27 March 2007

Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas

Oleh : Redaksi 12 Mar, 07 - 5:00 pm

"Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, " begitulah pernyataan yang
dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset
oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci
Makkah saat ini.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji
umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis,
Ka'bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim
sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. "Hal
ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah
mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda
lihat cuma semen dan kaca, " ujar Ahmad serius.

Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat
ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat
perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai
kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( www.abrajalbait.com ), salah satu mall
terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006
kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya
lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko
pakaian dalam.

Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel
yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai
tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia,
dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.

Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu
juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi
baru.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji
umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis,
Ka'bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim
sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

"Ini adalah akhir dari Makkah, " kata Irfan Ahmad dari London, pendiri
Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan
peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat
lainnya di Arab Saudi.

"Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah
yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang
lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu,
" tukas Irfan.

Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di
Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji.
Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya
tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.

Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di
kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah
Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat
bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh
para pengunjung.

Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300
tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan
masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan
dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.

"Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau
lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, " kata Sami Angawi, seorang
arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.

"Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini,
" sambungnya.

Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana
para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada
lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut
para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur
untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.

Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar
memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad
melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan
penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan
kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan
uang mengalahkan segala-galanya.

"Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat
sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh
lebih, lebih buruk lagi, " kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)

source link : http://swaramuslim.com/FOTO/more.php?id=5516_0_10_0_M

23 March 2007

Kaum Nabi Nuh

HARUN YAHYA

Kaum atau bangsa pertama yang dibinasakan secara massal oleh Allah adalah kaum Nabi Nuh. Allah memusnahkan mereka dengan mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan mereka. "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)." (Surat Al-A'raaf ayat 64).

Menurut Perjanjian Lama, kitab suci orang Yahudi dan Nasrani yang sudah tidak asli itu, banjir zaman Nabi Nuh itu melanda seluruh dunia: Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya perbuatan jahat. Dan ini menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia di bumi, dan ini menyedihkan hati-Nya. Dan Tuhan berkata, "Aku akan membinasakah manusia yang telah Kuciptakan dari permukaan bumi, kedua jenis yang ada, manusia dan binatang, dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang mereka telah mengecewakan-Ku yang telah menciptakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan. (Kejadian, 6: 5-8).

Namun menurut penyelidikan para ahli, banjir yang terjadi saat itu tidak melanda seluruh dunia, melainkan hanya terjadi di daerah Mesopotamia (kini termasuk wilayah Iraq), khususnya di daerah lembah antara sungai Eufrat dan sungai Tigris. Namun karena lembah itu demikian luasnya sehingga ketika terjadi hujan super lebat berhari-hari, meluaplah kedua sungai itu lalu airnya menenggelamkan lembah di antara dua sungai tersebut. Demikian banyak airnya sehingga lembah itu berubah seperti laut lalu menenggelamkan seluruh ummat Nabi Nuh yang ingkar di lembah itu.

Pada tahun 1922 sampai 1934 Leonard Woolley dari The British Museum dan University of Pensylvania mempimpin sebuah penggalian arkeologis di tengah padang pasir antara Baghdad dengan Teluk Persia. Di tempat yang diperkirakan dulunya pernah berdiri sebuah kota bernama Ur, mereka melakukan penggalian.

Dari permukaan tanah hingga lima meter ke bawah terdapat sebuah lapisan tanah yang berisi berbagai benda yang terbuat dari perunggu dan perak. Ini benda-benda peninggalan bangsa Sumeria yang diperkirakan hidup sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Mereka bangsa yang telah dapat membuat benda dari logam.

Di bawah lapisan pertama itu mereka menemukan sebuah lapisan kedua berisi deposit pasir dan tanah liat setebal 2,5 meter. Pada lapisan itu masih terdapat sisa-sisa hewan laut berukuran kecil.

Yang mengejutkan, di bawah lapisan pasir dan tanah liat itu terdapat lapisan ketiga berisi benda-benda rumahtangga yang terbuat dari tembikar. Tembikar itu dibuat oleh tangan manusia. Tidak ditemukan benda logam satu pun di lapisan itu. Diperkirakan benda-benda peninggalan masyarakat Sumeria kuno yang hidup di Zaman Batu.

Diperkirakan oleh para ahli, lapisan kedua itu adalah endapan lumpur akibat banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Banjir itu telah menenggelamkan masyarakat Sumeria kuno —yang kemungkinan besar mereka adalah kaum Nabi Nuh— lalu lumpur yang terbawa banjir itu menimbun sisa perabadan masyarakat tersebut. Berabad-abad, atau puluhan abad kemudian setelah banjir berlalu, barulah hadir kembali masyarakat baru di atas lapisan kedua itu, yakni masyarakat Sumeria 'baru' yang peradabannya jauh lebih maju daripada masyarakat Zaman Batu yang tertimbun lumpur itu.

