilmu pengetahuan, berita-berita dan acara yang memotivasi diri untuk berbuat baik. Singkatnya, media yang ramah pada anak-anak. Media yang lebih bermutu, lebih sehat, santun, dan dapat membantu orang tua memberikan pendidikan terbaiknya.

Jika yang dicontohkan media, dalam hal ini televisi, adalah prilaku buruk, maka tak salah jika hasil penelitian menyimpulkan, Televisi lebih banyak menimbulkan dampak buruk bagi anak-anak. Selagi hasil penelitian itu belum berubah, saya memilih mengucapkan, "Selamat tinggal televisi!"

*Karyawan Telkom CISC

Orang yang paling berani

Sahabat Rasulullah SAW


Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, "Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, "Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?"

Jawab mereka, "Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin." Kata Ali, "Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemankan Rasulullah s.a.w dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi s.a.w. Itulah orang yang paling berani."

"Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, "Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?" Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, "Apakah kamu hendak membunuhorang yang bertuhankan Allah ?"

Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, "Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?" Semua jamaah diam saja tidak ada yang menjawab. Jawab Ali selanjutnya, "Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh dunia, kerana orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya."

Pikiran Membentuk Diri Kita

 
Kekuaran Pikiran



Dalam sebuah kisah diceritakan, seorang petani menemukan telur elang dan menempatkannya bersama telur ayam yang sedang dierami induknya. Setelah menetas, elang itu hidup dan berperilaku persisi seperti anak ayam karena ia mengira dirinya memang anak ayam.

Pada suatu hari, ia melihat seekor elang dengan gagah terbang mengarungi angkasa. 

"Wow, luar biasa! Siapakah itu? Terbang cepat sekali dan terlihat gagah," katanya penuh kekaguman.
"Itulah elang. Raja segala burung! Sahut ayam disekitarnya.
"Kalau saja kita bisa terbang, ya? Luar biasa!" ujar elang kecil itu.
Para ayam menjawab,"Ah, jangan mimpi! Ia makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk bumi. Kita hanya ayam!"

Elang itu melihat ada banyak kesamaan antara dirinya dengan elang yang sedang terbang. Ia menyakini bahwa dirinya pun sanggup untuk terbang. Namun, ayam-ayam disekitarnya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah ayam, itulah kekuatan pikiran. Mereka mengatakan kalau ia tidak bisa terbang karena ia adalah hanya seekor ayam. Akhirnya, elang itu makan, minum,menjalani hidup, dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Begitulah, kita sesuai dengan anggapan kita sendiri. Berpikir seperti seorang juara bisa membuat kita benar-benar menjadi juara. Berpikir menjadi orang yang selalu kalah dan rendah malah benar-benar membuat kita selalu menjadi orang rendahan. Pikiran adalah sumber kekuatan yang dahsyat. Sudut pandang yang ada dalam pikiran kita akan mempengaruhi apa yang kita lihat. Ini bisa menjebak.

Ketika kita mempunyai pikiran bahwa orang negro itu jahat dan setiap kita melihat orang yang kulit hitam legam, tubuh kita bereaksi untuk bersikap waspada dan menjauhinya. Namun, ketika orang itu malah membantu, kita terkejut dan menyangka ia pasti memiliki maksud tertentu.

Ketika kita mempunyai pikiran bahwa kita adalah orang biasa, kita pun akan hidup dan mati seperti orang biasa, Namun, ketika kita yakin kita bukan orang biasa, yaitu orang yang ditakdirkan menjadi orang yang luar biasa, kita akan berusaha lebih keras daripada usaha orang lain. Bukan bermaksud menjadi takabur, tetapi agar menjadi lebih kuat. Tambah dan perluaslah wawasan hidup agar kita dapat memiliki sudut pandang yang lebih kaya. ( dikutip dari buku "Bahagia Tanpa Batas" )

" Jika Anda ingin keberhasilan biasa, perbaikilah perilaku ;
Jika Anda ingin keberhasilan besar, perbaiki pola pikir "
( Stephen R. Covey )