Penyelidikan arkeologis di beberapa tempat mendapatkan keterangan, banjir melanda daerah yang memang sangat luas, yakni membentang 600 km dari utara ke selatan dan 160 km dari barat ke timur. Banjir itu telah menenggelamkan sedikitnya empat kota masyarakat Sumeria kuno, yakni Ur, Erech, Shuruppak dan Kish.

Terbukti, banjir itu tidak melanda seluruh dunia, tetapi hanya melanda wilayah yang didiami ummat Nabi Nuh. Daerah lain yang bukan wilayah ummat Nabi Nuh tidak terlanda banjir. Hasil penyelidikan para arkeolog tersebut dengan firman Allah dalam Al-Quran, bahwa Ia hanya membinasakan masyarakat suatu negeri yang telah diutus seorang Rasul kepada mereka, lalu mereka mengingkarinya. Negeri lain tidak. " Dan tidaklah Rabbmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman. (Surat Al-Qashash ayat59)

Dalam Al-Quran diriwayatkan, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk mengangkut masing-masing hewan sepasang (jantan dan betina) ke dalam bahteranya: Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Surat Hud ayat 40).

Pertanyaan yang mungkin muncul, apakah seluruh hewan di muka bumi ini dinaikkan ke perahu Nabi Nuh? Para ahli kitab dari kalangan Kristen menafsirkan, seluruh hewan yang ada di muka bumi, masing-masing sepasang, dinaikkan ke perahu Nabi Nuh. Sebab, seperti dikatakan di awal, dalam kitab mereka dikatakan banjir terjadi secara global. Jadi yang harus diselamatkan pun harus seluruh spesies makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.

Penafsiran seperti itu jelas membingungkan mereka sendiri. Pertama, pengikut Nabi Nuh sangat sedikit —karena kebanyakan mereka ingkar. Dengan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat rendah serta personil mereka yang sangat sedikit, bagaimana caranya mereka mengumpulkan ribuan atau ratusan ribu spesies makhluk hidup yang ada di muka bumi ini?

Berarti harus ada pengikut Nabi Nuh yang dikirim ke berbagai penjuru dunia, lalu membawa pulang ribuan spesies yang mereka temui dengan bahtera yang sangat besar. Ada pengikut Nabi Nuh yang dengan sebuah bahtera besar dikirim kutub utara dan selatan untuk membawa sepasang beruang kutub, sepasang burung pelikan, sepasang anjing laut dan berbagai hewan kutub lainnya, lalu semua itu dibawa pulang negeri mereka.

Juga harus ada satu ekspedisi bahtera yang dikirim ke benua Amerika untuk membawa sepasang bison, sepasang harimau, sepasang beruang, sepasang ular anaconda, sepasang lintah, sepasang ikan piranha, sepasang sapi, sepasang cheetah, sepasan kambing, sepasang burung nasar, sepasang serigala, sepasang kutu anjing, serta sepasang ribuan spesies hewan lainnya dari benua itu.

Berapa tahun yang mereka butuhkan untuk dapat mengumpulkan semua hewan itu? Berapa banyak makanan hewan yang harus mereka siapkan? Bagaimana mereka bisa membedakan kutu jantan dan kutu betina? Ada berapa ribu kandang yang harus mereka siapkan di bahtera agar para hewan itu tidak saling memangsa?

Setelah sekian bahtera itu kembali pulang, ribuan atau ratusan ribu spesies hewan dari seluruh penjuru dunia itu dimasukkan ke dalam satu bahtera Nabi Nuh. Bagaimana ratusan ribu spesies dari berbagai penjuru dunia bisa bertahan hidup terpisah dengan habitat alamiahnya hingga banjir surut? Apakah sementara itu siklus rantai makanan berhenti berputar? Tidak mungkin!

Berbagai pertanyaan itu tidak akan dapat dijawab dengan logis oleh mereka yang mendukung tafsiran banjir global pada zaman Nabi Nuh.

Adapun Al-Quran tidak menyebut banjir masa Nabi Nuh melanda seluruh dunia. Sebagaimana dijelaskan pada berbagai ayat Al-Quran, adzab Allah hanya ditimpakan kepada kaum yang zhalim yang mendustakan ajaran nabinya, tidak kepada kaum lain. Jadi adzabnya pun hanya bersifat lokal atau regional.

Karenanya hewan yang diangkut Nabi Nuh pun tidak berasal dari seluruh dunia, melainkan hanya hewan yang terdapat di wilayah itu, khususnya hewan yang biasa dipelihara dan diternakkan manusia, seperti sapi, kambing, kuda, unggas, unta dan sejenisnya. Hewan-hewan itulah yang dibutuhkan Nabi Nuh dan pengikutnya untuk menyangga kehidupan baru mereka pasca banjir besar

 
 

21 March 2007

Jauhilah Perbuatan yang Meresahkan

Dari An Nawas bin Sam'an radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi
wasalam, beliau bersabda: ''Kebajikan itu keluhuran akhlak sedangkan dosa
adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang
lain mengetahuinya'' (HR. Muslim)

Dan dari Wabishah bin Ma'bad radhiallahu anhu, ia berkata: ''Aku telah
datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, lalu beliau bersabda:
'Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?' Aku menjawab:
'Benar.' Beliau bersabda: 'Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah
apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah
apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang
memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.' ''(HR. Ahmad dan
Darimi, Hadits hasan)

Sabda beliau ''Kebajikan itu keluhuran akhlak'', maksudnya ialah bahwa
keluhuran akhlak adalah sebaik-baik kebajikan, sebagaimana sabda beliau
''Haji adalah Arafah''. Adapun kebajikan adalah perbuatan yang menjadikan
pelakunya menjadi baik, selalu berupaya mengikuti orang-orang yang berbuat
baik, dan taat kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi.

Yang dimaksud dengan berakhlak baik yaitu jujur dalam bermuamalah, santun
dalam berusaha, adil dalam hukum, bersungguh-sungguh dalam berbuat
kebajikan, dan beberapa sifat orang-orang mukmin yang Allah sebutkan di
dalam surah Al-Anfal:

''Orang-orang mukmin yaitu orang-orang yang ketika nama Allah disebut, hati
mereka gemetar, dan ketika ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, iman
mereka bertambah, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu)
mereka yang melaksanakan shalat dan mengeluarkan infaq dari sebagian harta
yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang
benar-benar mukmin.'' (Al Anfaal: 2-4).

Dan firman-Nya:

''Orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang
mengembara (di jalan Allah), yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat
ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar, serta yang memelihara hukum-hukum
Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.'' (At Taubah: 112).

Dan firman-Nya:

''Sungguh beruntung orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyu'
dalam shalatnya, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau terhadap budak
yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barang siapa mencari selain dari itu, maka mereka itulah orang-orang yang
melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang
diberikan kepadanya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara
shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) mewarisi
(surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya.'' (Al-Mukminun: 1-10).

Dan firman-Nya:

''Hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di atas
bumi dengan rasa rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka menanggapinya dengan kata-kata yang baik.'' (Al-Furqan: 63).

Barang siapa yang merasa belum jelas mengenai sifat dirinya, maka hendaklah
bercermin pada ayat-ayat tersebut. Dengan adanya semua sifat itu pada
dirinya pertanda bahwa dia berakhlak baik. Sebaliknya, jika semuanya tidak
ada pada dirinya pertanda dia berakhlak buruk. Bila terdapat sebagian sjaa,
maka hendaklah ia bersungguh-sungguh memelihara yang ada itu dan
mengupayakan yang belum ada pada dirinya. Janganlah seseorang menganggap
bahwa akhlak baik itu hanyalah bersifat lemah lembut kepada orang lain dan
meninggalkan perbuatan-perbuatan keji dan doa saja, sebaliknya orang yang
tidak seperti itu dianggap rusak akhlaknya. Akan tetapi, yang disebut akhlak
baik yaitu seperti yang telah kami sebutkan mengenai sifat-sifat orang
mukmin dan perilaku mereka. Termasuk akhlak baik adalah sabar menghadapi
gangguan dalam menjalankan agama.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ada seorang Arab
gunung menarik selendang sutera Nabi shalallahu alaihi wa salam sehingga
membekas pada bahu beliau, dan orang itu berkata: ''Wahai Muhammad,
serahkanlah kepadaku harta Allah yang ada di tanganmu.'' Kemudian Nabi
shalallahu alaihi wasalam menoleh kepada orang itu, beliau kemudian tertawa
dan menyuruh untuk memberi kepada orang itu.

Sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam ''dosa adalah apa-apa yang dirimu
merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya''
maksudnya adalah perbuatan yang ditolak oleh hati nurani. Ini merupakan
suatu pedoman untuk membedakan antara dosa dan kebaikan. Dosa menimbulkan
keraguan dalam hati dan tidak senang jika orang lain mengetahuinya. Yang
dimaksud dengan ''orang lain'' di sini adalah orang-orang baik, bukan
orang-orang yang telah rusak akhlaknya. Demikianlah yang disebut dosa,
karena itu tinggalkanlah perbuatan tersebut. Wallahu a'lam


Sumber: Syarah Hadits Arba'in An Nawawi, Ibnu Daqiq Al-'Ied, Media Hidayah