Hadits - Hadits palsu tentang keutamaan Shalat dan Puasa di bulan Rajab

Puasa Rajab

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan, sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian dari sebagian lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya bulan Ramadhan dengan kewajiban puasa pada siangnya dan sunnah menambah ibadah pada malamnya. Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan berperang pada bulan-bulan itu.
Allah juga mengkhususkan hari Jum'at dalam sepekan untuk berkumpul shalat Jum'at dan mendengarkan khutbah yang berisi peringatan dan nasehat.
Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma'aad,[1] bahwa Jum'at mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengkhususkan ibadah pada malam Jum'at atau puasa pada hari Jum'at, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum'at untuk beribadah dari malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada hari Jum'at dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari Jum'at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya." [HR. Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban (no. 3603), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 980)]
Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan siang dengan menjanjikan terkabulnya do'a dan terpenuhinya permintaan. Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik apabila dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah dibandingkan tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.
Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.
Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.
HADITS PERTAMA
"Artinya : Rajab bulan Allah, Sya'ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku"
Keterangan: HADITS INI " MAUDHU'
Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): "Hadits ini maudhu'." [Lihat Maudhu'atush Shaghani (I/61, no. 129)]
Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:
"Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum'at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaaib..."
Keterangan: HADITS INI MAUDHU'
Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): "Hadits ini diriwayatkan oleh 'Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Muhammad bin Sa'id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin 'Abdullah as-Shan'any, dari Humaid Ath-Thawil dari Anas, secara marfu'. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha'if (no. 168-169)]
Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): "Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: "Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka." [Al-Maudhu'at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]
Imam adz-Dzahaby berkata: " 'Ali bin 'Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits."
Kata para ulama lainnya: "Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa'ib." [Periksa: Mizaanul I'tidal (III/142-143, no. 5879)]
HADITS KEDUA
"Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya'ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba."
Keterangan: HADITS INI MAUDHU'
Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany: "Hadits ini palsu." [Lihat al-Mashnu' fii Ma'rifatil Haditsil Maudhu' (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]
HADITS KETIGA:
"Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka'at, setiap raka'at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian." Kami berkata: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: 'Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.'"
Keterangan: HADITS MAUDHU'
Kata Ibnul Jauzi: "Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya)." [Lihat al-Maudhu'at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits Maudhu'at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari'ah al-Marfu'ah 'anil Akhbaaris Syanii'ah al-Maudhu'at (II/89), oleh Abul Hasan 'Ali bin Muhammad bin 'Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).]
HADITS KEEMPAT
"Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka'at, di raka'at pertama baca 'ayat Kursiy' seratus kali dan di raka'at kedua baca 'surat al-Ikhlas' seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)"
Keterangan: HADITS INI MAUDHU'
Kata Ibnul Jauzy: "Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama 'Utsman bin 'Atha' adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits." [Al-Maudhu'at (II/123-124).]
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany, 'Utsman bin 'Atha' adalah rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]
HADITS KELIMA
"Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan."
Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu'.
Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa'ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu'ah (no. 290)]
Kata Imam an-Nasa'i: "Furaat bin as-Saa'ib Matrukul hadits." Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: "Para Ahli Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni." [Lihat adh-Dhu'afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no. 512), al-Jarh wat Ta'dil (VII/80), Mizaanul I'tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).]
HADITS KEENAM
"Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan 'Rajab' airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu."
Keterangan: HADITS INI BATHIL
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Imran, ia berkata: "Aku mendengar Anas bin Malik berkata, ..."
Imam adz-Dzahaby berkata: "Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil." [Lihat Mizaanul I'tidal (IV/ 189)]
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: "Musa bin 'Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya." [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah (no. 1898)]
HADITS KETUJUH.
"Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah."
Keterangan: HADITS INI PALSU
Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa'idul Majmu'ah fil Ahaadits al-Maudhu'ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani berkata: "Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu'ah, ia berkata: 'Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu'.'"
Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:
[1]. 'Amr bin al-Azhar al-'Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits." Sedangkan kata Imam al-Bukhari: "Dia dituduh sebagai pendusta." Kata Imam Ahmad: "Dia sering memalsukan hadits." [Periksa, adh-Dhu'afa wal Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I'tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta'dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353)]
[2]. Abaan bin Abi 'Ayyasy, seorang Tabi'in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: "Dia Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya)." Kata Yahya bin Ma'in: "Dia matruk." Dan beliau pernah berkata: "Dia rawi yang lemah." [Periksa: Adh Dhu'afa wal Matrukin (no. 21), Mizaanul I'tidal (I/10), al-Jarh wat Ta'dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142)]
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu 'Ulwan dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: "Ibnu 'Ulwan adalah pemalsu hadits." [Lihat al-Fawaaidul Majmu'ah (hal. 102, no. 288).
Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang keutamaan Rajab, shalat Raghaa'ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadits saja.
[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

Bolehkan Wudhu Tanpa Membuka Jilbab?

 
Niat wudhu


Wudhu Tanpa Membuka Jilbab

Assalamualaikum wr wb,

Pak Ustadz yang dirahmati Alloh swt, saya baru saja membaca jawaban pak ustadz tentang berwudhu dengan hanya mengusap sepatu.

Yang ingin saya tanyakan, bagaimana dengan wanita yang berwudhu hanya dengan mengusap kaus kaki apakah itu sah, pertanyaan saya yang kedua, belehkah berwudhu tanpa membuka jilbab dan pada waktu mengusap kepala yang diusap bagian atas jilbabnya saja.karena ada ustadz yang membolehkan tapi setiap melalukannya saya merasa ragu

Terima kasih banyak sebelumnya atas jawaban pak ustadz

Wassalamualaikum wr wb
Linda Saputra

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau berwudhu' tanpa membuka sepatu dan cukup mengusapkannya saja dengan air, memang karena Rasulullah SAW mencontohkannya. Sehingga sesuatu yang punya dasar masyru'iyah dari Rasulullah SAW, tentu akan kita jadikan pegangan.

Akan tetapi, manakala kita tidak menemukan contoh atau masyru'iyah yang tegas dari Rasulullah SAW, maka kita pun tidak boleh asal bikin ibadah baru, terutama dalam hal-hal yang terkait dengan ibadah ritual. Karena hal itu malah bisa menjadi bid'ah. Tentu saja bisa jadi sesat dan malah masuk neraka.

Mengusap sepatu atau lebih dikenal dengan istilah khuff, merupakan sunnah Rasulullah SAW dengan dasar hadits yang secara eksplisit disebutkan dengan jelas. Di antaranya adalah hadits berikut ini:

وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ ، وَقَدْ رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ ، أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
Dari Ali bin Abi Thalib berkata:`Seandainya agama itu semata-mata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua sepatunya.(HR Abu Daud dan Daru Qudni dengan sanad yang hasan dan disahihkan oleh Ibn Hajar)

Selain itu ada juga hadis Ali Lainnya

عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ - يَعْنِي فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Ali bin Abi Thalib r.a berkata bahwa Rasulullah menetapkan tiga hari untuk musafir dan sehari semalam untuk orang mukim (untuk boleh mengusap khuff). (HR Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Ibn Majah.)

Juga ada hadis dari al-Mughirah bin Syu`bah

Dari al-Mughirah bin Syu`bah berkata: Aku bersama dengan Nabi (dalam sebuah perjalanan) lalu beliau berwudhu. aku ingin membukakan sepatunya namun beliau berkata:`Tidak usah, sebab aku memasukkan kedua kakiku dalam keadaan suci." lalu beliau hanya megusap kedua sepatunya (HR Mutafaqun `Alaih)

Ada juga hadis Sofwan bin `Asal

وَعَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ ، إلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ ، وَاللَّفْظُ لَهُ ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَاهُ
Dari Sofwan bin `Asal berkata bahwa Rasululah saw. memrintahkan kami untuk mengusap kedua sepatu bila kedua kaki kami dalam keadaan suci. selama tiga hari bila kami bepergian atau sehari semalam bila kami bermukim, dan kami tidak boleh membukanya untuk berak dan kencing kecuali karena junub (HR Ahmad, Nasa`i, Tirmizi dan dihasankan oleh Bukhari)

Mengusap Kaus Kaki

Seandainya memang ingin mengusap kaus kaki sebagai ganti dari mencuci kaki, maka syarat-syaratnya harus dipenuhi. Misalnya, kaus kaki itu harus tidak tembus air. Juga harus menutupi kaki hingga mata kaki.

Tapi kalau kaus kaki itu tembus air, maka kaus kaki itu tidak memenuhi syarat menjadi khuff. Sehingga tidak sah bila tidak mencuci kaki.

Mengusap Jilbab

Problematika para wanita ketika berwudhu' di tempat umum yang terbuka adalah tidak mungkin bagi mereka untuk melepas jilbab (kerudung). Sehingga ada sebagian orang yang demi membela tidak membuka aurat di muka umum, lalu berwudhu' tanpa melepas jilbab, dan kemudian hanya mengusapkannya dengan air.

Mungkin mereka berpikir, kalau sepatu saja boleh tidak dibuka dan diusap dengan air, maka seharusnya jilbab pun demikian.

Kesalahan ijtihad ini adalah bahwa ternyata tidak ada dalil yang membolehkan hal itu. Sedangkan mengusap sepatu, memang ada dalilnya. Itu pun dengan petunjuk yang detail di mana di sana disebutkan bagian mana yang harus diusap dan mana yang tidak perlu diusap.

Seandainya yang diusap bagian bawah sepatu, maka hukumnya tidak sah. Padahal masih bagian dari sepatu juga. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Dari Ali bin Abi Thalib berkata:`Seandainya agama itu semata-mata menggunakan akal maka seharusnya yang diusap adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah mengusap bagian atas kedua sepatunya.(HR Abu Daud dan Daru Qudni dengan sanad yang hasan dan disahihkan oleh Ibn Hajar)

Maka ketika seorang wanita mengusap jilbabnya, manakah dalil yang shahih yang benar-benar merupakan petunjuk dari Rasulullah SAW atas hal itu? Kalau tidak ada dalilnya, bagaimana mungkin kita tiba-tiba mengarang sendiri hal tersebut?

Jalan Keluar

Kalau mengusap jilbab tidak sah, lalu apa yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah tetap mengusap kepala, sebagaimana firman Allah SWT. Dan itu tetap bisa dilakukan tanpa harus melepas kerudung. Cukup dengan membasahi kedua tangan dengan air, lalu kedua tangan itu diselipkan masuk ke dalam kerudung dari dalam.

Dan kalau kita meminjam mazhab Asy-Syafi'i, cukup tiga lembar rambut saja yang basah, sudah dianggap cukup sah sebagai bentuk dari mengusap kepala.

Jadi jilbab tidak perlu dilepas, tapi wudhu' tetap sah dalam pandangan syariah. Sedangkan kaus kaki tetap harus dilepas dan kaki tetap harus dicuci. Kalau tidak mau cuci kaki, maka pakailah sepatu bot anti air yang menutup mata kaki dan jangan dicopot selama 24 jam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Islam: satu-satunya alternatif

 
berita islam



Kemerosotan peranan politik dan peradaban Islam tidaklah menyebabkan hilangnya system ajaran Islam sebagai suatu system nilai (value system) yang telah merasuk pada kalbu Muslimin, dan bahkan memberikan rembesan tumbuhnya embrio peradaban Barat modern. (Betapa banyak warisan kebudayaan Islam yang diambil alih dan di'claim' sebagai milik Barat). Sebagai system ajaran, Islam tetap memiliki alternatif satu-satunya bagi manusia yang ingin selamat dunia maupun akhirat. Islam juga akan tetap menjadi satu-satunya alternatif peradaban modern ummat manusia, pada hari ini dan hari depan. Secara konsepsional, Islamlah yang paling layak untuk menggantikan seluruh konsepsi spiritual yang telah ada. Hujjah tekstual tak usah dipertanyakan lagi. Semuanya bisa dilihat dan dikaji kebenarannya dari sumber-sumber pokok ajaran Islam, yaitu al_Qur'an dan as_Sunnah. Adapun hujjah intelektual ditangan pada peninjau yang dianggap 'netral', dengan mengikuti disiplin ilmiah tertentu, menyatakan tentang keunggulan Islam dan memperoleh pensubstitusian sehingga bebas dari kesan apologetik apapun.
Contok tinjauan netral ini dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang sosiolog agama. Gellner menunjukkan bahwa tradisi agung dalam Islam tetap bisa dimodernkan (modernizable) tanpa perlu memberi konsesi kepada pihak luar. Dan ini merupakan kelanjutan dialog ummat Islam sendiri sepanjang sejarahnya. "Diantara berbagai agama yang ada", kata Gellner, "Islam adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan sistem keimanannya dalam abad modern ini, tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya dalam Islam", lanjut Gellner, "pemurnian dan modernisasi di satu pihak, dan peneguhan kembali identitias ummat di pihak lain, dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat yang sama. Dunia Islam memang tidak begitu gemilang menerobos dan mempelopori ummat manusia memasuki abad modern. Tetapi karena watak dasar Islam sendiri, kaum Muslimin mungkin justru menjadi kelompok manusia yang memperoleh manfaat terbesar dari kemoderenan dunia. Tentunya kemoderenan disini bermakna kamajuan teknikalisme. Dengan kata lain, kunci keberhasilan Islam memasuki abad kegemilangannya terletak pada peneguhan kembali Warisan Syariah yang tak pernah lapuk. Kekokohan struktural harus dibangun di bawah, serta kemampuan mengambil alih dan merebut teknikalisme yang dimonopoli Barat".
Sementara itu, optimisme di kalangan ummat tentang kebangkitan Islam, bukanlah optimisme yang tanpa alasan, terutama berkaitan dengan potensi besar yang dimiliki kaum Muslimin, yaitu:
Pertama, potensi Syariah Islam itu sendiri sebagai warisan kemanusiaan yang diberikan oleh Allah SWT. Warisan yang tak pernah lapuk. Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang masih terpelihara originalitasnya (asholah), kecuali Islam. Lebih dari itu, Islamlah satu-satunya agama yang sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.
Kedua, potensi penduduk Muslim yang berjumlah kurang lebih satu per empat milyar jiwa. Ini berarti seperlima penduduk dunia adalah Muslim. Islam adalah agama yang paling muda, yang jumlah pengikutnya sebanding, bahkan melebihi agama-agama lain yang lebih tua, seperti Nasrani dan Yahudi. Meski gelombang politik Islam naik turun, tetapi jumlah penduduknya - secara global - tidak pernah berkurang. Islam ibarat air, senantiasa mencari tempat yang rendah untuk mengalir.
Ketiga, potensi sumber-sumber kekayaan alam yang melimpah di negeri-negeri Muslim, khususnya minyak bumi dan sumber-sumber mineral lainnya.
Potensi minyak bumi yang berada di negara-negara Teluk, di Aljazair, Brunei Darussalam, Indonesia, dan seterusnya. Bahkan di wilayah Sovyet (pen. former) dan RRC pun ditemukan sumber-sumber minyak yang ditempati kaum Muslimin Sovyet (pen. former) atau kaum Muslimin RRC. Memang Allah SWT. telah menyediakan energi material dan immaterial untuk membantu kaum Muslimin, membangun dan memanfaatkan untuk menegakkan agama-Nya, sekaligus memadamkan berbagai pemberontakan terhadap Allah SWT. di berbagai penjuru dunia ini.
Keempat, potensi warisan sejarah. Islam pada masa lampau telah berjaya memegang kendali peradaban lebih dari tujuh abad lebih. Belum pernah ada satu agama maupun ideologi yang mampu mengembangkan peradabannya melebihi dari Islam. Peradaban Barat pun hari ini baru berumur kurang lebih 450 tahun. Jika Muslimin pada masa lampau menguasai peradaban, tentu bisa juga untuk masa depan.
Kelima, janji Allah SWT. yang tidak pernah diingkari. Bahwa Allah akan mengembalikan kekhalifahannya di muka bumi kepada orang-orang yang
beriman. (Al Qur'an surat 24:55)